Breaking News:

Balai Bahasa

Program Aceh Caröng, Bahasa Bangai

Pemerintah Aceh yang dipimpin Irwandi-Nova (kini PLT Nova Iriansyah) telah lama mengusung slogan

Editor: bakri
Program Aceh Caröng, Bahasa Bangai
IST
Bahasa Bangai

Oleh: Jarjani Usman, Penulis adalah dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Pemerintah Aceh yang dipimpin Irwandi-Nova (kini PLT Nova Iriansyah) telah lama mengusung slogan “Aceh caröng” untuk bidang pendidikan. “Aceh caröng” yang secara semantik berarti Aceh pandai, merupakan suatu gambaran umum masyarakat Aceh yang diinginkan terbentuk suatu waktu. Itu tentunya suatu impian yang jauh di masa yang akan datang.

Namun kalau dilihat secara bahasa dan hubungannya dengan keadaan memperihatinkan kini, “Aceh caröng” masih mengandung permasalahan makna, sehingga perlu diperbincangkan kembali. “Aceh carong” merupakan sebuah frase yang mengandung sebuah kata benda (Aceh) dan kata sifat (carong), yang lebih berorientasi hasil yang diperoleh. Carong adalah hasil dari proses belajar, yang tentunya membutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya dalam bidang pendidikan. Dengan kata lain, ini lebih mengarah kepada visi ketimbang misi.

Secara visi adalah keadaan Aceh ang ingin dilihat ke depan, sedangkan misi adalah usaha-usaha sadar dan bertanggung jawab yang dilakukan untuk menghasilkan masyarakat Aceh yang pandai. Jadi, sebuah misi idealnya mengandung kata kerja. Dengan demikian, Pemerintah Aceh lebih layak mengusung “peucarong Aceh” untuk bidang pendidikan.

Peucaröng Aceh
“Peucaröng Aceh” mengandung arti usaha-usaha untuk membuat masyarakat Aceh pandai. Tentunya ini merupakan suatu proses yang perlu dilakukan untuk mencapai “Aceh caröng” suatu ketika. Namun dalam sejarah penggunaan istilah-istilah yang kurang tepat, biasa terjadi dalam dunia ilmiah. Usaha koreksi terhadap istilah setelah dipikirkan kembali secara reflektif dan ilmiah, juga bukan suatu hal baru.

Termasuk istilah-istilah yang digunakan oleh ahli kelas dunia, yaitu Benjamin S Bloom dalam mengembangkan taksonominya, yang dikenal dengan Taxonomi Bloom. Istilah-istilah yang digunakan oleh Bloom dalam taksonominya dan telah dirujuk berpuluh tahun oleh para pelaku riset dan ahli pendidikan, kemudian dikritik oleh Anderson karena dalam Takonomi Bloom dianggap cenderung menggunakan istilah-istilah yang mati, tidak menghidupkan karena menggunakan kata benda.

Lalu Anderson mengubah kata-kata benda tersebut dengan katakata yang bersifat mengerjakan, mulai dari level rendah hingga level tinggi. Misalnya, dari knowledge (pengetahuan) diubah menjadi remembering (mengingat), comprehension (pemahaman) menjadi understanding (memahami), application (penerapan) menjadi applying (menerapkan), analysis (analisa) menjadi analyzing (menganalisa), synthesis (sintesa) ditukar dengan evaluating (mengevaluasi), evaluation (evaluasi) menjadi creating (menciptakan).

Kalau dipikirkan, perubahan ini lebih rasional. Sama halnya, kekurangtepatan pada “Aceh caröng” bisa saja terjadi. Terutama bila dikaitkan dengan roses peucarong Aceh yang dilakukan Pemerintah Aceh kini, misalnya, agar masyarakat Aceh tidak bangai dengan bahasa sendiri.

Bahasa Bangai
Namun sepertinya program “Aceh caröng” pun belum sepenuhnyamengakomodir kebutuhan krusial masyarakat Aceh. Kebutuhan masyarakat Aceh tentunya tidak semuanya mampu dianalisis dan dimasukkan sebagai bagian dari usaha untuk peucarong Aceh.

Misalnya, kemampuan masyarakat Aceh untuk menulis dan membaca bahasa Aceh yang selama ini sangat memperihatinkan. Bahasa Aceh hanya mampu dipakai oleh sebahagian besar masyarakat Aceh masa kini untuk berbicara, tapi tidak untuk menulis secara benar. Bahkan, kalau mungkin ditawarkan dua surat kabar, yang satu berbahasa Indonesia dan satu lagi berbahasa Aceh, sayayakin yang akan dipilih masyarakat Aceh untuk dibaca adalah yang berbahasa Indonesia.

Soalnya, sudah lebih mudah membaca korankoranberbahasa Indonesia ketimbang yang berbahasa Aceh. Koran berbahasa Aceh akan dipilih untuk dibaca pada waktu senggang saja, sekedar untuk menghibur diri. Tidak tertutup kemungkinan, tulisan-tulisan dalam bahasa Aceh, bila dibaca akan terdengar lucu. Soalnya, tak semua huruf vokalnya mampu dibaca dengan benar dan secara spontan oleh setiap orang Aceh, walaupun oleh masyarakat Aceh yang berbahasa Aceh. Misalnya, kata “ék” (naik) dengan “èk” (kotoran), yang kadangkala dibaca bertukar-tukar, sehingga terdengar lucu dan mengocok perut bila dibaca di pos-pos jaga di kampungkampung.

Apalagi bagi orang yang tak mampu membaca tulisan yang menggunakan umlaut. Umlaut sebenarnya sangat membantu membedakan bunyi huruf-huruf vocal dalam bahasa Aceh. Dengan adanya umlaut di atas huruf, akan memudahkan membaca beragam bunyi.

Namun demikian, belum ada bahasa Aceh dalam versi terkini yang disahkan oleh pemerintah. Akibatnya, beragam tulisan bahasa Aceh muncul. Sebahagian orang menggunaan ejaan lama dan bahkan berargumen, itulah bahasa Aceh yang benar. Misalnya, untuk kata “yang” ditulis “jang”. Seakan-akan Bahasa Aceh tidak mengalami perkembangan atau perubahan. Bila diamati, seluruh bahasa di dunia telah mengalami perkembangan dan perubahan, mulai dari Bahasa Indonesia hingga Bahasa Inggeris.

Sebahagian yang lain menggunakan caranya masing-masing. Misalnya, untuk kata “anjing” ditulis “asee” dan ada juga yang menulis “asè” dan “ase”. Hal ini menunjukkan demikian urgennya kehadiran pemerintah untuk membantu masyarakat Aceh agar carong dengan bahasanya.

Dengan kata lain, masyarakat Aceh harus di-peucarong dengan Bahasa endatu-nya, bukan menunggu carong tersendiri. Untuk itu, pemerintah perlu membuat kebijakan dan merancang program bahasa Aceh untuk masyarakat, yang dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah di berbagai tingkatan. Bisa jadi, kurikulum yang digunakan nantinya dalam bentuk integratif (integrated) dengan cara menggunakan bahasa Aceh dalam satu pelajaran tertentu atau secara terpisah (separated) sebagai mata pelajaran tersendiri.

Karena di Aceh terdapat juga berbagai bahasa daerah, sepertiGayo, Jamee, Tamiang, dan lain-lain, maka perlu dipikirkan apakah perlu membuat kurikulum bahasa daerah menurut bahasa dominan di daerah masing-masing. Bisa juga dibuat sejumlah pilihan bagi daerahdaerah yang penduduknya menggunakan multi bahasa. Anak-anak bisa memilih untuk belajar bahasa daerah yang disukainya.Melihat kondisi penggunaan bahasa Aceh yang terus tergerus dan hanya tersisa pada bahasa bicara (spoken language) saja, perlu ditindaklanjuti dengan melaksanakan program Peucarong Aceh dengan Bahasa Aceh sesegera mungkin.

Buku-buku bahasa daerah juga perlu digalakkan penulisannya dan perlu seminar untuk mendiskusikan standarisasi penulisannya. Apalagi selama ini, buku-buku tentang tata bahasa bahasa-bahasa di Aceh sangat sulit ditemukan. Perguruan tinggi di Aceh selama ini pun belum tertarik untuk membuka program bahasa Aceh, yang berbeda dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa yang berani membuka jurusan Bahasa dan Sastra Jawa dan jurusan Bahasa dan Sastra Sunda. Diakui atau tidak, ini adaah bentuk pengabaian bersama terhadap bahasa sendiri.

Tindakan-tindakan konservatif ini termasuk bagian dari upaya pemerintah untuk menyelamatkan bahasa Aceh dari kepunahan. Bukan saja kepunahan dalam bentuk ketidakmampuan menulis, tetapi juga kemampuan untuk memahami tata bahasanya dengan baik. Kebanyakan pelajar bahasa selama ini sudah sangat mahir dengan tata bahasa lain, seperti tata bahasa Indonesia, tata bahasa Inggris, tata bahasa Cina, tata bahasa Arab dan lain-lain, tetapi tak memahami tata bahasa ibu (mother tongue) sendiri. Jika dipikirkan, sungguh ini suatu yang ironis, bangai dengan bahasa sendiri.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved