Opini
Memahami Kebangkitan Alumni al-Azhar
HAMPIR 20 tahun lalu, Mona Abaza menulis buku Pendidikan Islam dan Pergeseran Orientasi: Studi Kasus Alumni Al-Azhar
Oleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad
HAMPIR 20 tahun lalu, Mona Abaza menulis buku Pendidikan Islam dan Pergeseran Orientasi: Studi Kasus Alumni Al-Azhar (1999) tentang pengaruh alumni al-Azhar di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pada era pasca-kemerdekaan RI, pengaruh alumni al-Azhar sangat dominan sekali, terutama di lingkungan pemerintahan dan ormas-ormas Islam. Setelah itu, hampir tidak ada kajian tentang pengaruh alumni al-Azhar di Nusantara. Hal ini mungkin disebabkan adanya dominasi oleh alumni-alumni dari non al-Azhar. Untuk menyambung kajian Mona Abaza, artikel ini berusaha untuk memaknai apakah sudah wujud kebangkitan alumni al-Azhar abad ke-21 di Indonesia.
Sejak 2015, saya telah prediksi akan kebangkitan alumni al-Azhar di Indonesia, tidak terkecuali di Aceh. Disadari atau tidak, kehadiran generasi muda Muslim yang pernah studi di al-Azhar telah menghiasi lembaran sejarah kontemporer Muslim di Indonesia. Mereka kembali dari al-Azhar bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai pendakwah, birokrat, pebisnis, tokoh politik, dan berbagai profesi lainnya. Saat ini, hampir semua lini aktivitas keumatan diisi oleh alumni al-Azhar.
Kekuatan dakwah
Setting kehidupan al-Azhar dilukiskan secara baik oleh Habiburrahman El Shirazy melalui sosok Dr Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Alumni al-Azhar ini mampu menghipnotis pembaca; bagaimana sesungguhnya Islam dipraktikkan melalui karakter Dr Fahri. Sosok Dr Fahri pun diangkat ke layar lebar. Kekuatan dakwah melalui ilmu yang sangat dalam juga diperlihatkan oleh Ustaz Abdus Shomad (UAS). Begitu pula kehadiran Tuan Guru Bajang (TGB) yang mungkin akan maju di dalam Pilpres 2019, yang juga merupakan alumni dari al-Azhar, Kairo, Mesir.
Tiga sosok yang semuanya lahir pada era 1970-an itu, telah berhasil mengambil hati umat, khususnya generasi muda Islam di Indonesia. Mareka tidak hidup pada era Orde Lama dan sama sekali dalam masa studi ketika Orde Baru berlangsung. Kiprah mereka dimulai sejak 2010-an, persis ketika Muslim Indonesia merasa mulai kehilangan sosok tokoh kharismatik.
Kepulangan mereka ke Tanah Air melalui kekuatan ilmu dan nilai plus dalam bidang dakwah, politik, dan bisnis telah memberikan pengaruh bagi Muslim di Indonesia. Beberapa alumni saat ini pun telah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga membuka jasa travel untuk haji dan umrah. Gelombang ini sesungguhnya telah menghadirkan aktor-aktor baru dalam masyarakat. Mereka independen dalam semangat kekeluargaan sebagai sesama alumni al-Azhar.
Adapun di Aceh, alumni al-Azhar telah berhasil merengkuh hati kelompok dayah. Dalam beberapa momen terlihat; bagaimana kemesraan alumni al-Azhar dengan pimpinan dayah di Aceh. Strategi menghadirkan tokoh-tokoh yang mampu mempererat hati umat, telah memberikan dampak yang cukup signifikan bagi para santri di dayah-dayah Aceh dalam memandang al-Azhar. Tidak hanya itu, para alumni al-Azhar menjadi guru di pesantren-pesantren terpadu atau modern. Hal serupa juga terjadi manakala beberapa alumni dayah Aceh yang menempuh studi al-Azhar.
Fenomena di atas dapat dikatakan sebagai kebangkitan alumni al-Azhar. Hanya saja, jika energi kebangkitan ini diarahkan pada penguatan politik umat Islam, maka beberapa catatan penting perlu disajikan. Kendati awalnya, kebangkitan alumni al-Azhar ini sama sekali tidak berhadapan langsung dengan persoalan politik bangsa. Kehadiran idola baru Muslim dari alumni al-Azhar dapat dikaitkan dengan pengalaman politik Islam di Indonesia. Karena itu, jejaring alumni al-Azhar akan menjadi pemain baru dalam sejarah politik Islam di negara ini.
Kehadiran mereka telah berusaha untuk memersatukan hati umat. Kekuatan jejaring alumni al-Azhar yang sampai ke akar rumput telah dirasakan manfaatnya oleh umat Islam. Jejaring ini bukan sebagai partai politik, tapi lebih bersifat persaudaraan antara sesama alumni. Mereka juga bekerja dalam filosofi “adik asuh” bagi alumni yang baru selesai dari Kairo. Hal ini tidak berbeda dengan kekuatan alumni-alumni perguruan tinggi lainnya di Indonesia yang tampil di puncak kepemimpinan bangsa ini, seperti alumni UGM, UI, IPB, dan ITB begitu kuat di dalam menyetir arah sejarah bangsa ini.
Pengulangan sejarah
Ketika jejaring alumni al-Azhar berusaha ke arah tersebut, maka kondisi ini merupakan pengulangan dari sejarah masa lalu umat Islam. Sejarah mencatat bahwa jejaring ilmuwan Timur Tengah menjadi motor utama dalam pergerakan pembaruan Islam di Nusantara sejak abad ke-17 M.
Untuk itu, catatan penting yang perlu ditegaskan adalah: Pertama, kelebihan kekuatan alumni adalah persahabatan (brotherhood). Saat ini, kekuatan alumni al-Azhar terletak pada aspek ini. Mereka bersatu, saling membantu menaikkan tokoh-tokoh yang diterima umat agar terus dapat menghiasi sejarah bangsa ini. Kesamaan nasib dan guru saat berada di al-Azhar menjadi kunci utama di dalam mengikat persaudaraan ini dalam satu kekuatan baru di Indonesia. Dalam hal ini, kekuatan persaudaraan alumni al-Azhar telah membuktikan melalui sosok UAS dan TGB. Kedua tokoh ini telah diterima luas oleh umat Islam di Nusantara.
Kedua, konsep yang hendak ditawarkan ketika mereka berada di posisi puncak, terutama saat mendapatkan jabatan strategis. Dalam hal ini, dapur pemikiran alumni al-Azhar harus selalu sigap dalam memahami setiap perubahan zaman. Jika kesempatan itu telah datang, maka para pemikir dari alumni al-Azhar harus secepatnya mengisi melalui konsep-konsep yang dapat dituangkan dalam kebijakan strategis. Sebagai contoh, pengalaman alumni Berkeley dalam persoalan ekonomi, McGill dalam bidang studi Islam, dan IIUM dalam Ekonomi Islam, di mana mereka mengimplementasi ilmu-ilmu yang mereka terima selama belajar di kampus masing-masing.
Ketiga, alumni al-Azhar mulai saat ini harus berani merangkul siapapun yang sejalan dengan misi yang hendak diembankan di masa yang akan datang. Jejaring alumi ini harus terbuka pada siapapun. Pengalaman bermesraan dengan kelompok dayah dan birokrat di Aceh membuktikan bahwa alumni al-Azhar dekat dengan berbagai kelompok yang berpikir demi umat. Biasanya, pengaruh kekuatan alumni akan berkurang manakala sudah ada pola pikir yang tertutup.
Keempat, dalam setiap pengalaman keorganisasian, ketika seseorang tokoh yang “diorangkan” telah berhasil, sering muncul hasrat dari kelompok tersebut untuk sukses juga seperti orang itu. Pola ini sering menyebabkan kerapuhan dalam semangat persaudaraan sesama alumni nantinya. Biasanya yang tidak puas cenderung tidak dapat berbuat banyak, karena organisasi alumni bersifat kekeluargaan, bukan seperti parpol. Sebaliknya, jika pola kerja jejaring alumni bekerja seperti parpol, diprediksi daya tawar mereka akan lumpuh dengan segera di hadapan kepentingan umat.
Akhirnya, artikel ini ingin menyemat peniti sebagai kancing baju sejarah umat Islam pada jejaring alumni al-Azhar di Indonesia. Sebagai seorang yang belum pernah ke al-Azhar, opini ini dapatlah dianggap sebagai komentar seorang karib yang berada di luar “perkarangan rumah” jejaring alumni al-Azhar. Semoga tulisan ini tidak hanya sampai ke depan halaman perkarangan “rumah alumni” al-Azhar, tetapi juga sampai pada “dapur,” bahkan ke dalam “ruang bawah tanah istana kepentingan” yang hendak dibangun di Indonesia.
* Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Ph.D., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, sekaligus pengarang buku Masa Depan Dunia (2018). Email: abah.shatilla@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mahasiswa-aceh-raih-cumlaude-di-universitas-al-azhar_20180107_225658.jpg)