Ramadhan Mubarak
Musibah dan Ramadhan
SEDIKIT sedikit aneh ketika menyandingkan dua kata yang agak bertolak belakang dan kemudian membentuk satu judul
Oleh Iskandar Usman Al-Farlaky, SHI Ketua Fraksi Partai Aceh DPRA. Email: is.farlaky@gmail.com
SEDIKIT aneh ketika menyandingkan dua kata yang agak bertolak belakang dan kemudian membentuk satu judul seperti pada tulisan ini. Namun itulah entitas sarat makna yang seharusnya kita telusuri, kita maknai dan pahami dengan baik, sebaik nurani di bulan suci ini. Ramadhan identik sebagai bulan rahmah, bulan magfirah, bulan kasih sayang, cinta ampunan, dan terjauhinya kita dari api neraka.
Namun sering sekali makna-makna kasih sayang Allah tersebut terdistorsi oleh nafsu kita yang kasat mata dalam menilai dan menerjemahkan bahwa kasih sayang Allah Swt harus selalu berupa nikmat, karunia, rezeki yang melimpah, umur panjang, kesehatan dan lain sebagainya. Padahal, terkadang musibah juga merupakan bentuk lain dari manifestasi kecintaan Allah Swt kepada kita para hamba-Nya.
Masih segar dalam ingatan kita bahwa beberapa waktu lalu di pesisir timur bumi Aceh kembali ditimpa musibah dan nestapa. Terjadinya ledakan sumur minyak pada 25 April 2018 di Dusun Bhakti, Gampong Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, di mana 28 warga meninggal dunia dan 30 lainnya luka-luka serta masih ada yang dirawat di rumah sakit sampai saat ini.
Korban merupakan warga setempat, baik terdiri dari anak anak, remaja dan dewasa. Musibah tersebut juga mengakibatkan beberapa rumah warga terbakar. Tentunya bagi keluarga yang ditinggalkan serta masyarakat setempat kepiluan itu mengikuti mereka dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini.
Ada banyak cerita yang saya dengar dan saya saksikan dengan mata kepala sendiri pascaperistiwa memilukan sekaligus mengejutkan itu. Satu di antaranya adalah satu keluarga yang meninggal dunia dalam musibah tersebut. Selang beberapa hari ibu dan sang anak yang mulai menginjak usia remaja 12 tahun, juga meninggal dunia.
Jika kita telusuri, tentunya masih ada banyak musibah lainnya yang kita dapati mewarnai kanvas Ramadhan tahun ini. Secara kasat mata, musibah-musibah tersebut terlihat oleh kita sebagai kepedihan yang luar biasa bagi para korban dan warga yang menghadapinya, tapi dalam perspektif dan pandangan Allah Swt, hal ini bisa jadi bermakna lain.
Kejadian tidak disukai
Dalam term Islam, kata musibah berasal dari bahasa Arab, yang berarti setiap kejadian yang tidak disukai. Dalam satu hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda dengan menyebutkan sejumlah jenis musibah, antara lain rasa lelah, sakit, resah, sedih, derita, galau, hingga tertusuk sebuah duri sekali pun.
Kata musibah di dalam Alquran disebut secara eksplisit sebanyak sepuluh kali, yaitu (QS. al-Baqarah: 156, QS. Ali ‘Imraan: 165, QS. an-Nisaa: 62 dan 72, QS. al-Maidah: 106, QS. at-Taubah: 50, QS. al-Qashash: 47, QS. al-Hadid: 22, QS. asy-Syuura: 30, dan QS. at-Taghabun: 11). Sedangkan secara implisit sangat banyak sekali.
Menurut Ahli tafsir Muhammad Husin Taba taba’i, dalam tafsirnya al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendaki. Menurut Prof Quraish Shihab, musibah pada mulanya berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”.
Memang, kata musibah kerap berkonotasi buruk, tetapi boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu, sebenarnya baik. Alquran menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk. Allah Swt berfirman, “...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).
Hakikat musibah ada tiga macam: Pertama, musibah sebagai ujian, yaitu musibah yang menimpa orang-orang beriman yang saleh. Musibah tersebut untuk menguji iman dan keyakinannya kepada Allah Swt. Jika dia hadapi tetap dengan syukur dan sabar, maka ujian tersebut akan menjadi pensuci diri dan pengangkat derajatnya di sisi Allah Swt.
Setiap orang beriman pasti akan diuji oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. al-’Ankabut: 2).
Kedua, musibah sebagai peringatan, yaitu musibah yang menimpa orang-orang baik, tapi terkadang masih suka lalai. Musibah tersebut sebagai peringatan agar dia tidak lagi lalai dan kembali ke jalan yang ke jalan yang benar, sebagaimana firman-Nya, “...supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum: 41).
Ketiga, musibah sebagai azab, yaitu musibah yang menimpa orang-orang durhaka seperti orang kafir, musyrik, murtad, fasiq, munafiq, zalim dan ahli maksiat. Musibah tersebut adalah siksa yang didahulukan di dunia, dan azab akhirat yang disiapkan jauh lebih pedih lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/iskandar-usman-al-farlaky-shi_20180604_101418.jpg)