Antrean Pasien Panjang, RSUZA Butuh Tambahan Empat Kamar Operasi

Dengan delapan kamar operasi yang tersedia saat ini, pihaknya hanya mampu mengoperasi 50-60 pasien per hari, baik yang terjadwal maupun emergency.

Antrean Pasien Panjang, RSUZA Butuh Tambahan Empat Kamar Operasi
SERAMBINEWS.COM/EDDY FITRIADY
Suasana di kamar operasi RSUZA Banda Aceh. Foto direkam beberapa waktu lalu. 

Laporan Eddy Fitriady | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Panjangnya antrean pasien yang membutuhkan tindakan operasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, tidak berbanding lurus dengan jumlah kamar operasi yang tersedia.

Rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu kini membutuhkan tambahan sedikitnya empat kamar operasi, selain delapan kamar yang saat ini digunakan secara bersama.

Informasi itu diungkapkan Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine FICS kepada Serambinews.com, Kamis (30/8/2018) di rumah sakit tersebut.

Baca: Anak Penderita Lepuh Sekujur Tubuh dari Aceh Tenggara Meninggal Dalam Perjalanan ke RSUDZA

Dia mengatakan, dengan delapan kamar operasi yang tersedia saat ini, pihaknya hanya mampu mengoperasi 50-60 pasien per hari, baik yang terjadwal maupun emergency.

“Sedangkan kebutuhan operasi cukup tinggi di RSUZA. Kami butuh empat kamar operasi lagi, sehingga bisa mengoperasi sampai 100 pasien per hari,” ujarnya.

Azharuddin mengaku pihaknya tidak kekurangan dari segi SDM, karena hingga saat ini RSUZA sudah memiliki hampir 200 spesialis dari berbagai keahlian.

Masalahnya, kata dia, keahlian para dokter tersebut tidak tersalur secara optimal akibat masih kurangnya fasilitas RS.

Baca: Terkait Pasien Bocor Jantung dan Meninggal, Ini Ancaman Haji Uma terhadap Dokter RSUDZA

“Bahkan ada kamar operasi yang harus dibagi, atau dipakai selang-seling untuk kasus yang berbeda,” jelas Direktur RSUZA, dan mencontohkan untuk ortopedi saja sehari bisa 10 kali operasi.

Spesialis Ortopedi itu menambahkan, di samping penambahan kamar operasi, RSUZA saat ini juga sangat membutuhkan Pusat Traumatologi, atau ‘Instalasi Gawat Darurat (IGD) terpisah’ untuk melayani secara maksimal pasien kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, dan kasus trauma lainnya.

“IGD kami sekarang hanya memiliki 40 bed dengan rasio tahun 2009. Kita butuh Pusat Trauma agar penanganan pasien trauma bisa lebih fokus dan optimal,” timpalnya. (*)

Penulis: Eddy Fitriadi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved