Polemik Tiket Pesawat

Harga Tiket Pesawat Turun, Warga Aceh Tetap Pilih Terbang ke Jakarta via Kuala Lumpur, Ini Alasannya

Hasil pengecekannya di situs Traveloka, belum ada perubahan harga tiket untuk penerbangan dari Banda Aceh ke Surabaya.

Harga Tiket Pesawat Turun, Warga Aceh Tetap Pilih Terbang ke Jakarta via Kuala Lumpur, Ini Alasannya
For Serambinews.com
Sejak naiknya harga tiket penerbangan domestik (dalam negeri), Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Safaruddin SH, mulai sering pergi ke Jakarta melalui Kuala Lumpur, Malaysia. 

“Harga memang turun, tapi tidak banyak. Masih jauh lebih hemat terbang dengan Air Asia melalui Kuala Lumpur,” kata Asrizal menjawab Serambinews.com, Senin (14/1/2019).

Ia juga mengaku heran dengan pernyataan pihak INACA bahwa tiket penerbangan turun hingga 60 persen.

Padahal, berdasarkan pengecekan dirinya di situs penjualan tiket Traveloka, penurunan harga tak sekitar 30-40 persen, itu pun masih lebih tinggi dari sebelum kenaikan.

Karenanya, kata Asrizal, banyak warga Aceh menyatakan masih tetap akan terbang ke Jakarta melalui Kuala Lumpur.

“Yang membuat penasaran, kenapa Air Asia bisa jual tiket murah daripada maskapai di Indonesia. Kalau dikatakan karena kenaikan harga avtur, memangnya maskapai luar negeri itu tidak pakai avtur?,” kata Asrizal.

Anggota DPRA, Asrizal H Asnawi.
Anggota DPRA, Asrizal H Asnawi. (FACEBOOK)

Dikutip dari cnbcindonesia.com, 14 Januari 2019 pagi, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta Rp 8.490 per liter. Naik 12% dibanding harga avtur pada Januari 2018 lalu dari bandara yang sama, yang hanya Rp 7.580 per liter.

Dilihat dari kurs dolar, harga avtur dalam dolar di Bandara Soekarno-Hatta US$ 0,58 per liter. Naik dibanding Januari 2018 yang US$ 056,2 per liter.

Setiap liternya sudah termasuk pengiriman ke pesawat namun belum menghitung PPN 10% dan PPH 0,3% khusus penerbangan domestik.

“Kalau dibilang karena memasuki peak season Natal dan Tahun Baru 2019 yang menyebabkan tingginya permintaan tiket pesawat, tapi saya cek di Traveloka, harga tiket mahal ini terus berlangsung hingga Desember 2019. Jadi alasan peak season libur akhir tahun ini terbantahkan,” kata Asrizal.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini pun meminta kepada pemerintah dan Asosiasi Penerbangan Indonesia (INACA) untuk memberikan penjelasan secara transparan dan masuk akal.

“Khusus untuk Garuda Indonesia, sebagai perusahaan BUMN harusnya bisa memberikan kemudahan dan kesejahteraan bagi rakyat sebagaimana slogan BUMN yaitu ‘BUMN untuk membangun negeri’ jangan sebaliknya mencekik leher anak negeri,” tukas Asrizal H Asnawi.

Baca: Tangis Seorang Ibu Saat Pindahkan Kuburan Suami dan Cucunya, Gara-gara Diminta Pilih Caleg Berbeda

Penyebab Harga Melangit

Sebelumnya, Ketua Umum Indonesia National Carrier Association (INACA) I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat itu ditengarai oleh beberapa faktor.

Salah satu faktornya karena memasuki peak season Natal dan Tahun Baru 2019.

“Jadi memang trigger-nya karena peak season. Tapi, margin memang dikarenakan adanya kenaikan variabel-variabel, avtur, kemudian kurs dan pinjaman. Karena semua airline ada utang segala macam kan,” ucap pria yang akrab disapa Ari ini.

Ari mengklaim sejak 2016 harga tiket pesawat tak pernah naik.

Namun, biaya operasional penerbangan terus meningkat.

“Oke kalau kita bisa sampaikan dari 2016-2018 kurs kita sudah melemah lebih dari 170 persen. Sedangkan tarif maskapai penerbangan dari April 2016 sampai detik ini tidak ada kenaikan. Sedangkan harga fuel sudah (naik) lebih dari 125 persen. Labour itu untuk 1-3 bulan sudah naik 350 persen,” kata Ari yang juga menjabat Direktur Utama Garuda Indonesia.

Baca: Kenapa Tiket Pesawat ke Jakarta Lebih Mahal dari pada ke Kuala Lumpur? Ini Penyebab Harga Melangit

Baca: Biaya Kargo Meroket, Asperindo Kelimpungan

Menurut dia, di masa peak season pun para maskapai tak pernah menaikan harga melebihi tarif batas atas yang ditentukan pemerintah.

Atas dasar itu, dimasa Natal dan Tahun Baru 2019 ini dia menilai kenaikan harga tiket pesawat masih dalam batas yang wajar.

Mengenai harga tiket perjalanan ke luar negeri yang lebih murah ketimbang penerbangan domestik, kata Ari, disebabkan karena pajak yang dikenakan oleh pemerintah.

“Di dalam negeri kita kena pajak pertambahan nilai (PPN), di luar negeri tidak kena PPN. Hal tersebut yang buat perbedaan harga,” jelas Ari.

Penyebab lain harga tiket luar negeri lebih murah ketimbang dalam negeri, menurut dia adalah tingkat frekuensi penerbangan.

Ari mengatakan, frekuensi penerbangan di luar negeri tinggi sehingga maskapai melakukan perang harga.(*)

Penulis: Zainal Arifin M Nur
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved