Opini
Dakwah di Mimbar Digital
PERNAH dengar istilah ngabuburit? Meski arti ngabuburit dalam bahasa Sunda berarti “menunggu petang”
Seiring revolusi dakwah, jangkauan materi dakwah akan bergerak mengikuti trend dan popularitas (viral) para tokoh dakwah tersebut. Namun perspektif intinya bukan semata untuk mengkultuskan materialisme dalam konteks dakwah, dan pengalaman ini jauh dari model dakwah para dai tradisional. Tulisan ini tidak bermaksud memarginalkan peran dai tradisional, karena seiring perubahan trend dan platform dakwah, dunia dakwah juga akan mengalami pasang surut. Dan kita harus siap menyambut perubahan tersebut.
Begitupun, sejatinya dalam perubahan konsep dakwah yang dramatis dan revolusioner sekalipun, segmentasi atas kelas-kelas sosial ekonomi yang beragam masih membutuhkan berbagai model dakwah tradisional untuk terus menguatkan dan menebalkan keimanan umat. Peran dai tradisional masih terus dibutuhkan, berdampaingan dengan para dai yang telah berevoluasi dalam fomasi dakwah yang lebih kompleks dan masyarakat yang lebih hiterogen (beragam). Kita menyebutnya generasi milenial.
Terlepas dari perkembangan model platform dakwah yang revolusioner, minimal ada dua hal yang bisa disentuh dari setiap kehadiran misi dakwah; penguatan pemahaman Islam itu sendiri dan menginternalisasi nilai-nilai keislaman secara minimal dalam keseharian (mengejar pahala sebagai tabungan akhirat dan penghapus dosa). Selebihnya kembali pada masing-masing personal dalam memaknai dakwah yang diterimanya.
* Hanif Sofyan, pegiat Aceh Baca Initiative, berdomisili di Tanjung Selamat, Aceh Besar. Email: acehdigest@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ustaz-abdul-somad_20180712_095949.jpg)