Opini

Isra Mikraj dan Perintah Shalat

ISRA Mikraj merupakan satu peristiwa agung dan luar biasa, yang tidak mudah dijangkau dan dipahami oleh indra

Isra Mikraj dan Perintah Shalat
Santri bersama warga mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh Dr H Muhammad Sofyan Lc MA pada acara peringatan Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW 1436 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Shalat yang ihsan
Shalat secara harfiyah bermakna doa, yaitu irtifa’ul aqla ilallah likay nasjudu lahu wa nasykuruhu wa natlubu ma’unatahu (mengangkat/meninggikan pikiran dalam rangka sujud, bersyukur dan memohon pertolongan-Nya). Secara istilah, shalat adalah satu ibadah yang dimulai dengan takbiratul ihram, diikuti dengan beberapa perkataan, perbuatan, dan diakhiri dengan salam.

Takbiratul ihram adalah “takbir haram”, artinya ketika takbir itu dilakukan, haramlah melakukan hal/kegiatan di luar kaifiyat shalat. Bila itu dilakukan dengan sengaja tanpa `uzur syar’i, ibadahnya tertolak/batal atau paling kurang bisa makruh.

Begitu tingginya nilai shalat, sehingga Rasulullah saw mengatakan, as-shalatu mi’raju lil mu’minin (Shalat itu merupakan mikrajnya bagi setiap mukmin). Khusyuk dalam shalat adalah satu faktor memperoleh aflah (kemenangan) dari Allah Swt, seperti diisyaratkan Alquran, Qad aflahal mu’minun allazinahum fi shalatihim khasyi’un (QS.Al-Mukminun:1-2).

Persoalan yang sering muncul adalah bagaimana menjadikan shalat itu khusyuk? Khusyu’ bermakna al-inhifat, artinya menundukkan diri pada aturan dan kaifiyat shalat yang sedang dilakukan. Sejak berdiri betul menghadapkan badan, wajah dan menghadirkan hati (hudlurul qalbi) dan pikiran kepada tempat sujud.

Konsentrasi menghadap Allah, lepaskan diri dari dimensi duniawiyah, pusatkan perhatian dan masuk dalam dimensi ilahiyah, sebagai wujud dari makna mikraj. Kita berada di bumi, tetapi seolah-olah kita sudah berada di alam yang tinggi. Di sinilah lahirnya jiwa ihsan, sebagaimana diajar Rasulullah saw, anta’budallaha kaannaka tarahu (sembahlah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya). Tetapi bila kamu tidak mampu melihat-Nya, yakinlah bahwa Alah melihat kamu (fainlam takun tarahu, fainnahu yaraka).

Bila semua umat Islam menempatkan diri dan memahami keberadaannya dalam pengawasan Allah Swt, insya Allah yang muncul ke permukaan ini adalah ma’rufat-ma’rufat (kebaikan-kebaikan). Ma’rufat-ma’rufat itu akan mampu menenggelamkan semua bentuk munkarat dan fahisyah, apakah itu mengonsumsi khamar, narkoba, perjudian, pencurian, korupsi, khalwat, prostitusi, perzinaan, pembunuhan dan lain-lain.

Itu semua merupakan dampak positif dari makna ruh shalat, seperti diisyaratkan Allah Swt dalam Alquran, “Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Wallahu a’lamu bish-shawab.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, dan anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved