Kamis, 7 Mei 2026

Kupi Beungoh

Beratnya Medan Dakwah di Bumi Mentawai, Sumatera Barat

Islam di Kepulauan Mentawai masih sangat lemah, karena minimnya dai menetap yang berdakwah di sana.

Tayang:
Editor: Zaenal
IST
Penulis, Arif Zidni sedang mengajarkan Alquran kepada anak-anak dan kaum ibu di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Ramadhan 1439 H/2018 M. 

Oleh Arif Zidni*)

KABUPATEN Kepulauan Mentawai adalah salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Kabupaten ini terdiri dari 4 kelompok pulau utama yang berpenghuni yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan.

Selain itu masih ada beberapa pulau kecil lainnya yang berpenghuni namun sebagian besar pulau yang lain hanya ditanami dengan pohon kelapa.

Kepulauan Mentawai yang terkenal dengan nama Bumi Sikerei didominasi oleh warga nonmuslim.

(Baca: BREAKING NEWS: Gempa 8,3 SR Guncang Mentawai Berpotensi Tsunami)

(Baca: Kisah Peselancar Australia Rob Henry yang Menemukan Jati Diri di Antara Suku Mentawai)

(Baca: Tribun Network Resmikan Sekolah di Pulau Terpencil Mentawai)

Dikutip dari Wikipedia, kepulauan yang memiliki luas 6.011,35 km2 ini didiami oleh 85.348 jiwa (data tahun 2015).

Sebanyak 53.01 persen penduduk Kepulauan Mentawai menganut Kristen Protestan, Katolik sebanyak 25.77%, Islam 21.21%, dan Hindu 0.01%.

Ada beberapa instansi dan yayasan muslim yang bergerak untuk mendakwahkan Islam di kepulauan tersebut, salah satunya adalah Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM) yang sudah berjalan sejak tahun 2010.

Pada Ramadhan tahun ini (1439H/2018M), YMPM mengirim 150 dai yang ditempatkan di pedalaman Kepulauan Mentawai.

“Para dai ini didatangkan dari berbagai daerah untuk menyemarakkan Ramadhan serta membimbing para muallaf,” ungkap Ustaz Muhammad Shiddiq Al Minangkabawi, Ketua Yayasan Muslim Peduli Mentawai.

Ke-150 dai dimaksud berasal dari berbagai lembaga pendidikan Islam, seperti MUDI MESRA Samalanga (Aceh), Assunnah Medan (Sumut), STIBA ARRAYAH Sukabumi (Jawa Barat), dan dari berbagai daerah lainnya.

Para dai tersebut disebar di Pulau Sipora, Siberut, serta di kawasan Sikabaluan.

Program ini dimulai sejak 1 hari sebelum Ramadhan dan berakhir pada hari ke-5 Idul Fitri.

(Baca: Sekelompok Peneliti Temukan 1.000 Triliun Ton Berlian di Bawah Permukaan Bumi)

Para dai yang dikirim bertugas untuk menyemarakkan Ramadhan dengan menghidupkan shalat berjamaah 5 waktu, Shalat Tarawih, Shalat Jumat, tadarus Alquran, pengajian agama, Shalat Idul Fitri, dan lain sebagainya.

Di samping itu mereka juga harus mendampingi dan membimbing para muallaf yang baru masuk Islam.

Selama program berlangsung, ada beberapa orang yang masuk Islam dan disyahadatkan langsung oleh para dai.

Di antaranya di Desa Tinambu, Desa Tiop, Desa Sirisurak, dan beberapa desa lain.

Masyarakat muslim di Kepulauan Mentawai sangat bergembira dengan adanya program seperti ini.

Anak-anak terlihat bersemangat mengaji, dan masjid pun menjadi ramai.

Penulis berharap, keadaan ini terus terjadi ketika para dai menyelesaikan tugas, meninggalkan Kepulauan Mentawai.

(Baca: VIDEO - Minimnya Pengajar Muslim di Kepulauan Mentawai)

Data yang penulis himpun, Islam di Kepulauan Mentawai masih sangat lemah, karena minimnya dai menetap yang berdakwah di sana.

Medan dakwah di pedalaman Mentawai sungguh penuh tantangan,  seperti tidak adanya sinyal telepon (konon lagi internet), tidak adanya listrik, ekonomi masyarakat yang sangat lemah, serta topografi daerah yang masih sangat sulit dijangkau.

Kendala lainnya adalah minimnya pemahaman tentang iman dan aqidah pemeluk Islam di sana.

Seperti yang terjadi di Desa Simolaklak dan Malilimok. Di mana ketika dainya membuat buka bersama, para masyarakat pun hadir ke masjid untuk ikut makan buka bersama.

Namun ketika waktu Shalat Maghrib, sebagian mereka sudah pulang ke rumah dan tidak ikut melaksanakan shalat berjamaah di masjid.

Begitu juga ketika diadakan acara sahur bersama, masyarakatnya hadir dan makan bersama.

Tapi ketika siang, saat mereka bekerja, ternyata banyak yang tidak puasa lagi.

(Baca: Pemuda Aceh Ajarkan Alquran untuk Anak-anak Pulau Bangka)

Mereka makan dan minum dengan asyiknya dengan alasan sangat sederhana, “panas pak ustad, capek”.

Ada juga yang terus terang sambil menghisap rokok dan mengatakan “ustad, saya tidak puasa hari ini”.

Bahkan lebih ironis lagi jika ada dari kaum muslim yang meninggal, mereka menyerahkan prosesi pemandian dan pemakaman jenazah kepada umat Katolik.

Begitulah sekilas keadaan Islam di Bumi Mentawai.

Agama Islam di sana masih sangat terbelakang, mereka beribadah sesuai hawa nafsu mereka saja.

Semoga kedepannya ada dari kaum muslimin yang bisa meluangkan waktu, tenaga, pikiran serta hartanya untuk bisa berkontribusi bagi dakwah di pedalaman Mentawai, sebuah kepulauan yang terletak memanjang di bagian paling barat Pulau Sumatera dan dikelilingi oleh Samudera Hindia.

* PENULIS Arif Zidni adalah Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Arraayah Sukabumi, Jawa Barat. Saat ini tinggal di Uleekareng, Banda Aceh.  

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved