Opini

Sumbangan Islam bagi Peradaban

TIDAK ada makhluk Allah yang diberi kemuliaan sehebat manusia. Coba lihat di alam ini, makhluk yang bernama binatang

Sumbangan Islam bagi Peradaban
Para arkeolog melakukan pengalian untuk penelitian di kawasan Lamuri, Lamreh, Aceh Besar, Sabtu (19/9). SERAMBI/MASRIZAL 

Oleh Faizal Adriansyah

TIDAK ada makhluk Allah yang diberi kemuliaan sehebat manusia. Coba lihat di alam ini, makhluk yang bernama binatang; dari dulu sampai kapan pun hidupnya tidak berubah. Artinya, mereka (binatang) tidak bisa membangun peradaban. Tidak ada sapi atau kambing yang membangun perkampungan dan meningkat taraf hidupnya, sejak diciptakan mereka tetap tidak berubah hidup berkeliaran di alam bebas.

Padahal, kalau kita lihat kenyataan dari makhluk Allah lainnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Lihatlah ketika lahir, manusia tak berdaya terbaring, hanya menangis dan meronta jika butuh sesuatu. Manusia butuh perjuangan dan belajar untuk bisa merangkak, berjalan, dan berlari. Waktu yang dibutuhkan pun bertahun. Beda dengan hewan, tidak lama setelah dilahirkan, mereka bisa berjalan, berlari dan mencari makan sendiri. Ambilah contoh ayam, kuda, dan lain-lain.

Potensi ‘dahsyat’
Di balik ketidakberdayaan manusia tersebut, tersimpan potensi “dahsyat” yang Allah hanya titip pada manusia, yaitu akal. Bahkan menurut para ahli kapasitas otak manusia sesungguhnya lebih besar dari 1 juta GB, kita bisa bayangkan seandainya kecerdasan manusia itu dibuat komputer, maka sebesar apakah komputernya? Ada yang berseloroh sebesar dunia ini.

Dengan akal itulah manusia membangun peradaban di muka bumi ini. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.” (QS. At-Tin: 4-5).

Hanya manusia yang memiliki peradaban mulai primitif sampai modern, dalam perkembangan sejarah kehidupan manusia tidaklah otomatis langsung modern seperti hari ini. Manusia mengawali kehidupannya di muka bumi dengan sangat sederhana dan terbatas. Masa awal kehidupan manusia ini dikenal dengan zaman purba atau primitif. Mereka masih hidup di gua-gua atau di atas-atas pohon. Hidupnya pun berpindah-pindah tempat, seperti juga hewan.

Konon, awalnya manusia dalam berkomunikasi pun menggunakan “bahasa isyarat”, kemudian mereka beranjak menemukan “bahasa verbal” sebagai sarana untuk saling berhubungan sosial. Proses ini diperkirakan membutuhkan waktu yang lama, bisa jadi berabad-abad lamanya. Demikian juga ketika manusia menulis di dinding-dinding gua sampai beralih menemukan kertas dan bahkan alat cetak, waktunya beratus bahkan beribu tahun.

Hingga sampailah peradaban manusia pada hari ini, sungguh menakjubkan perubahan terus terjadi, tidak lagi menunggu beratus tahun atau bahkan tidak perlu tahun. Hanya dalam hitungan hari, selalu ada temuan baru dalam bidang sains dan teknologi. Kita beruntung ditakdirkan hidup pada zaman ini menyaksikan sebuah perubahan tatanan dunia baru. Perubahan abad ini mempengaruhi semua lini kehidupan, bahkan masuk ke rumah tangga dan sisi kehidupan sosial lainnya. Kondisi inilah yang membuat manusia terkadang menjadi angkuh dan sombong, melupakan proses penciptaannya dan melupakan Tuhan pemberi kecerdasan kepadanya. Tidak sedikit manusia semakin cerdas, semakin jauh dari Tuhannya. Seharusnya semakin dekat dan patuh pada Sang Pencipta.

Sejarah perjalanan peradaban manusia tidaklah bim salabim, tiba-tiba menjadi hebat dan luar biasa seperti hari ini. Tahapan demi tahapan telah manusia lalui hingga mencapai kemajuan peradaban milenial seperti hari ini. Pertanyaan kita adakah peranan umat Islam dalam perjalanan sejarah peradaban manusia?

Umat Islam memiliki andil besar dalam mengantar peradaban manusia kepada peradaban modern hari ini. Berbagai bukti sejarah yang tidak dapat dipungkiri bahwa ilmuwan-ilmuwan muslim menjadi peletak dasar bagi perkembangan sains modern hari ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved