Jurnalisme Warga

Kopelma Darussalam Serasa “Jalur Gaza”

SAYA tak bisa menafikan pepatah ini: jauh berjalan, banyak dilihat. Namun, kini saya sadari, menetap lama

Kopelma Darussalam Serasa “Jalur Gaza”
IST
AYU ‘ULYA, alumnus Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

Jembatan batin
Sebuah cuitan dari akun media sosial seorang penulis berbakat sekaligus Antropolog UIN Ar-Raniry, Dr Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad yang akrab disapa KBA sempat menghebohkan jagat maya dalam dua hari terakhir. Cuitan tersebut berisi kegelisahannya tentang semakin banyaknya sekat atau tembok yang dibangun antarkedua kampus jantung hati rakyat Aceh tersebut yang sekilas tampak seperti kondisi di Jalur Gaza. Setelah membaca hal tersebut, kegelisahan dan kebingungan yang sudah bertahun saya pendam menjadi pecah, tumpah ruah.

Sebagai rakyat awam yang sudah lama menetap di kawasan Kopelma Darussalam, hilangnya satu per satu jalan tikus yang menghubungkan antarkedua kampus dan rakyat sekitar, dengan tembok dan palang besi yang bertumbuh, sempat membuat saya bingung dan bertanya-tanya akan kegunaannya. Namun, minimnya ilmu dan tak pahamnya saya akan perpolitikan kampus membuat saya mencoba berpikir sepositif mungkin, walau intuisi kerap berkata lain.

Pasalnya, kegelisahan KBA bisa jadi kegelisahan batin warga Darussalam khususnya dan warga Aceh pada umumnya. Bedanya, KBA tahu harus menyalurkan kegelisahannya melalui tulisan, adapun rakyat biasa mungkin hanya menyalurkan aspirasinya dari mulut ke mulut di pasar dan warung kopi yang kemudian aspirasi tersebut dibuyarkan oleh riuhnya suasana pasar atau lenyap bersama panasnya kepulan asap air penyeduh kopi.

Kekhawatiran akan tumbuhnya “kampus menara gading” yang semakin terasing dari kehidupan rakyat nyata patut ditinjau ulang. Sekat-sekat fisik pada kampus justru menimbulkan kesan seakan memandang masyarakat sebagai musuh atau orang yang patut dicurigai. Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini di Darussalam, terkait lebih pentingnya sekat hak tanah kampus daripada atap asrama yang menaungi para penuntut ilmu. Hal tersebut termaktub jelas dalam surat edaran peringatan nomor: B/412/UN11/RT.04.01/2019 yang diberikan Rektor Unsyiah kepada Pengelola Asrama Putri UIN Ar-Raniry. Para penuntut ilmu asal UIN Ar-Raniry diminta bersiap-siap pindah karena asrama yang mereka tempati diklaim berada di atas aset tanah milik Unsyiah.

“Pergesekan” semacam ini yang membuat alumni simalaka seperti saya semakin merasa tidak berdaya. Bukan karena hampa solusi, tapi esensi “jembatan batin” untuk saling berdialog dan berdamai tak dapat diwujudkan bila ego dan saling klaim masih dikedepankan. Sebab, sehemat pemikiran awam saya, tujuan pendidikan sejatinya adalah untuk saling menumbuhkan, saling mengasihi, saling mencintai. Lantas, cinta macam apa yang merusak di bumi yang bernama Darussalam, negeri yang aman?

Ingatlah bahwa pada dasarnya Kopelma itu hanya satu, satu kawasan, satu hamparan, dan satu cita-cita. Ia jadi penanda suatu fase penting, yakni berakhirnya konflik DI/TII, menandai masa transisi dari Darulharb (daerah perang) ke era yang damai, sehingga dinamakan Darussalam. Nah, setelah sekian lama Unsyiah dan UIN Ar-Raniry hidup rukun sebagai “jantung dan hati” di perkampungan pelajar mahasiswa, akankah “perang kecil” tanpa sengaja disulut di negeri yang damai ini? Wallahu’alam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved