Ini 8 Perkara untuk Modal Hidup di Dunia, Hatim Al-A’sham Perlu 30 Tahun untuk Mempelajarinya
Karena itu aku ingin menjadikan amal kebaikan yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka semua amal kebaikan akan ikut bersamaku.
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM - Pimpinan LPI Dayah Madani Al-Aziziyah, Lampeuneureut, Aceh Besar, Tgk H Muhammad Hatta Lc, M.Ed menyampaikan delapan perkara untuk modal hidup di dunia.
“Ini merupakan dialog seorang guru yaitu Syaqiq al-Balkhi dengan muridnya, Hatim al-A’sham,” ungkap Tgk Muhammad Hatta saat menyampaikan materi pada pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (24/1/2018) malam lalu.
(Baca: Orang Cerdas Beramal untuk Bekal Setelah Mati)
Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim al-A’sham, “Berapa lama kamu telah belajar kepadaku?”
Hatim menjawab: “Sudah selama 30 tahun lebih”.
Syaqiq bertanya lagi, “Apa yang kamu pelajari dariku selama itu?”
Hatim menjawab, “Ada delapan perkara.”
Syaqiq berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku habiskan umurku bersamamu selama itu dan kamu tidak belajar kecuali delapan perkara?!”
Hatim menjawab, “Guru, aku tidak belajar selainnya. Sungguh aku tidak bohong.”
Syaqiq kemudian berkata lagi, “Coba jelaskan kepadaku apa yang sudah kamu pelajari”.
(Baca: Islam Haramkan Transgender, Ini Dalilnya)
Hatim menjawab.
Pertama, “Ketika aku memperhatikan makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, tetapi ketika dia sudah sampai di kuburnya, kekasihnya justru berpaling darinya. Ia pun merasa kecewa karena kekasihnya tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan amal kebaikan yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka semua amal kebaikan akan ikut bersamaku.”
Kedua, “Saya merenungkan firman Allah dalam Surat An-Nazi’at ayat 40-41, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).
Maka saya berusaha keras untuk meneguhkan diri dalam menundukkan hawa nafsu, hingga nafsu saya mampu tegar atau tenang (tidak goyah) di atas ketaatan kepada Allah.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tgk-muhammad-hatta-lc_20180127_111343.jpg)