Opini

Menyoal Hukuman ‘Mandi’ Air Comberan

SEORANG pejabat Kota Langsa dimandikan dengan air comberan oleh warga, karena diduga melakukan perbuatan

Menyoal Hukuman ‘Mandi’ Air Comberan
Sembilan orang dewasa yang terdiri atas 6 pria dan 3 wanita ditangkap dalam sebuah warung jus di Gampong Garot, Kecamatan Darul Imarah, Jumat (2/2/2018) sekitar pukul 19.30 WIB 

Lantas bagaimana dengan jarimah khalwat? Dan apa hukumannya bagi yang melakukan perbuatan tersebut? Secara definisi khalwat diartikan sebagai “perbuatan berada pada tempat tertutup atau tersembunyi antara 2 (dua) orang yang berlainan jenis kelamin yang bukan mahram dan tanpa ikatan perkawinan dengan kerelaan kedua belah pihak yang mengarah pada perbuatan zina.” (Qanun No.6/2014).

Terdapat beberapa dalil tentang larangan ber-khalwat, di antaranya hadis yang artinya, “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian, kecuali bersama mahramnya...” (HR. Bukhari, hadis No.2784). Selain itu, terdapat hadis dalam Sunan at-Tirmidzi, hadis 2165, yang artinya: “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita melainkan yang ketiganya adalah syaitan.”

Karena tidak terdapat dalil yang menyebutkan tentang model punishment terhadap perbuatan tersebut, maka ini dikategorikan sebagai jarimah ta’zir, di mana penguasa ber-ijtihad untuk menentukan jenis hukumannya. Dalam Qanun Jinayat, Pasal 23 (1) disebutkan, “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan jarimah khalwat, diancam dengan `uqubat ta’zir cambuk paling banyak 10 (sepuluh) kali atau denda paling banyak 100 (seratus) gram emas murni atau penjara paling lama 10 (sepuluh) bulan.”

Tidak dibenarkan
Berdasarkan uraian dalil dan norma hukum positif, maka tidak ada aturan material yang membenarkan seseorang terpidana diberikan sanksi; berupa dimandikan dengan air got atau nama lain dari air comberan, atau disebut juga air limbah rumah tangga yang bernajis dan kotor. Lantas hukum mana yang dipakai, hukum adatkah?

Adat disebut juga kebiasaan atau tradisi. Dalam konteks ushul-fiqh disebut ‘uruf. Dalam qawaid fiqhiyah, ada kaedah al-ádah muhakkamah, yaitu suatu adat dapat diterima sebagai suatu norma hukum apabila: Pertama, tidak bertentangan dengan syariat; Kedua, tidak menyebabkan kerusakan dan tidak menghilangkan kemashlahatan; Ketiga, telah berlaku pada umumnya orang muslim; Keempat, tidak berlaku dalam ibadah mahdhah; Kelima, sudah memasyarakat ketika akan ditetapkan hukumnya, dan; Keenam, tidak bertentangan dengan Alquran dan sunnah.

Sebaliknya, jika bertentangan dengan kriteria tersebut, maka ia termasuk kategori adat fasid (merusak). Adat fasid adalah adat yang bersumber dari hawa nafsu atau angan-angan, atau bahkan setan. Ada banyak terdapat adat-adat yang bertentangan dengan ajaran Islam, yang umumnya berasal dari animisme atau peninggalan ajaran Hindu dalam tradisi masyarakat yang dapat dikategorikan sebagai adat fasid.

Dalam teori hukum adat, pendegradasian nilai hukum Islam terhadap hukum “adat” dapat dilihat dari teori Receptie yang dikembangkan oleh Christian Snouck Hurgroje (1857-1936). Dia mengatakan bahwa Hukum Islam dapat diterima sebagai hukum, jika tidak bertentangan dengan Hukum adat. Sebaliknya, kalau hukum Islam bertentangan dengan Hukum Adat maka ditolak. Konsep ini, disebut sebagai “teori iblis” oleh Hazairin.

Maka dalam konteks “syariat” air got versi sebagian warga di satu gampong di Kota Langsa, menurut penulis bukanlah bagian dari hukum Islam ataupun Hukum Adat “shahih” Aceh. Hal ini juga telah dibantah oleh berbagai pakar dan para stakeholder syariat Islam bahwa yang dilakukan tersebut bukanlah hukum adat Aceh, apalagi didasarkan hukum syariat. Tidak ada literatur sejarah Aceh tentang model hukuman seperti itu, apalagi terhadap orang muslim yang tidak salah.

Pepatah Aceh mengatakan, Adat bak Poeteumeuruhom (Raja/Wali Nanggroe); Hukum bak Syiah Kuala (Ulama/MPU); Qanun bak Putroe Phang (Legislastor/DPRA); Reusam bak Laksamana (Petua adat/MAA). Urang awak (Minang) mengatakan, Adat bersendi syara’; Syara’ bersendi kitabullah. Maka adat yang shahih (baik), adalah adat yang berdasarkan Alquran dan sunnah, serta mendapat otoritatif dalam pelaksanaanya oleh raja/pemerintah sebagai simbol kedaulatan Hukum Adat.

Dengan demikian, jadikanlah syariat sebagai tempat air yang mengalir yang menjadi sumber penghidupan. Bukan sebaliknya, menjadi air najis, karena merujuk kepada konsep adat Snouck Hurgroje, atau adat iblis kata Prof Hazairin. Wallahu a’lam.

* Chairul Fahmi, M.A., Peneliti dan Pengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: fahmiatjeh@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved