Senin, 20 April 2026

KUPI BEUNGOH

Kisah Habib Teupin Wan, Ulama Pejuang yang Terlupakan

Pertempuran di Samalanga merupakan pertempuran terdahsyat lainnya dan di sana juga banyak terdapat syuhada perang Aceh

Editor: Muhammad Hadi
Habib Teupin Wan merupakan nama laqab dari Habib Abdurrahman bin Hasan Asseqaf yang berasal dari Teupin Wan di Mukim XXVI 

Oleh Sayed Murtadha*

Habib Teupin Wan merupakan nama laqab dari Habib Abdurrahman bin Hasan Asseqaf yang berasal dari Teupin Wan di Mukim XXVI.

Sosok ulama pejuang yang luput dari catatan sejarah Aceh, walaupun beliau telah berjuang selama 38 tahun menjaga tanah Aceh dari tangan asing tanpa mengenal kata menyerah.

Tidak banyak peneliti lokal yang melakukan kajian tentang sejarah hidup beliau, padahal beberapa penulis asing telah menuliskan sedikit banyak riwayat hidup beliau, di antaranya H.C.Zentgraff dalam bab “seorang keramat.”

Dijelaskan H.C.Zentgraff bahwa Habib Teupin Wan merupakan sosok yang tidak kenal kompromi dengan Belanda dan terus menyerukan jihad untuk melawan penjajahan di Tanah Aceh.

Hal ini mencerminkan kecintaan dan kepahlawanan beliau dalam mempertahankan tanah kelahirannya.

Dari segi keturunan, Habib Abdurrahman bin Hasan Asseqaf merupakan keturunan dari Sayidina Husein ra yang merupakan cucu dari Baginda Rasulullah SAW.

Dari aspek historis, keturunan Rasulullah SAW dikenal sebagai keluarga ulama dan pejuang. Diantaranya adalah Sayidina Husein bin Ali ra yang berjihad melawan kezaliman pemerintahan Yazid bin Muawiyah sehingga beliau syahid di Karbala.

Baca: VIDEO - Kisah Gugurnya Teuku Umar di Suak Ujong Kalak

Hal ini tentunya tidak mengherankan apabila secara genetik turun kepada Habib Abdurrahman bin Hasan Asseqaf yang telah aktif berjuang dalam perang Aceh sejak tahun 1873 M.

Perang Aceh merupakan sebuah perang terdahsyat yang terjadi di penghujung abad 19 M dan awal dari proses perubahan kehidupan masyarakat Aceh dari sistem kerajaan menjadi sistem kolonial dan kemudian menjadi sistem negara kesatuan.

Awal mulanya terjadi perang Aceh dari keinginan Belanda untuk menguasai seluruh sumber daya alam di pulau Sumatera dengan cara melemahkan posisi Aceh di Selat Malaka dan kerajaan-kerajaan yang berada di sekitarnya.

Proses pelemahan ini terlihat dari dibuatnya perjanjian Traktat Sumatera dengan pihak Inggris pada tahun 1871 M/1288 H (Ismail S, dkk, 1977).

Dengan perjanjian ini, Belanda dapat dengan leluasa untuk memperluas daerah jajahannya di Sumatera, sehingga bagi Aceh ini merupakan sebuah ancaman bagi kedaulatannya.

Awal perjuangan Habib Abdurrahman bin Hasan Asseqaf atau Habib Teupin Wan dimulai Mukim XXVI dengan mendirikan sebuah benteng dekat makam seorang keramat yang bernama Tengku Di Leung Keung yang masih berada di wilayah Mukim XXVI.

Dari benteng pertahanan ini, habib bersama pasukannya terus melakukan perlawanan terhadap Belanda serta membakar semangat juang rakyat Aceh khususnya yang berada di wilayah mukim XXVI.

Secara geografis, wilayah Lung Keung merupakan wilayah perbukitan. Dalam strategi perang, posisi pertahanan seperti itu sangat menguntunngkan dikarenakan mudah untuk memantau dan menyerang musuh.

Intensifnya pergerakan pasukan Belanda menyebabkan para pejuang Aceh beserta Sultan Mahmud harus mundur ke Pager Ayer dan beliau kembali ke Rahmatullah akibat penyakit kolera yang dideritanya pada tahun 1874 M.

Baca: Drama Tgk Chik Di Tiro Warnai HUT RI di Pidi‎e

Penggantinya Sultan Muhammad Daud Syah yang kemudian hari menjalankan pemerintahan di Keumala, Pidie.

Menurut H.C. Zentgraff, Habib Teupin Wan berhijrah ke Keumala setelah dilakukan operasi besar-besaran oleh pihak Belanda.

Walaupun pada saat tersebut Habib Teupin Wan masih sangat muda tetapi karakter beliau sudah menunjukkan seorang pemimpin yang memiliki visi yang sangat tegas, yakni mengusir penjajah Belanda dari Tanah Aceh tanpa tawar menawar.

Banyak tempat di wilayah mukim XXVI, dimana beliau berhasil membuat rugi serta banyak pasukan Belanda yang mati di wilayah tersebut.

Sehingga tidak mengherankan apabila Scounk Hourgronje menyebutkan beliau sebagai salah satu tokoh yang berbahaya dan disebut dengan Tengku Chik Di Tiro Kedua.

Menurut Oral Histroy, Habib Teupin Wan terus melakukan perlawanan dengan pihak Belanda bersama para pejuang lainnya setelah benteng pertahanan para pejuang Aceh dapat direbut oleh Belanda di Seulimeum pada tahun 1878 M.

Dalam catatan sejarah, pada tahun 1876 M Van Heijden menyerang Samalanga dengan mengerahkan kekuatan tiga batalion tentara.

Tiap batalion terdiri atas tiga kompi, dimana masing-masing kompi berjumlah 150 pasukan.

Baca: VIDEO: Drama Kolosal Laksamana Malahayati, Begini Sedikit Kehebatannya

Pertempuran di Samalanga merupakan pertempuran terdahsyat lainnya dan di sana juga banyak terdapat syuhada perang Aceh.

Istiqamahnya perjuangan Habib Teupin Wan tercermin dari pengabaian untuk menyerah yang disarankan oleh Tuanku Mahmud melalui suratnya pada tanggal 27 Rajab 1327 H/ 14 Agustus 1909 M.

Dimana isi surat tersebut menyerukan supaya Habib Teupin Wan, Tengku Mahyuddin bin Tengku Syeikh Saman, Tengku Di Bukit bin Tengku Syeikh Saman, Tengku Hasyem, Tengku Ulee Tutue dan Tengku Ibrahim untuk menyerah kepada Belanda.

Tetapi Habib Teupin Wan bersama ulama lainnya tidak menghiraukan surat ini dan terus berjuang untuk melepaskan Aceh dari belenggu Belanda.

Apabila ditinjau dari segi waktu pada tahun 1909 M tersebut, Habib Teupin Wan merupakan tokoh pejuang Aceh yang terlama, tentunya sudah banyak pahitnya perjuangan yang beliau lalui tetapi Allah SWT menguji beliau tidak hanya sampai di situ.

Dimana anak laki-laki beliau satu-satunya, Habib Muhammad atau dikenal dengan Habib Cut, harus syahid di Tiro saat terjadi pertempuran dengan pihak Belanda pada 21 Mei 1910 M/ 11 Jumadil Awal 1328 H.

Sebuah jiwa yang besar dengan merelakan anak laki-lakinya harus syahid di depan matanya, hal ini justru menambah ketakwaan dan semangat jihad beliau untuk terus berjuang dan meninggal semua harta benda duniawi.

Baca: Ini Kisah Mengharukan, Akhir Perjalanan Hidup Sang Deklarator GAM Hasan Tiro

Aktifnya perjuangan Habib Teupin Wan di Pegunungan Tangse, membuat pihak Belanda menggunakan siasat liciknya dengan memperdayakan seorang mata-mata atau “cuak” dalam bahasa Aceh.

Dalam cerita tutur dijelaskan bahwa Tengku Baje Mirah atau Pang Bayak merupakan orang yang memiliki andil besar dalam membantu Belanda melacak tempat persembuyian Habib Teupin Wan di pedalaman hutan Tangse.

Tengku Baje Mirah melakukan aksinya melalui pengiriman seekor sapi kepada Habib Teupin Wan untuk memperingati meugang pada hari raya Idul Fitri pada saat itu, melalui jejak sapi tersebutlah Letnan B.J. Schmidt dan pasukannya berhasil melacak tempat persembuyian Habib Teupin Wan.

Pegunungan Tangse merupakan saksi bisu ketika Letnan B.J. Schmidt melakukan operasi militer untuk mencari seorang yang banyak menyusahkan Belanda baik materi maupun secara psikologis.

Dalam proses operasi tersebut akhirnya tokoh ulama Tiro terakhir atau Sang Panglima Perang Aceh yang terakhir syahid pada 5 Syawal 1329 H/ 29 September 1911M di pegunungan Tangse tanpa ada kata menyerah, tanpa ada rasa takut walaupun harus mengorbankan harta serta keluarganya.

Baca: Tak Banyak yang Tahu, Raja Termegah Aceh Sultan Iskandar Muda Mangkat Hari Ini, 381 Tahun Lalu

Sikap rela mengorbankan harta serta jiwa bahkan anaknya harus syahid di depan matanya untuk membebaskan Aceh dari belenggu Belanda merupakan sikap kesatria yang mencerminkan sikap “Pahlawan Sejati”.

Beliau syahid setelah terjadi pertempuran yang sengit antara kubu Habib Teupin Wan dengan pasukan marsose yang dipimpin oleh kolonel Schemidt pada Hari Raya Idul Fitri.

Dalam Alquran surat Ali Imran Ayat 169 Allah berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.”

*Sayed Murtadha | Ketua Asyraf Aceh

KUPI BEUNGOH ADALAH RUBRIK OPINI PEMBACA SERAMBINEWS.COM. SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNG JAWAB PENULIS.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved