Kebun Sawit tak Terurus
Areal perkebunan kelapa sawit rakyat di sejumlah lokasi dalam wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya)
* Dampak Anjlok Harga TBS
BLANGPIDIE- Areal perkebunan kelapa sawit rakyat di sejumlah lokasi dalam wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dilaporkan mulai tidak terawat. Kondisi ini merupakan dampak dari tidak kunjung membaiknya harga TBS (tandan buah segar) kelapa sawit setelah anjlok selama hampir tiga bulan terakhir.
“Pendapatan petani dari produksi TBS sawit tak mampu menutupi biaya perawatan kebun sehingga areal kebun mulai tak terurus lagi,” kata Mustafa, petani Desa Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot, ketika dihubungi Serambi, Selasa (17/7).
Harga TBS sawit yang ditampung di tingkat petani beberapa hari terakhir berkisar antara Rp 650-700 per kg. Sekitar tiga bulan sebelumnya harga TBS sawit berkisar antara Rp 1.200-1.420 per kg.
Bila tanaman sawit dengan luas satu hektare (ha) menghasilkan sekitar 1,5 ton (1.500 kg) dijual dengan harga antara Rp 650-700 per kg, maka hasil kotor yang diperoleh petani hanya antara Rp 975.000-1.050.000.
Hasil yang diperoleh tersebut dikeluarkan untuk ongkos panen yang berkisar antara Rp 200-250 ribu per ha, tergantung tingkat kesulitan medan kebun. Pengeluaran untuk perawatan relatif besar terutama untuk pembersihan rumput, lebih dari Rp 400 ribu per ha, yaitu untuk membeli pestisida (racun rumput) dan ongkos penyemprotan.
Sedangkan pembersihan rumput dengan cara menebas butuh ongkos berkisar antara Rp 700-800 ribu per ha. Belum lagi anggaran untuk pemupukan, sekali dalam tiga bulan. “Karena harga TBS tak kunjung membaik, sejumlah petani memutuskan tak lagi memanen sawit,” kata Usman, petani Desa Alue Dawah, Kecamatan Babahrot.
Di sisi lain, tanaman kelapa sawit yang tidak dipanen setelah tiba waktunya maka berisiko akan mati . Sebab, TBS sawit yang tidak panen akan membusuk pada batang, kemudian berkembang menjadi jamur pada batang, terutama pada pangkal pelepah sehingga tanaman sawit bisa mati.
Mustafa mengatakan, petani sekarang ini menjadi serbasalah karena pendapatan dari produksi TBS tidak mampu menutupi ongkos panen dan perawatan kebun. “Bila tidak dipanen, maka tanaman sawit bisa mati, disamping kebun tidak terawat,” katanya.
Areal kebun kelapa sawit yang mulai tidak terurus terutama di Kecamatan Babahrot dan Kuala Batee sebagai sentra tanaman kelapa sawit di Kabupaten Abdya. Di dua kecamatan ini terdapat puluhan ribu ha kebun sawit rakyat yang dikembangkan sekitar delapan tahun lalu sudah berproduksi TBS yang seluruhnya dijual kepada pengusaha PKS di kawasan Kabupaten Nagan Raya.
Petani kelapa sawit di Kabupaten Abdya mempertanyakan penyebab harga TBS sawit anjlok dalam kurun waktu lama. Mustafa, salah seorang petani di Babahrot menyebutkan, harga TBS sawit memang sering naik turun, namun harga yang anjlok kali ini mencapai titik terendah dan bertahan dalam kurun waktu lama.
Dijelaskan, harga TBS sawit di tingkat petani setempat jatuh sejak awal Mei 2018 dan sampai pertengan Juli ini tidak kunjung membaik. Pada April lalu, harga TBS sawit di tingkat petani setempat berkisar antara Rp 1.200-1.320 per kg, kemudian bergerak turun secara signifikan dan sampai sekarang ini harga di tingkat petani berkisar antara Rp 650-700 per kg.
Menurut Usman, juga salah seorang petani, harga beli di tingkat petani Rp 700 per kg karena ada beberapa pedagang beralih menjual TBS. Jika sebelumnya mereka menjual pada sejumlah PKS di Kabupaten Nagan Raya, beralih menjual ke PKS di Subulusalam.
“Harga TBS sawit yang ditampung pabrik di Subulussalam, sedikit lebih baik dibandingkan harga ditampung pabrik di Nagan Raya,” kata Usman. Menurut keterangan PKS di Nagan Raya menampung TBS sawit hanya Rp 840 per kg, sehingga pedagang pengumpul menampung dari petani sekitar Rp 650 per kg. Sedangkan di Subulussalam lebih dari Rp 900 per kg.(nun)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tumpukan-tandan-buah-segar-tbs-kelapa-sawit_20180228_085329.jpg)