Biografi Bob Marley, Legenda Reggae yang Gagal Dibunuh, dan Diduga Palsukan Kematiannya
Bob Marley terkenal karena keyakinannya yang kuat pada "Gerakan Rastafari", yang tercermin dari lagu-lagu yang dia nyanyikan.
Tahun berikutnya, Marley menandatangani kontrak dengan CBS Records yang berbasis di London. The Wailers tampil bersama I-Threes, grup wanita yang anggotanya termasuk Marcia Griffiths, Judy Mowatt dan istri Marley, Rita.
Band yang kemudian dinamakan Bob Marley & The Wailers, melakukan tur secara luas dan membantu meningkatkan popularitas reggae di luar negeri. Pada 1975, mereka mencetak hit Top 40 pertama mereka di Inggris dengan lagu "No Woman, No Cry."
Baca: Usai Makan Kue Ulang Tahun Bertabur Ganja, 4 Orang Masuk Rumah Sakit
Baca: Thailand Batalkan Pengajuan Hak Paten Ganja untuk Perusahaan Asing
Baca: VIDEO - Pengembangan Kasus Ganja Tersangka Ogek, Polisi Amankan Tersangka MY
Pernikahan dan Rastafari
Marley menikahi Rita Anderson pada 1966 dan menghabiskan beberapa bulan tinggal di Delaware, AS, bersama ibunya.
Ketika kembali ke Jamaika, dia mulai menjelajahi sisi rohaninya. Dia mengembangkan minat pada gerakan Rastafari.
Gerakan Rastafari baik secara agama dan politik dimulai di Jamaika sekitar 1930-an. Marley lalu menumbuhkan rambut gimbal khasnya.
Sebagai seorang Rasta yang taat, Marley bahkan mengikuti bagian dalam ritual penggunaan ganja. Gerakan tersebut meyakini jika merokok ganja dapat membersihkan tubuh dan pikiran, serta membawa jiwa lebih dekat kepada Tuhan.
Dari Jamaika, gerakan Rastafari menyebar ke seluruh dunia berkat popularitas dari Bob Marley. Lirik lagu dari bintang reggae itu penuh dengan berbagai doktrin Rasta.
Hingga kini, Rastafarianiesme tidak pernah menjadi agama yang sangat terorganisir, dan banyak penganutnya memandangnya sebagai budaya atau cara hidup.
Baca: Jamaika Segera Legalkan Ganja
Baca: Wow, Ternyata Pelari Jamaika Berasal dari Planet Mars
Baca: Setelah Otaki Pembunuhan Suami, Jamaliah Menyamar
Upaya pembunuhan
Kembali ke Jamaika, Marley dipandang sebagai pendukung Partai Nasional Rakyat. Pengaruhnya itu dianggap sebagai ancaman sehingga ada upaya pembunuhan terhadapnya pada 1976.
Dua hari sebelum konser, sekelompok pria bersenjata menyerang Marley dan Wailers. Satu peluru mengenai tulang dada dan bisep Marley.
Meski tidak terluka parah, tapi manajernya, Don Taylor, terkena tembakan lima kali dan harus menjalani operasi untuk menyelamatkan hidupnya. Motif penembakan tidak pernah terungkap dan Marley meninggalkan negara itu sehari setelah konser.
Selama di Inggris, Marley menulis lagu Exodus, yang menceritakan analogi kisah Musa dan orang Israel meninggalkan pengasingan.
Dirilis pada 1977, lagu ini memuncak di Inggris dan seluruh lagunya dalam albumnya merajai tangga lagu selama lebih dari setahun. Album tersebut hingga hari ini dianggap sebagai salah satu yang terbaik.
Baca: Sukses di Album Utang Jeulame, Penyanyi Miftah Arif Kembali Buat Kejutan di 2019 Bersama Apache13
Baca: Artis Aceh Sopan Sopian Launching Album Religi Berbahasa Alas
Baca: Daftar Lengkap Pemenang Penghargaan Musik Grammy Awards 2019
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bob-marley_20151126_064731.jpg)