Opini

Aceh Butuh Pemimpin ala ‘Tajussalatin’

DALAM sejarah peradaban Aceh, manuskrip Tajussalatin (Mahkota para raja) merupakan warisan indatu yang membicarakan seluk-beluk pemerintahan

Aceh Butuh Pemimpin  ala ‘Tajussalatin’
SERAMBI/ANSARI HASYIM
Pendopo Gubernur Aceh ini dibangun pada tahun 1880 M. Pendopo merupakan salah satu pembangunan awal kolonial Belanda di Aceh (atas). Pendopo sekarang menjadi rumah dinas Gubernur Aceh dan kondisinya sudah lebih terawat (bawah).

Dalam menjalankan roda pemerintahan, menteri berperan penting untuk membatu pimpinan dalam melaksanakan kebijakan menyejahterakan rakyat. Tajussalatin menjabarkan beberapa kriteria menteri yang dapat diangkat dalam satu pemerintahan, yaitu: Kheun kitab Shifatus Salathin, beuta yakin wahe raja. Beurang kasoe mat keurajeuen, meuntroe budiman wajeb beuna. Piasan donya meuntroe bijakkan, meung hana nyan sia-sia. Han meusampe peugang nanggroe, meutan meuntroe han samporeuna. Nabi Musa bak siuroe, pinta meuntroe bak Allah ta’ala. (Dalam kitab Shifatus Salathin dikatakan, harus yakin wahai raja. Siapa pun yang memegang kerajaan/pemerintahan, menteri yang bijak perlu ada. Lengkapilah negeri dengan menteri yang bijak, kalau tak demikian menjadi sia-sia. Tidak sempurna penguasa negeri, tanpa menteri yang bijaksana. Pada suatu hari Nabi Musa, meminta menteri pada Allah Ta’ala).

Pendamping penguasa
Bait di atas menjelaskan bahwa, sebuah pemerintahan perlu adanya menteri (pendamping penguasa) yang bijaksana. Tanpa adanya menteri maka sebuah pemerintahan itu dianggap tidak sempurna dan sia-sia, karena satu fungsi menteri yaitu sebagai asisten raja (penguasa) dalam pelaksanaan pembangunan, dan berbagai hal lainnya. Betapa pentingnya seorang wazir (menteri), sampai-sampai Nabi Musa pun meminta diberikan menteri kepada Allah Swt. Menteri atau wazir yang dikarunia Tuhan bagi Nabi Musa as adalah abang kandungnya sendiri, yaitu Nabi Harun as yang piawai berdiplomasi.

Dalam bait lainnya, dijelaskan satu bentuk keadilan raja yang tidak terlepas dari pada peran para menteri yaitu agar sang raja mengetahui situasi dan kondisi rakyat yang dipimpinnya. Berikut kutipannya: Raja ade dilee puroe, buettan meunoe geukeureuja. Nyang geunaseh dumna rakan, jih gantian mata teulinga. Meunoe geuyue le sulotan, geuyue jalan jaga-jaga. Geuyue kalon jeub-jeub sagoe, buet sinaroe geueu nyata. Hana jithee beurang kasoe, ulah bagoe mata-mata. ‘Oh ka malam dum jiriwang, jipeugah trang ubak raja. Lahe baten dum sibarang, jikheun seunang dum peukara. Got ngon jeuheut raja turi, meunan budi ade raja. Meunan bangon raja dilee, buet meuteuntee hanatara.

Artinya: Raja yang adil pada zaman dahulu, beginilah cara kerjanya. Semua orang kepercayaannya, dijadikan “mata telinganya”. Beginilah titah sultan, diperintahkan berkeliling mengamati negeri. Agar dapat diperhatikan setiap sudut, aktifitas rakyat dilihat nyata. Tidak dikenal oleh seorang pun, dia menyamar sebagai mata-mata (intel). Pada waktu malam mereka pulang, diberikan laporan kepada raja. Isi laporan segala hal dan apa adanya, dilaporkan segala-galanya. Baik dan jahat diketahui raja, itulah sifat raja yang adil. Demikian perilaku raja dulu, amat tentu pekerjaannya).

Dalam kondisi saat ini, jika pemerintah mau melihat kondisi masyarakat sudah terbantu dengan banyaknya media informasi baik cetak maupun elektronik yang berkembang. Dengan kata lain sebagian peran “intelijen” pada kerajaan dulu, saat ini sudah diambil alih oleh para wartawan. Sekarang terpulanglah kepada penguasa untuk berpihak kepada rakyat atau sebaliknya.

Tajussalatin merupakan hikayat klasik tentang tata pemerintahan kerajaan tempo doeloe, namun intisari isinya masih tetap aktual sampai sekarang. Manuskrip ini dapat dijadikan sebagai pedoman bagi pemimpin dalam menjalankan pemerintahan. Mudah-mudahan para pemimpin (eksekutif dan legislatif) Indonesia yang terpilih pada Pemilu 2019 nanti, benar-benar tetap menepati dan memenuhi janji-janji politiknya. Semoga!

T.A. Sakti (Drs. Teuku Abdullah, SH., MA), Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah), penerima Anugerah Budaya “Tajul Alam” dari Pemerintah Aceh pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V 2009 di Banda Aceh, Email: t.abdullahsakti@gmail.com.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved