Kamis, 9 April 2026

Penggemar Game FPS yang Mengandung Konten Kekerasan dan Sadisme Makin Ramai di Aceh

Game bergenre First Person Shooter (FPS), yang membuat penggunanya bisa bermain dengan sudut pandang orang pertama kini semakin digemari di Aceh.

Penulis: Eddy Fitriadi | Editor: Yusmadi
Youtube
Game bergenre First Person Shooter (FPS), yang membuat penggunanya bisa bermain dengan sudut pandang orang pertama kini semakin digemari di Aceh. 

Laporan Eddy Fitriady | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Game bergenre First Person Shooter (FPS), yang membuat penggunanya bisa bermain dengan sudut pandang orang pertama kini semakin digemari di Aceh.

Para penggemarnya yang kebanyakan kalangan milenial (kelahiran 1980-an dan 2000-an), bahkan sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di kamar, warung internet (warnet), atau warung kopi, demi menyelesaikan misi-misi dalam game action tersebut.

Salah satu kenikmatan bermain yang bisa diperoleh pengguna game ini yaitu pemain dapat merasakan sensasi yang dialami oleh karakter utama yang ia mainkan dalam game.

Amatan Serambinews.com, sebagian besar game FPS yang paling sering ditemui dan disukai remaja Banda Aceh saat ini bertema perang dan gangster.

Tak hanya lewat konsol permainan (video game) atau personal computer yang terhubung dengan internet, game berjenis itu juga bisa dinikmati para pengguna android.

Grafis yang detail dengan jalan cerita yang seru, membuat game FPS begitu ‘digilai’ anak muda zaman now. Namun tak dapat dipungkiri, game dengan genre perang memuat konten kekerasan, pornografi, bahkan sadisme.

Baca: Inilah 6 Fakta Brenton Tarrant, Pelaku Teroris di Selandia Baru, Belajar Kekerasan dari Game

Baca: Benarkah Game Kekerasan Jadi Pemicu Penembakan Brutal di Selandia Baru? Begini Menurut Hasil Riset

Baca: Gegara Game Online, TKW Ini Mendapatkan Jodoh Bule Ganteng

Tak jarang, Serambinews.com menemukan bocah-bocah yang masih berseragam sekolah, tengah asyik bermain game jenis itu di beberapa rental game Banda Aceh.

Yang paling memprihatinkan, anak kecil itu tampak lihai dan enjoy memainkan perannya sebagai tokoh jahat yang terlibat premanisme, perjudian, prostitusi, dan tindakan melawan hukum lainnya.

Praktisi IT Banda Aceh, Teuku Farhan yang dimintai tanggapannya terkait fenomena tersebut, Senin (18/3/2019) mengatakan, kecanduan anak muda terhadap game jenis itu saat ini sudah pada level mengkhawatirkan. 

Ia mengibaratkan kaum milenial yang menghabiskan waktu di warung kopi dan game online seperti ‘zombie’, yang masih bergentayangan di luar rumah hingga dini hari.

“Kecanduan anak muda terhadap game FPS sungguh memprihatinkan. Perlu kesadaran bersama dari orang tua dan pemerintah untuk segera menangani adiksi game ini,” katanya.

Bahkan Farhan menemukan game genre FPS yang menjadikan orang-orang Arab sebagai target musuh.

Hal itu menurutnya sangat membahayakan bagi masyarakat Aceh yang notabene muslim, sebab orang-orang Arab yang identik dengan Islam dicitrakan sebagai teroris. 

“Game kini bukan lagi sekadar hiburan, tapi sudah menjadi ideologi,” ujar Direktur Eksekutif Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Aceh itu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved