Kisah Keranda Jenazah Legendaris di Indonesia, Telah Ada Sejak 1929 dan Berbobot 100 Kg

Keberadaan Kampung Jawa di Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara memiliki kelindan sejarah panjang di Bali.

Editor: Fatimah
Tribun Bali
Keranda jenazah terbuat dari besi bertuliskan tahun 1929. 

''Nanti kedepan kita memang berencana akan menjadikan keranda ini semacam kita museumkan juga."

Baca: Terima Uang Rp 10 Juta Terkait Kasus Romahurmuziy, Menag Lukman Hakim Mengaku Sudah Lapor ke KPK

"Untuk sejarah tertulisnya dalam waktu dekat akan kita susun, biar valid,'' kata pria asli kelahiran Denpasar ini.

Seperti pada umumnya, keranda jenazah ini berukuran standar 3x1 meter terbuat dari kayu jati dan dicat warna hijau.

Kondisinya sendiri masih terlihat kokoh, tanpa ada tanda dimakan usia.

Pada bagian depan tudung, terdapat ukiran angka yang merujuk pada tahun pembuatan bertuliskan angka 1929.

Baca: Indonesia Jadi Presiden Dewan Keamanan PBB, Peserta Sidang Hingga Sekjen PBB Kompak Pakai Batik

Dari informasi yang dihimpun, keranda ini diperkirakan sudah ada dan digunakan warga sejak zaman kolonial Belanda sejak 1918-1929.

Keranda itu merupakan keranda pertama yang digunakan warga Kampung Jawa jika ada warga yang meninggal.

Mulanya, kata dia, total terdapat dua unit keranda. Namun, satu unit dibawa ke kampung Kecicang Islam, Karangasem.

Pada 2005, keranda ini sudah ‘pensiun’ untuk menggotong jenazah alias sudah tak lagi dipakai, baik di sini maupun di Karangasem, karena sudah ada keranda yang lebih ringan berbahan stainless steel.

Baca: Pria Asal Jabar Tertipu Iming-Iming Pekerjaan di Aceh, Sempat Dirawat di RSJ dan Dipulangkan

''Karena memang berat sekali. Butuh lebih dari 8 orang untuk mengangkut satu jenazah. Belum ada jenazah saja sudah berat, ada sekitar 100 kg beratnya,'' ujarnya.

Bicara soal Kampung Jawa juga tak lepas dari peristiwa Perang Puputan 1906.

Dalam perang melawan kolonial Belanda, konon juga melibatkan perjuangan bersama antara prajurit pejuang Jawa dan Bali dalam mengusir penjajah di bawah Kerajaan Pemecutan Badung.

Baca: Tinggalkan Dunia Artis, Kini Mantan Personel Cherrybelle Ini Tampil Cantik Pakai Seragam PNS

Hal ini bisa ditelusuri melalui monumen atau prasasti di TPU Wanasari Maruti 13.

Dalam monumen ini mencatat 25 nama Moeda Djoeang/Syuhada Kemerdekaan Republik Indonesia Kampoeng Djawa Denpasar.

Dari perjuangan bersama inilah kemudian konon Raja Pemecutan Badung menghibahkan tanah di seputaran Jalan A Yani dan Maruti Denpasar sebagai lahan pemukiman para pejuang Jawa.

Lahan hibah ini kemudian menjadi pusat pemukiman hingga saat ini. (eurazmy/Tribun Bali)

Artikel ini tayang pada Intisari Online dengan judul : Kisah Keranda Jenazah Legendaris di Indonesia yang Telah Ada Sejak Indonesia Belum Merdeka

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved