Opini
2019 Tahun ‘Hoax’?
BANYAK yang menyebutkan bahwa 2019 adalah tahun politik. Pada tahun tersebut akan berlangsung pesta demokrasi
Oleh Asmaul Husna
BANYAK yang menyebutkan bahwa 2019 adalah tahun politik. Pada tahun tersebut akan berlangsung pesta demokrasi, pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) secara serentak. Tahun di mana partai politik (parpol) terlihat memerah hingga membiru, lalu menguning, dan dipanen usai pemilu. Tahun politik berarti tahun yang penuh siasat. Boleh jadi merencanakan untuk membangun, merubuhkan, menendang, ataupun melenyapkan.
Namun di sisi lain kita lupa bahwa 2019 yang disebut-sebut sebagai tahun politik itu juga berpotensi besar menjadi tahun hoax. Bukankah dari sekarang, kita sudah melihat bagaimana berbagai isu digoreng dengan hangat, lalu publik digodok dengan informasi palsu diiringi adegan penuh drama?
Media berlomba-lomba mendukung dan menjatuhkan masing-masing pasangan calon (paslon). Framing (pembingkaian) dan agenda setting pun dimainkan. Jika sejalan, maka paslon yang didukung digambarkan seolah sosok malaikat yang telah berkontribusi banyak bagi negeri. Sebaliknya, lawannya seolah sosok jahat. Tak elok dipilih sebagai wakil rakyat.
Melihat keberpihakan
Sebenarnya mudah saja melihat keberpihakan tersebut. Unsur kepentingan dan kapitalisme sudah cukup menjadi tawaran yang menggiurkan bagi sebuah media. Nilai-nilai ideologi yang disusun ketika perusahaan media tersebut dibangun juga hanya menyisakan jentiknya saja, kecuali prinsip kapitalisme yang tetap ditumbuh-suburkan.
Jika keberpihakan mudah dilihat, tapi tidak dengan kebenaran. Di tengah gempuran informasi dari berbagai media, memilah mana yang benar dan salah tidaklah semudah menatap layar kaca. Satu berita telah melewati berbagai framing, agenda setting, dan berbagai kepentingan sebelum dilepas ke publik. Lalu karena berita yang belum pasti kebenarannya, rakyat bertikai dengan sesama.
Lalu apakah media yang salah? Bukan media, tapi siapa orang-orang di balik media. Media hanyalah alat untuk menyampaikan informasi. Sama seperti pisau. Ia hanyalah alat. Pisau memang tajam, tapi ia tidak bisa berefek apa-apa jika hanya disimpan dan tidak dikendalikan. Kenapa pisau bisa melukai tangan? Karena ada orang yang mengendalikan pisau. Di tengah gempuran berita hoax, mengapa media bisa mengacaukan kebenaran dan pikiran banyak orang? Karena ada orang di balik media dengan segudang kepentingan.
Pisau tidak akan melukai jika dikendalikan dengan cara yang benar dan tentu juga oleh orang yang tepat. Karena benda yang sama jika dikendalikan oleh orang berbeda, maka akan beda hasilnya. Pisau boleh jadi akan sangat melukai jika dipegang oleh anak-anak. Begitu juga dengan media. Jika dipengaruhi dan dikuasai oleh orang yang salah, maka kebenaran terlihat samar-samar dan perpecahan tinggal menunggu tanggal. Karena boleh jadi, kebohongan yang disampaikan berulang-ulang terlihat seperti sebuah kebenaran. Sebaliknya, kebenaran tanpa dukungan terlihat seperti sebuah kesalahan.
Selain di media cetak dan televisi, menjelang Pilpres 2019, perang cyber juga sangat gencar terjadi. Di media sosial, berita hoax muncul seperti rentetan peluru. Tajam dan menusuk. Ada sanjung-puja, juga caci-hina. Propaganda diluncurkan. Rakyat seperti menonton pertunjukan. Adegan penuh drama disuguhkan. Ada yang bikin mual, ada juga yang memabukkan. Pun demikian, rakyat terpaksa menonton pertunjukan tersebut hingga selesai. Hingga kemudian mendapati kenyataan bahwa ada orang-orang di balik layar yang meraup keuntungan miliaran rupiah dari sebuah kebohongan.
Victor, seorang remaja berusia 16 tahun dari sebuah kota kecil Makedonia di Amerika Serikat (AS) berhasil meraup 200 ribu dolar atau setara dengan Rp 2,6 miliar dari postingannya mengenai berita hoax tentang Donald Trump saat musim pilpres di AS pada 2016 silam. Di Indonesia, perang cyber juga gencar terjadi. Ada ribuan akun yang bertebaran di berbagai media sosial, yang menurut ahli IT dari Kominfo, semua akun tersebut kemungkinan dikendalikan oleh robot. Potensi hoax begitu besar. Satu artikel yang mengandung hoax dan mencantumkan dua-tiga foto, lalu diposting di ribuan akun tersebut, maka hal tersebut menjadi viral. Pengelola akun tersebut bisa menghasilkan Rp 10 juta per 5 jam. Sebuah angka yang cukup fantastis untuk sebuah “pekerjaan” yang hanya mengelola kebohongan.
Paling mematikan
Selain berita hoax yang bertebaran di media sosial, ingkar janji para pemimpin negeri yang digaungkan pada masa kampanye adalah hoax yang paling mematikan. Seperti yang kerap disebutkan bahwa selama kampanye, angin terisi penuh dengan pidato-pidato. Dan sebaliknya, pidato hanya berisi angin. Kesejahteraan rakyat adalah angin pamungkas yang kerap dihembuskan.
Maka tidak perlu heran, jika pada saat kampanye mereka berjanji akan membangun jembatan, bahkan di tempat yang tidak ada sungainya. Lalu rakyat mendapati kenyataan, bahwa janji-janji vital yang digaungkan hanya untuk meninabobokan. Seperti yang dikatakan oleh Charles de Gaulle (1890-1970), seorang negarawan dari Prancis, “Politisi sebenarnya tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat mempercayainya.”
Jika begini keadaannya, maka cita-cita pemerintah untuk membasmi hoax di Indonesia menjadi jauh panggang dari api, jika Pemerintah sendiri belum selesai dengan hoax yang dibangunnya sendiri. Pada 2019, hoax jenis ini jauh lebih memilukan dibandingkan membaca berita hoax bahwa Raffi Ahmad sudah menikah dengan Ayu Ting-Ting. Dan itu tidak penting.
Kita tidak bisa membangun negeri dengan politik hoax, apalagi bercita-cita membangun generasi. Indonesia tidak akan maju jika harapan sejahtera hanya menggema menjelang pemilu. Setelahnya, janji sejahtera seolah dongeng belaka. Seperti yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i bahwa manusia dipegang pada janjinya, sedangkan hewan dipegang pada talinya. Jika manusia tidak lagi bisa dipegang janjinya, maka beri ia tali.
Maka pada 2019 bukan hanya tahun politik, tapi juga tahun dengan penyebaran hoax berdosis tinggi. Ada banyak topeng yang dipasang, cerita yang disusun, dan image yang dibangun. Lalu publik dibuat bingung. Khawatir untung menjadi buntung. Perang fisik dan pendapat jadi tontonan. Sama seperti perang, politik memang menggairahkan. Di samping harapan, ada banyak bahaya yang mengintai. “Dalam perang, Anda hanya dapat terbunuh sekali, tapi dalam politik Anda bisa membunuh atau bahkan mati berkali-kali,” begitu kata Winston Churchill (1874-1965), Perdana Menteri Inggris semasa Perang Dunia II.
Maka tidak perlu berlebihan menyikapi 2019. Tidak perlu perang mulut di media sosial, apalagi perang fisik. Bertikai hanya gara-gara beda pendapat dan pillihan, itu bagian dari kebodohan. Bukankah selama ini kita tidak pernah bertengkar hanya karena beda mimpi, walau tidur satu bantal? Tidak perlu menegang urat. Jadilah rakyat yang dewasa. “Karena politisi dan popok bayi tidak jauh beda. Keduanya kerap diganti karena alasan yang sama,” begitu kata Jose Maria de Queiroz, penulis realis dari Portugis.
Pun demikian, yang tidak mau ganti presiden silakan, yang mau ganti juga tidak dilarang. Tidak perlu gontok-gontokan. Ini cuma pilpres, bukan Perang Badar.
* Asmaul Husna, Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe. Email: hasmaul64@yahoo.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/berita-hoax_20161127_100943.jpg)