Opini
Ekonomi dan Krisis Identitas
SAAT ini, begitu kita masuk (login) di media sosial, langsung disambut oleh berbagai status cacian dan makian
Oleh Cut Muftia Keumala
SAAT ini, begitu kita masuk (login) di media sosial, langsung disambut oleh berbagai status cacian dan makian. Tak ubahnya ibarat kita masuk ke sebuah kampung atau kota kemudian melihat dan mendengar orang-orang mengupat, mencaci maki dan memfitnah antarsesama. Bagi sebagian orang, caci-maki mungkin sudah menjadi kultur dan bahkan dianggap sebagai hiburan dan candaan biasa. Namun bagi sebagian lain, ini adalah perilaku yang sangat menyimpang dari budaya dan agama mereka.
Perilaku-perilaku seperti inilah yang kadang membuat beberapa orang enggan mengakses sosial media, bahkan ada yang menonaktifkannya (deactivate) agar terhindar dari pemandangan status yang tidak edukatif dan beretika. Juga beberapa orang beralasan karena tidak ingin ikut-ikutan berdosa menyaksikan fitnah-fitnah di sana, makanya memutuskan untuk enyah sementara. Bagi sebagian lain tetap bertahan berusaha memberikan pemahaman dan pencerahan bagi si pencaci, meskipun akhirnya jadi korban cacian juga.
Persoalan serius
Masalah identitas saat ini menjadi persoalan yang sangat serius di negara kita, terutama di Aceh. Identitas masyarakat semakin kabur dan tidak jelas. Banyak masyarakat yang berubah sikap dari yang sejatinya adalah masyarakat dengan kultur baik dan santun di dunia nyata, tiba-tiba berubah menjadi kasar dalam menanggapi berbagai isu di dunia maya. Dengan hanya bermodalkan jari-jemari saja, dengan mudahnya orang-orang mencaci maki sesama sendiri, dengki, mengadu domba di sosial media, memfitnah, bahkan sampai menjadi penjilat penguasa yang berani membolak-balikkan fakta.
Krisis identitas ini membuat orang-orang berani untuk mengatakan yang benar menjadi salah, atau yang salah menjadi benar, semua itu dilakukan untuk mengikuti selera politik dan keinginan penguasa. Meskipun dari hati kecilnya menolak dan memborontak untuk melakukannya, tapi apa daya,semua itu terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Krisis identitas seringkali disebabkan oleh faktor lemahnya ekonomi masyarakat, apalagi disponsori oleh politik dan dibumbui oleh agama, juga didukung oleh keterbelakangan pendidikan masyarakatnya. Di sinilah muara dari perubahan perilaku ini terjadi. James A Piazza (2011) dalam artikel jurnalnya menyebutkan bahwa faktor buruknya ekonomi terutama kemiskinan sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku masyarakat menjadi negatif, baik dalam bersikap maupun bertindak.
Persoalan ekonomi membuat orang-orang dengan mudahnya melontarkan fitnah dan caciandi media sosial. Padahal perilaku seperti ini sangatlah membahayakan kebersatuan dalam keberagaman kita, bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan dalam keberagaman, menyulut pertikaian antarsesama anak bangsa, antar satu kampung, komunitas, agama, suku bahkan antar satu keluarga sendiri.
Berbagai konflik horizontal masyarakat punseringkali bermuara dari problematikaketidakadilan ekonomi bukan karena persoalan suku, ras dan agama. Masalah perut ini sering kali membuat manusia tidak puas dan berontak sampai mengkambing-hitamkan apapun yang ada disekelilingnya. Masalah perut juga melahirkan tindakan mengambil hak orang lain yang bukan haknya, melahirkan perilaku nepotisme yang bertujuan menyelamatkan kebutuhan keluarga dan sanak kerabatnya dengan cara-cara yang curang. Masalah ekonomi ini juga seringkali meretakkan hubungan keluarga karena masalah harta.
Faktor ekonomi juga seringkali membuat kegaduhan, rakyat gaduh karena tidak punya uang sedangkan penguasa gaduh karena ingin ‘menyelamatkan’ uang. Masalah ekonomi juga tidak mengenal siapa pun yang lemah imannya, buktinyadana pengadaan Kitab suci saja tetap menggiurkan untuk ditilep. Kejahatan karena faktor ekonomi ini pun tidak mengenal ruang dan waktu. Bisa saja terjadi di rumah ibadah seperti penggelapan dana pembangunan yang berasal dari ummat atau dari penguasa yang bahkan melalui tahap deal-deal uang kopi (balas jasa). Nauzubillah.
Problematika ini sangat relevan dengan hadis yang diriwayatkan Abu Na’im bahwa kemiskinan itu sangat dekat dengan kekufuran. Maka, orang-orang yang kurang mapan dalam ekonomi harus berhati-hati terhadap godaan yang kadangkala terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan hidup sehari-hari. Karena faktor kemiskinan inilah, orang-orang bisa membunuh, bahkan antarkeluarga sendiri dalam memperebutkan harta, menjadi pencuri, perampok, atau bahkan kurir narkoba yang gajinya tidak seberapa dengan hukuman yang diterimanya.
Meskipun demikian, masalah ekonomi ini bukan hanya faktor kemiskinan semata. Banyak orang-orang yang terlihat miskin secara materi, namun tetap merasa cukup dan bersyukur. Bahkan dengan keterbatasan, mereka tetap berusahamembantu orang-orang yang lebih membutuhkan lagi di sekelilingnya. Mereka inilah orang-orang yang hidupnya bahagia, kaya hati dan spiritualitas.
Miskin jiwa
Kemiskinan itu bisa berbentuk fisik dan spiritualitas. Orang-orang yang kaya secara fisik namun miskin jiwa, seringkali merasa tidak cukup dan tamak, maka lahirlah koruptor yang menilep uang rakyat meskipun mereka telah mendapatkan berbagai fasilitas dan gaji dari negara yang cukup besar. Karena dorongan sifat tamak dan serakah, tanpa merasa berdosa berani mengambil barang negara yang seharusnya didistribusikan kepada rakyat.
Fenomena ini relevan dengan ungkapan “Miskin ilmu alias dangkal, miskin kultural alias kurang berbudaya. Miskin spiritual sampai takut miskin harta, sampai menghalalkan korupsi dan berani malu” (David Barsamian, 2008, hal 377). Ketamakan dan kerakusan manusia ini juga sesuai sabda Rasaulullah saw, “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Ibnu Abbas).
Krisis identitas karena faktor ekonomi ini harus segera diakhiri dengan kesadaran penguasa agar tidak menjadikan rakyat sebagai boneka untuk memenuhi nafsu mereka. Pemerintah harus memberikan keadilan bagi rakyat, terutama keadilan ekonomi, pendidikan dan hukum, bukan keadilan bagi kelompok dan keluarganya sendiri. Masyarakat juga harus mapan secara ekonomi, mapan bukan berarti secara material saja, tetapi juga secara spiritualitas dan hati. Mapan material saja tanpa spiritualitas akan terus membuat kita merasa tidak cukup dan akhirnya mengambil hak orang lain yang bukan haknya.
Jangan sampai hanya karena masalah perut saja dapat mengakibatkan kita saling caci-mencaci sesama atausaling memfitnah yang bisamemicu pertikaian sampai hilangnya nyawa manusia. Menasihati itu penting, namun tidak boleh dilakukan dengan caci-maki atau merasa benar sendiri, apalagi tanpa solusi. Semoga kita bisa kembali ke identitas diri kita yang sebenarnya, kembali menjadi manusia yang beragama, berbudaya, sopan dan santun. Bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Nah!
* Cut Muftia Keumala, alumnus Pascasarja UIN Ar-Raniry, Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Lhokseumawe dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Nasional Lhokseumawe. Email: cut.muftia@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/media-sosial_20161117_232445.jpg)