Minggu, 17 Mei 2026

Opini

Mitigasi Bencana dari Kearifan Lokal

MENJELANG peringatan 14 tahun tsunami Aceh (26 Desember 2004 - 26 Desember 2018), tsunami kembali menerjang kawasan pesisir sepanjang Selat Sund

Tayang:
Editor: hasyim
GOOGLE
Screenshot Tsunami Aceh 2004 

Oleh Abd. Halim Mubary

MENJELANG peringatan 14 tahun tsunami Aceh (26 Desember 2004 - 26 Desember 2018), tsunami kembali menerjang kawasan pesisir sepanjang Selat Sunda. Akibat musibah ini sebanyak 430 orang meninggal dunia, 1.495 luka-luka, 159 orang hilang (BNPB, 26/12/2018). Tsunami Banten dan Lampung kali ini terbilang ganjil, karena tidak didahului gempa bumi seperti halnya tsunami yang melanda Aceh pada 2014 silam dengan korban jiwa mencapai ratusan ribu jiwa.

Hasil pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, jika pemicu tsunami di Selat Sunda yang di luar kelaziman itu, lantaran dipicu oleh erupsi gunung Anak Krakatau. BMKG juga menyebutkan, munculnya gelombang tinggi akibat longsoran kawah Gunung Anak Krakatau yang cakupannya mencapai seluas 64 hektar yang mengakibatkan munculnya tsunami di Selat Sunda. Sehingga lima kabupaten di Banten dan Lampung mulai dari Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran menjadi daerah berdampak tsunami, dengan yang terparah di Pandeglang, Banten.

Bencana di pengujung tahun di Selat Sunda ini, tak ayal membuat banyak pihak merasa cemas. Para pengelola destinasi wisata di bibir pantai harus berpikir ulang untuk menggelar acara akhir tahun 2018 seperti tahun sebelumnya. Masyarakat juga ikut merasa khawatir dan was-was untuk merayakan pergantian tahun di tepi pantai. Jauh hari sebelum tsunami yang tidak terdeteksi di Selat Sunda tersebut, kewaspadaan untuk melakukan aktivitas di bibir pantai mestinya menjadi warning (peringatan), terutama setelah gempa yang disusul tsunami di Palu pada akhir September 2018 lalu. Sebelumnya, meski tidak sampai menimbulkan tsunami, juga terjadi gempa di Lombok, NTB dan Bali.

Peristiwa bencana alam yang kesekian kalinya ini sepanjang 2018, seakan-akan menjadi peringatan jika alam semakin tak bersahabat dengan manusia. Bukankah secara nalar dan kemanusiaan, rentetan bencana alam yang melanda Indonesia secara beruntun itu, setidaknya menjadi sebuah teguran Allah Swt terhadap hamba-Nya? Kita juga harus mencerna sejumlah fenomena alam di atas, untuk lebih mawas diri sembari terus mempertebal ketakwaan kita kepada-Nya.

Melawan lupa
Berkaca dari peristiwa bencana gempa dan tsunami Aceh 2004, maka tidak ada salahnya bagi masyarakat Aceh, untuk kembali melakukan refleksi diri, agar kita jangan menjadi manusia pelupa. Meskipun saban tahun kita mengenang dan memperingati bencana itu, namun hampir semua agenda yang dilakukan Pemerintah Aceh, seolah-olah hanya mengulang acara seremonial peringatan dari tahun sebelumnya. Yaitu dengan mengundang pemerintah pusat dan negara donasi, untuk berkumpul di Banda Aceh, mendengarkan pidato sejumlah tokoh nasional dan Aceh, kemudian ditutup dengan tausiah dan doa.

Memang tidak ada yang salah dengan rangkaian seremonial seperti itu. Namun jika nuansa peringatannya hanya berkutat dengan pakem yang nyaris sama dari tahun ke tahun dengan agenda yang juga sama, maka nyaris tanpa meninggalkan “bekas” yang berarti bagi momen mengenang peristiwa yang tahun ini telah menginjak tahun ke-14 peringatan tsunami Aceh.

Peristiwa bencana alam gempa dan tsunami Aceh menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahkan Aceh juga sering dijadikan sebagai laboratorium dunia kebencanaan, mengingat besarnya sebaran korban dan kerusakan yang ditimbulkannya tersebut. Banyak provinsi dan negara asing yang datang ke Aceh, baik untuk penelitian dan pembelajaran kebencanaan.

Rentannya bencana alam di Aceh dan Indonesia yang berada di atas persimpangan tiga palung laut yaitu pertemuan lempeng Asia dengan Australia, dan Samudra Hindia, mestinya menjadikan kita semakin awas dan tanggap dalam menghadapi bencana alam. Seyogyanya pemerintah juga harus lebih banyak memberikan edukasi kebencanaan, seperti memperkenalkan anak-anak usia sekolah mulai dari TK, SD, hingga sekolah menengah tentang mitigasi bencana alam.

Secara periodik, tiga bulan atau empat bulan sekali, anak-anak diberikan mitigasi bencana dengan diperdengarkan alarm peringatan dini bencana gempa dan tsunami. Begitu mereka mendengar bunyi alarm, anak-anak TK itu langsung masuk ke kolong meja dan menutup kepala mereka dengan tas sekolah. Mitigasi ini terus diulang-ulang hingga mereka benar-benar terlatih. Dan begitu bencana gempa sesungguhnya tiba, maka mereka tidak merasa panik lagi.

Kearifan lokal
Jepang juga merupakan satu negara yang sering dilanda gempa dan tsunami. Bahkan kata-kata tsunami sendiri juga berasal dari negara matahari terbit tersebut. Namun yang membedakan Indonesia dengan Jepang, adalah pada kesiapan negara itu dalam menghadapi bencana alam. Jepang yang memang unggul dalam teknologi dan merupakan salah satu negara maju, mampu menekan angka korban bencana gempa dan tsunami yang dari tahun ke tahun, memperlihatkan trend penurunan.

Seperti diungkapkan Perwakilan Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA), Goto Shinya, yang menyebutkan bahwa antara Indonesia dan Jepang memiliki lingkungan dan potensi gempa yang sama. Akan tetapi, dalam jumlah korban bencana alam, Jepang secara perlahan bisa mengurangi jumlah korban jiwa setiap kali bencana datang secara signifikan. Tercatat ada sekitar lima gempa besar, dengan korban tewas cukup besar yang pernah menguncang Jepang. Pada 1923, korban tewas mencapai 142.800 jiwa, 1995 (6.434 jiwa), 2011 (15.894 jiwa), dan pada 2016 (15 luka).

Sementara untuk gempa yang disusul tsunami, Jepang tercatat pernah enam kali mengalami tsunami dengan jumlah korban meninggal cukup besar yaitu pada 1498 (sekitar 31.000 jiwa), 1586 (8.000 jiwa), 1707 (30.000 jiwa), 1771 (13.486 jiwa), 1896 (27.122 jiwa), dan 2011 (2.000 jiwa). Mengapa Jepang berhasil menurunkan angka korban jiwa dari bencana gempa dan tsunami? Menurut Goto Shinya, karena mereka lebih siap dalam menghadapi bencana alam.

Faktor utamanya adalah lantaran kondisi struktur bangunan di Jepang dirancang tahan gempa. Akan tetapi yang lebih utama dan terpenting adalah komponen halusnya, yakni persiapan manusianya. Karena seringnya diguncang gempa, mereka mempersiapkan masyarakat Jepang agar tanggap terhadap bencana alam yang terus mengintai mereka, yang dimulai sejak tingkat TK, dengan memberikan sistem pendidikan, dengan cara memasukkan unsur-unsur pengetahuan dalam menghadapi bencana (Tempo.co, 7/10/2018).

Sebenarnya, sebagian masyarakat Aceh, terutama masyarakat Simeulue telah lebih tanggap dalam menghadapi bencana alam. Ketika bencana gempa dan tsunami 2004 silam, Simeulue sendiri sebenarnya juga tak luput dari terjangan tsunami. Namun karena pengetahuan mereka sudah jauh lebih maju terhadap bencana gempa dan tsunami, maka jumlah korban di Simeulue terbilang kecil hanya berjumlah enam jiwa meninggal. Bandingkan dengan wilayah lainnya di Aceh, di mana jumlah korban jiwanya jauh lebih besar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved