Opini
Simbiosis Manusia dan Alam
AYAT di atas mengingatkan kita untuk selalu menjaga kelestarian alam semesta beserta isinya dan mengambil hikmah
Hewan-hewan yang semestinya bebas mencari makan di hutan, kini harus turun ke perkampungan warga hanya untuk mencari makanan. Lihatlah koloni semut yang selalu hidup bahu-membahu dengan mengenyampingkan ego. Lebah yang jika tidak diganggu, justru akan menjadi sahabat manusia dengan madunya yang menjadi obat. Atau lihatlah ulat yang merubah diri menjadi kupu-kupu setelah sekian lama berpuasa dalam kepompong. Dari hewan yang menjikkan, menjadi hewan nan cantik rupa. Kupu-kupu memperoleh keuntungan, karena dapat menghisap madu (nektar) dan bunga pun diuntungkan, sebab akan terbantu dalam proses penyerbukan.
Rasulullah menjelaskan sebuah perbuatan yang akan terus diganjar pahala jika dilakukan secara makruf, “Andai kiamat sudah tiba, sedang di tanganmu masih ada bibit kurma yang perlu ditanam, jangan bimbang dan segeralah menanamnya”. Karenanya, mulailah dari rumah dan lingkungan terdekat kita, seperti membuang sampah pada tempatnya, atau memindahkan duri di jalanan. Boleh jadi, hal-hal kecil seperti ini, yang selama ini luput dari perhatian kita. Semoga kita tidak tergolong ke dalam orang-orang yang kufur nikmat atas semua anugerah yang Allah berikan kepada kita. Wallahu a’lam bish-shawab.
* Abd. Halim Mubary, M.Kom.I., Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga dan penghulu pada KUA Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen. Email: halim_mubary@yahoo.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/salah-satu-sudut-lokasi-banjir-bandang_20170417_121241.jpg)