Tukang Cukur di Mekkah Selalu Panen Rezeki

WARGA India yang mendominasi sekitar Masjidil Haram, Mekkah, tidak hanya menguasai bisnis restoran maupun jual beli

Tukang Cukur di Mekkah Selalu Panen Rezeki
IST
Mursal Ismail

Catatan Mursal Ismail, Wartawan Serambi Indonesia, dari Mekkah

WARGA India yang mendominasi sekitar Masjidil Haram, Mekkah, tidak hanya menguasai bisnis restoran maupun jual beli pakaian atau berbagai oleholeh Arab Saudi dan lainnya, tapi juga usaha cukur rambut atau barbershop. Sepertinya para saudagar India memanfaatkan betul perintah Allah dan anjuran Nabi Muhammad saw tentang tahalul, yakni kewajiban jamaah umrah dan haji pria membotakkan kepala seusai melaksanakan rukun umrah atau haji berupa tawaf dan sai.

Oleh karena itu, kinisangat banyak tempat cukur di sekitar Masjidil Haram milik saudagar India. Pekerjanya juga semua berasal dari negara itu. Sebagian mereka bisa berbahasa Indonesia, meski paspasan.Hal ini karena banyaknya jamaah umrah asal Indonesia, termasuk dari Aceh.

Seusai tawaf dan sai, semua jamaah umrah sebetulnya sudah melaksanakan syarat tahalul, yaitu memotong rambut antarsesama jamaah dengan gunting yang sudah mereka siapkan. Namun, itu baru sebatas syarat sahnya rukun umrah atau haji sebagaimanajuga diwajibkan kepada jamaah perempuan. Khusus kepada jamaah lelaki, Allah dalam Quran Surat Alfath ayat 27 dan Nabi Muhammad dalam hadisnya menganjurkan orang berhaji atau berumrah agar membotakkan kepalanya saat tahalul.

Oleh karena itu, seusai melaksanakan rukun umrah, ramai-ramai jamaah yang masih berpakaian ihram datang ke barbershop sekitar Masjidil Haram, termasuk saya beberapa hari lalu. Satu orang, ongkos cukur 15 riyals atau Rp 60 ribu. Cukur tak habis alias masih ada sisa rambut, 10 riyals atau Rp 40 ribu.

Jangan membayangkan dengan ongkos segitu, Anda juga bakal dipijat, bahkan digunting bulu hidung dandirapikan alis mata, sebagaimana di Aceh yang ongkosnya hanya Rp 15-20 ribu per kepala. Alih-alih demikian, kerja tukang cukur di Tanah Suci ini tak sampai sepuluh menit per kepala. Mereka hanya menggunakan alat pangkas berupa clipper atau bahasa Aceh disebut ragom. Kemudian silet cukur. Tak ada gunting, apa lagi air semprot dan bangku putar seperti di Aceh.

Begitu pun, kapan saja selalu antre jamaah ingin melaksanakan kewajiban ini di barbershop. Hal iniyang menyebabkan tukang cukur di sekitar Masjidil Haram selalu panen rezeki, apalagi saat Ramadhan, jamaah umrah berbagai negara mencapai jutaan. Belum lagi, musim haji nanti yang jamaahnya lebih banyak. Meski barbershop di sekitar Masjidil Haram ini sudah banyak, tapi masih jauh belum sebanding dengan membeludaknya jamaah yang ingin tahalul.

Barbershop milik Aceh
Melihat peluang bisnis ini, jamaah umrah asal Banda Aceh, Mawardi, menyarankan Pemerintah Aceh melalui Balai Latihan Kerja (BLK) melatih keahlian yang sangat gampang ini kepada para pemuda putus sekolah di Aceh. “Kemudian Pemerintah Aceh membuka barbershop di sekitar Masjidil Haram dan memperkerjakan para pemuda yang sudah dilatih itu,” sarannya.

Menurut Mawardi, jika sedikit saja sistem pelayanan pangkas di Aceh diterapkan di sini, misalnya ada pelayanan ‘plus’ pijat, ia optimis akan banyak jamaah memilih barbershop milik Aceh, apalagi jamaah Indonesia dibanding barbershop India yang murni hanya melayani cukur rambut. “Selain Pemerintah Aceh, peluang yang sama hendaknya juga dilakukan pengusaha Aceh, sehingga dapat mengurangi pengangguran di tempat kita.

Jika program ini berjalan lancar, tentu bisa dilakukan bergulir secara berkelanjutan,” ujarnya. Artinya, kata Mawardi, tukang cukur yang sudah mandiri, bisa melakukan bisnis ini secara mandiri dan yang baru bisa memanfaatkan program pemerintah atau pengusaha itu. “Persoalan bahasa, jika pun harus belajar bahasa Arab, saya pikir cukup dasar-dasarnya saja. Selanjutnya pasti mereka bisa sendiri di sini,” kata Mawardi.

Ia menambahkan di sisi lain, jamaah juga banyak dari Indonesia. Model rambut yang harus dipangkas juga bukan seperti di Aceh, ‘cincang’ dan lain-lain, sehingga mengharuskan banyak bertanya. “Nah, di sini modelnya hanya botak dan botak sekali. Jadi, orang asing yang datang pun tak ada hal yang mengharuskan mereka bicara. Jika pun terdesak, pekerja kita bisa menggunakan Google Translate di smartphonemasing-masing,” demikian Mawardi.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved