Opini
Menjadi Pemimpin Pembelajar
SEBENARNYA banyak pihak yang tidak terkejut dengan kemungkinan bakal terjadinya Operasi
Apakah kemudian itu terbukti? Tentu saja, jawabannya tendensius dan dipenuhi debat. Sebagian orang merasa wacana itu sebagai sesuatu yang salah, namun sebagian lainnya mengamini sebagai sebuah kritik realistis atas realitas saat ini. Ketika seorang Asia didapuk menjadi pemimpin, namun kepemimpinannya tidak membawa perubahan atas arah kebijakan yang pro rakyat, maka bisa saja dianggap hanya jago kandang belaka.
Begitupun ketika pemimpin Aceh hanya kuat berdebat, namun tidak mampu membangun dan menyumbang perubahan, maka ia berada dalam kategori “tidak” dalam wacana Mahbubani. Maka tidak mengherankan jika beberapa orang pilihan Aceh di kancah nasional, kemudian tidak menjadi siapa-siapa karena kapasitas sumbangannya belum melampaui Aceh-nya dan Indonesia-nya.
Dalam berbagai acara perdebatan Calon Gubernur Aceh sebelumnya terlihat bagaimana visi berbenturan dengan realitas, atau minimal hanya masuk dalam wilayah teoritis dan tekstual, namun tidak membumi. Debat hanya menjadi “lelucon”, kausalitas realitas dan tawaran solusi mengambang dalam teori. Ada kecenderungan kita berapologi dengan kelemahan sendiri, dengan hanya beretorika dalam menyampaikan apa yang disebutnya sebagai “visi membangun Aceh masa depan”, yang ternyata sebagiannya sangat tidak realistis dan menjadi utopia.
Kasus hari ini, setidaknya membuktikan berbagai titik lemah kita, personifikasi pemimpin yang “berpengalaman” sekalipun, masih harus dilengkapi komitmen yang bersinergi langsung dengan Tuhan, harus ada niat baik dan kemauan kuat untuk menciptakan perubahan bagi Aceh masa depan. Aceh membutuhkan regenerasi pemimpin yang juga negarawan.
Dalam konteks saat ini, kasus tersebut menjadi tidak sederhana, apalagi dikaitkan dengan kesyariatan kita. Biarlah waktu dan hukum yang akan membutktikan kebenarannya. Karena kejahatan sekecil zarah sekalipun akan menuai balasan. Begitu pula sebaliknya.
* Hanif Sofyan, pegiat Aceh Baca Initiative, tinggal di Tanjung Selamat, Aceh Besar. Email: acehdigest@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kpk_20180707_162005.jpg)