Puisi
Kau Terhenti di Persimpangan Jalan
Kau bayangkan kuburan dan kegelapan terbentang di depanmu, menyulut ketakutan tanpa akhir. Tapi kau ingin bangkit dengan seribu daya
Sajak-sajak |Mahdi Idris
Buat: Arafat Nur
Kau bayangkan kuburan dan kegelapan terbentang di depanmu, menyulut ketakutan tanpa akhir. Tapi kau ingin bangkit dengan seribu daya yang telah kau persiapkan. Menerjang ketakutan itu, membuang ke dunia terjauh.
Kau terhenti di persimpangan jalan, tapi langkahmu terus menuju gugusan kehidupan yang baru. Mencari yang lenyap, menggapai mimpi-mimpi, menjauhi ketakutan-ketakutan dan kuburan yang terlalu dini.
Kau terhenti di persimpangan jalan, ingin menata kehidupan baru, cinta yang baru dan serba kebaruan dalam hidupmu. Kelak, kau bisa mengubah kegelapan menjadi cahaya.
Kau terhenti di persimpangan jalan!
Kau telah membawa segulungan kertas buram, yang menyita hidupmu menjadi sesuatu yang terabaikan. Lalu langkahmu mencari cinta di tengah savana. Mengeratnya menjadi air, membawamu ke muara.
Kau terhenti di persimpangan jalan! Cinta tak harus tergadaikan pada kesia-sian, katamu, seraya memandangi langit kelam. Hujan tak kunjung turun.
(Pondok Kates, 21 Maret 2018)
Kau Terhenti di Pusaran Gelombang
Kau turun dari gunung nestapa, menelusuri jejak kelam lembah, menyeberangi sungai, menuju muara terdalam. Di situ kau temukan cangkang tiram yang mejanjikan mutiara; cahayanya menyilaukan mata.
Kau melautkan diri dalam seretan ombak musim barat, tubuhmu terlempar sauh jauh dari dermaga. Kau berenang ke tepian, menyucikan tubuh dari sekerat pasir yang melumuri tubuhmu.
Kau berdiri di atas geladak sebuah kapal, meneriakkan diri sebagai pelayar, mengarungi samudera luas. Lalu waktu mendekapmu, membawa benang-benang kusut yang siap kau pintal kembali. Tak ada angin laut yang menghadang, tapi kapal terobek layar dan terhenti di pusaran gelombang.
Di laut itu, kau khitbah buih yang berserak di atas geladak, menyimpannya dalam sekantung air mata, lantas kau bawa ke dermaga. Meneriakkan siul angin yang menampar wajahmu dalam gelimang ragu.
Kau kembali ke laut, terhenti di pusaran gelombang. Menatap langit muram, namun hujan tak pernah turun selama pelayaran.