Jurnalisme Warga

Mudik Rasa Wisata

PERAYAAN Lebaran di Indonesia, tak terkecuali di Aceh tanoh lon sayang, sangatlah identik dengan tradisi mudik

Mudik Rasa Wisata
IST
AYU ‘ULYA, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Pidie Jaya

OLEH AYU ‘ULYA, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari
Pidie Jaya

PERAYAAN Lebaran di Indonesia, tak terkecuali di Aceh tanoh lon sayang, sangatlah identik dengan tradisi mudik alias pulang kampung dan liburan. Suasana itu pula yang kental terasa saat menyambut Hari Raya Idulfitri tahun 2019 ini, 1 Syawal 1440 Hijriah yang di Indonesia bertepatan dengan tanggal 5 Juni 2019.

Menjelang 1 Syawal lalu, saya beserta keluarga memutuskan pulang kampung ke Pidie Jaya. Seperti biasa, jika melakukan perjalanan dari Banda Aceh menuju Pidie Jaya (Pijay) maka terdapat beberapa opsi transportasi. Namun, moda transportasi yang paling kerap kami gunakan adalah mibibus L-300 atau sepeda motor (sepmor).

Secara pribadi saya lebih senang pulang kampung, menelusuri jalan nasional Banda Aceh-Medan, naik sepmor. Alasannya sederhana, saya bisa dengan leluasa menikmati pemandangan alam yang tersaji sepanjang perjalanan plus bisa berhenti di mana saja untuk berselfie ria, mengabadikan momen unik dan menarik selama perjalanan.

Nah, sensasi seru itulah yang saya rasakan saat bertolak dari Banda Aceh menuju Pijay pada hari Minggu (2/6/2019) lalu. Alhamdulillah, tanpa kendala apa pun di jalanan, bahkan sangat mengasyikkan, saya sudah tiba di Pijay dan dapat merayakan Idulfitri bersama keluarga besar di sini. Atas keselamatan dan kenyamanan yang saya rasakan saat mudik naik sepmor tersebut saya rasa pantas jika saya berbagi tips dengan pembaca.

Terutama bagi mereka yang memilih sepmor sebagai kendaraan untuk pulang kampung, maupun saat balik nanti ke Banda Aceh. Nah, ketika menelusuri jalan Banda Aceh-Medan, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, pastikan kendaraan Anda dalam keadaan prima, lengkapi surat-suratnya (seperti SIM dan STNK), dan jangan lupa pakai helm.

Selain itu, kestabilan kondisi tubuh juga harus dijaga (dengan cara mengenakan helm, jaket, sarung tangan, masker mulut, dan kaus kaki selama perjalanan), serta pastikan tubuh mendapatkan air dan asupan gizi yang cukup selama di perjalaan. Apalagi saat arus balik nanti seluruh warung dan kafe di sepanjang jalan Banda Aceh-Medan sudah buka dan Anda tak perlu khawatir kelaparan maupun dehidrasi.

Menempuh perjalanan sejauh 169km dari Banda Aceh menuju Pijay, dengan mengendarai sepmor pastilah melelahkan. Oleh karenanya, pemilihan waktu pagi hari untuk memulai perjalanan sangatlah disarankan. Di samping itu, jika lelah dan kantuk tiba-tiba mendera segeralah ambil posisi untuk istirahat sejenak.

Kita dapat rehat gratis di dipan-dipan kayu atau bale yang mudah ditemukan di beberapa spot khusus selama perjalanan sembari menikmati pemandangan alam dan sejuknya semilir angin sepoi-sepoi. Namun, jika lamat-lamat diperhatikan, perjalanan sejauh itu tidaklah membosankan sama sekali.

Dibandingkan dianggap sebagai mudik, perjalanan menelusuri jalan Banda Aceh-Medan serasa layaknya pelesiran atau piknik belaka. Bagaimana tidak, bak kata pepatah, sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui, maka sekali menelusuri jalan Banda Aceh-Medan kita dapat menikmati aneka rupa pemandangan. Misalnya, rumoh Aceh berbentuk panggung di sepanjang sisi jalan Gampong Lon Asan maupun berbagai model mobil-mobil besar (Fuso, Tronton, trailer, dan sebangsanya) yang berlalu lalang sepanjang jalan Banda Aceh-Medan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved