13 Tahun Tsunami Aceh

Menyaksikan Mayat-mayat Bergelimpangan - Kisah Jurnalis Serambinews.com Dikejar Tsunami (3-Habis)

Gadis itu terus berusaha untuk keluar dari puing-puing. Nahas, gelombang laut yang datang berikutnya memupuskan harapannya, ia hilang digulung ombak.

Penulis: AnsariHasyim | Editor: Safriadi Syahbuddin
SERAMBINEWS.COM/BEDU SAINI
Jalan T Panglima Polem Peunayong, Banda Aceh, 26 Desember 2004. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Saya berusaha menenangkan diri dan berpikir bagaimana jika seandainya air laut benar-benar menyentuh lantai dua masjid. Akhirnya timbul ide. Saya mengajak teman yang senasib, namanya Ustaz Mulyadi yang juga ketua remaja masjid.

Kami mencari tangga, dan dengan tangga tersebut, kami mengevakuasi semua warga di lantai dua naik ke atap masjid, dekat dengan kubah. Kami dahulukan anak-anak dan perempuan baru kemudian laki-laki. Sekitar 50 orang berhasil kami evakuasi naik ke atap masjid.

Selebihnya memilih bertahan di lantai dua. Saya dan orang-orang kemudian duduk mengitari pinggiran kubah di puncak masjid, saya melihat sejauh mata memandang wilayah pesisir Banda Aceh seperti Gampong Deyah Raya di Syiah Kuala, Alue Naga, Tibang, Lampulo, Lamdingin, Lingke,  Ule Lheue, Gampong Jawa dan wilayah pesisir Baet, Kajhu, semuanya sudah bagai lautan.

Saya tidak bisa membedakan lagi mana batas wilayah. Saya juga menyaksikan beberapa kali air laut surut lalu disusul gelombang laut yang lebih tinggi menerjang daratan.

Cerita yang lebih miris lagi, dari atas masjid saya melihat ada seorang gadis terjebak dalam puing-puing material bangunan.

Tubuhnya tak berdaya. Tapi ia terus berusaha untuk keluar dari puing-puing. Tapi nahas, gelombang laut yang datang berikutnya memupuskan harapannya. Gadis itu hilang digulung ombak yang datang lebih tinggi dari dua gelombang sebelumnya.

(Baca: Ini 10 Fakta Presenter Cantik Najwa Shihab, Nomor 9 Tsunami Aceh)

Sedih dan merasa bersalah. Saya tak punya kuasa untuk menolongnya. Sekitar empat jam kami berada di atas puncak masjid dan dengan mata telanjang kami menyaksikan detik demi detik peristiwa yang maha dahsyat itu terjadi dari atas ketinggian atap masjid.

Saat itu saya sempat berpikir, kalau seandainya saja masjid ini runtuh, saya memutuskan untuk lebih dulu melompat. Tapi akhirnya saya sadar, ide itu sebuah kekonyolan saya berpikir.

Di bawah air yang menutupinya, ternyata banyak puing bangunan, seng dan benda tajam lainnya yang bisa melukai saya. Untung saja saya tidak jadi melompat.

Setelah lima jam berada di atas masjid, air yang menggenangi desa 4-6 meter kembali surut dengan menyedot semua puing-puing kembali ke laut, dengan begitu cepat.

Saat kami turun ke lantai dua, ada seorang lelaki tua berjubah putih, yang sebagian badannya berlumur lumpur, tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami. Beliau adalah Tgk H Amiruddin KF. Beliau mengumandangkan azan zuhur.

(Baca: Masjid Yang Kuat Dan Kokoh Meski Di Bom Atom Dan Di Hantam Tsunami)

(Baca: 12 Provinsi Ditetapkan Prioritas Rawan Tsunami)

(Baca: Ini 8 Fakta PLTD Apung, Kapal Berbobot 2,6 Ribu Ton Dihempas Tsunami, Nomor 4 Sangat Mengejutkan)

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved