Opini
Mitigasi Bencana dari Kearifan Lokal
MENJELANG peringatan 14 tahun tsunami Aceh (26 Desember 2004 - 26 Desember 2018), tsunami kembali menerjang kawasan pesisir sepanjang Selat Sund
Hal itu karena orang tua di Simeulue, sudah sejak lama memberikan pendidikan menghadapi bencana secara turun-temurun. Mereka menyebut tsunami dengan smong (air bah besar). Jika gempa tiba dan air laut serta merta surut, maka mereka akan lari ke perbukitan, karena itu sebagai isyarat akan terjadinya tsunami. Sebaliknya dengan masyarakat Aceh lainnya; begitu air laut surut, mereka justru turun ke laut untuk memunguti ikan yang menggelepar-gelepar di pasir. Sehingga mereka tidak menyadari jika air laut yang maha dahsyat akan berbalik menerjang daratan.
Kearifan lokal inilah yang menyadarkan masyarakat Simeulue, lebih tanggap dan siap dalam mengadapi bencana alam, dibandingkan masyarakat lainnya di Aceh. Padahal, mereka tanpa dibekali dengan teknologi seperti sirine dan alarm peringatan dini tsunami. Sebab, begitu gempa datang, sebagian kecil warga akan memantau laut untuk melihat kondisi air di sana.
Mereka juga begitu pasih dalam mengukur air laut yang surut, serta kemungkinan potensi tsunami. Jika memang adanya potensi tsunami datang, maka para pemantau itu akan memberikan peringatan kepada warga lainnya agar cepat berlari ke perbukitan atau ke tempat yang lebih tinggi lainnya, sambil berteriak smong... smong... Mereka juga tidak panik dalam menghadapi bencana alam. Agaknya, walaupun terjadi jurang yang lebar antara Indonesia dan Jepang dari segi teknologi, bukan berarti kita harus menguasai tekonologi terlebih dulu, baru kemudian mempersiapkan diri dari pendidikan kebencanaan. Yang lebih penting adalah bagaimana mempersiapkan pengetahuan dan pelatihan kebencanaan yang terus-menerus dari generasi ke generasi, termasuk merancang bangunan dengan struktur yang tahan gempa. Dan terakhir, jika semua itu telah dilakukan, jangan lupa untuk berdoa kepada Allah Swt, agar bangsa kita terhindar dari bencana. Semoga!
Abd. Halim Mubary, M.Kom.I, Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga dan penghulu pada KUA Kecamatan Makmur, Bireuen. Email: halim_mubary@yahoo.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/screenshot-tsunami-aceh_20171226_021529.jpg)