Rabu, 6 Mei 2026

Kisah Orang-orang Jawa di Suriname: Sempat Dianggap Bodoh, Pandir, dan Mudah Ditipu

Pemerintah kembali membenahi perkebunan-perkebunan Suriname. Budak-budak pun didatangkan lagi, meski sejak 1608 perdagangan budak

Tayang:
Editor: Fatimah
Intisari online
Kesenian Indonesia ditampilkan di panggung Suriname. 

SERAMBINEWS.COM - Sampai awal abad ke-19 Suriname diwarnai bunga-bunga etnis. Penduduk aslinya sendiri, orang Amerindian, ditambah lagi oleh golongan Bush Negro.

Terakhir, orang-orang Eropa dan keturunannya yang mereka namakan orang Kreol. Orang Kreol inilah yang kemudian mendominasi populasi Suriname hingga kini.

Tadinya, Kreol hanya sebutan untuk orang Eropa yang dilahirkan di Amerika Selatan atau India Barat, tapi kemudian berkembang menjadi sebutan untuk orang asing yang dilahirkan di Suriname.

Kemudian kedatangan sekitar 32.000 emigran Jawa di Suriname menjadi tonggak awal lahirnya variasi etnis Jawa di tengah-tengah populasi Surinameyang sudah beraneka itu.

Baca: Segudang Manfaat Makan Ikan Teri, Salah Satunya Bisa Meningkatkan Kecerdasan

Hingga tahun 1972, populasi orang Jawa sudah mencapai 58.863 jiwa (sekitar 13%) dari 348.903 penduduk Suriname.

Dengan jumlah itu, orang Jawa menempati urutan ketiga, setelah India (38%) dan orang Kreol (31%).

Walau demikian, dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa tidak lebih dianggap suku minoritas. Pada saat itu, hanya segelintir orang Jawa di sana yang tahu baca-tulis.

Rasa tertekan ini semakin terasa akibat sikap dan tegur sapa kasar golongan lain yang menganggap orang Jawa bodoh, pandir dan mudah ditipu.

Baca: Tak Punya TV, Ibunda Miftahul Jannah tak Tahu Awal Kisah Heroik Sang Putri

Ini menyebabkan semakin ketatnya kelompok Jawa ke dalam isolasi yang kental sebagai reaksi kelompok minoritas.

Rasa berlainan ras juga timbul dengan sadar dalam diri orang-orang Jawa itu. Pergaulan sesama orang Jawa tetap dipelihara dengan derajat pemakaian bahasa Jawa yang ngoko dan krama.

Slametan, sesajen, pesta tayub, joget, wayang, orkes terbang, ludruk, tetap menjadi titik sentral dalam aktivitas mereka.

Orang Kreol yang suka mengejek orang Jawa, 'digelari' mereka buto, raksasa kasar dan jahat.

Baca: Sebelum Kekuasaannya Jatuh, Soeharto Ternyata Sudah Siapkan Pengganti Dirinya: Orangnya Sudah Ada

Sedangkan orang India, yang gigih berdagang dan pelit, digelari Anoman, monyet sakti dari kisah Ramayana atau sebagai manungsa ambune kaya setan, manusia yang baunya seperti setan.

Bukan itu saja. Meski jauh dari Indonesia, orang Jawa Suriname tetap merasa diri bagian dari Indonesia.

Dalam setiap pertemuan, termasuk pesta perkawinan dan sunatan, lagu Indonesia Raya dikumandangkan keras-keras dan bendera merah-putih dikibarkan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved