Ramadhan Mubarak

Musibah dan Ramadhan

SEDIKIT sedikit aneh ketika menyandingkan dua kata yang agak bertolak belakang dan kemudian membentuk satu judul

Musibah dan Ramadhan
Iskandar Usman Al-Farlaky, SHI

Memang, kata musibah kerap berkonotasi buruk, tetapi boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu, sebenarnya baik. Alquran menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk. Allah Swt berfirman, “...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).

Hakikat musibah ada tiga macam: Pertama, musibah sebagai ujian, yaitu musibah yang menimpa orang-orang beriman yang saleh. Musibah tersebut untuk menguji iman dan keyakinannya kepada Allah Swt. Jika dia hadapi tetap dengan syukur dan sabar, maka ujian tersebut akan menjadi pensuci diri dan pengangkat derajatnya di sisi Allah Swt.

Setiap orang beriman pasti akan diuji oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. al-’Ankabut: 2).

Kedua, musibah sebagai peringatan, yaitu musibah yang menimpa orang-orang baik, tapi terkadang masih suka lalai. Musibah tersebut sebagai peringatan agar dia tidak lagi lalai dan kembali ke jalan yang ke jalan yang benar, sebagaimana firman-Nya, “...supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum: 41).

Ketiga, musibah sebagai azab, yaitu musibah yang menimpa orang-orang durhaka seperti orang kafir, musyrik, murtad, fasiq, munafiq, zalim dan ahli maksiat. Musibah tersebut adalah siksa yang didahulukan di dunia, dan azab akhirat yang disiapkan jauh lebih pedih lagi.

Allah Swt berfirman, “Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui.” (QS. az-Zumar: 26)

Kita dapat memilih dalam bersikap terhadap jenis musibah yang menimpa: Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.

Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada Allah Swt. Dan, ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang seperti ini biasanya selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah Swt menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Pribadi luar biasa
Semoga momentum Ramadhan tahun ini dapat mengantarkan kita menjadi pribadi-pribadi luar biasa yang menggerakkan peradaban bangsa dan agama ini menjadi patron kebaikan, bangkit dari keterpurukan, dan menuai hikmah atas berbagai musibah dan kepedihan yang telah kita lewati.

Kebaikan-kebaikan yang kita tabur hari ini kelak akan menjadi saksi dan penolong kita di hadapan Allah, dan setiap kebaikan tersebut pasti akan menarik kebaikan lainnya. Oleh karena itulah kita mesti mencontohkannya, memulainya dan membudayakannya dengan segenap ketulusan dan keikhlasan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved