Pemerintah Malaysia Gandeng Kedai Runcit Aceh untuk Mendistribusikan Barang Murah kepada Warga
Koperasi ini dibentuk atas kerja sama Komuniti Melayu Acheh Malaysia (KMAM) dengan Suruhanjaya Koperasi Malaysia (SKM) dan Petro Teguh (M) Sdn Bhd
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
Pemerintah Malaysia Gandeng Kedai Runcit Aceh untuk Mendistribusikan Barang Murah kepada Warga
SERAMBINEWS.COM – Kerajaan Malaysia menggandeng para pedagang kedai runcit Aceh untuk mendistribusikan barang murah kepada masyarakat.
Rencananya, jaringan kedai runcit (toko kelontong) yang dikelola komunitas Aceh di Malaysia, akan dimasukkan dalam wadah koperasi yang akan diberi nama Malaysia Acheh Solidaritas Agama (MASA) di bawah naungan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).
Koperasi ini dibentuk atas kerja sama Komuniti Melayu Acheh Malaysia (KMAM) dengan Suruhanjaya Koperasi Malaysia (SKM) dan Petro Teguh (M) Sdn Bhd, sebuah syarikat dagang mitra kerja Kerajaan Malaysia.
Informasi diperoleh Serambinews.com, untuk tahap awal, kerja sama antara KMAM akan diluncurkan pada tanggal 30 Juni 2019, dalam bentuk program pasokan ikan di Pusat Distribusi Jaras Paya, Sungai Buloh, Selangor, Malaysia.
“Diskusi tentang masalah ini telah dilakukan dengan rapi oleh Petro Teguh dengan perwakilan dari KMAM. Oleh karena itu diharapkan pada 30 Juni 2019, peluncuran program pasokan ikan di Pusat Distribusi Jaras Paya akan berlangsung,” kata Direktur Pelaksana Petro Teguh (M) Sdn Bhd, Dato Seri Azmin Mustam Abdul Kadir, dalam pertemuan dengan perwakilan pemilik kedai Runcit Aceh, di Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (15/6/2019) lalu.
Baca: Pertemuan Wiranto dan Muzakir Manaf Diharapkan Produktif untuk Aceh
Baca: Warga Aceh di Malaysia Gelar Majelis Hari Raya dan Rapat Pembentukan Koperasi Aceh Melayu Malaysia

Luasnya Jaringan Kedai Runcit Aceh
Sumber-sumber Serambinews.com menyebutkan, kebijakan Kerajaan Malaysia menggandeng Komuniti Melayu Acheh Malaysia (KMAM), karena luasnya jaringan kedai runcit Aceh yang tersebar di hampir seluruh Semenanjung, termasuk ke kampung-kampung di negeri jiran itu.
Media Malaysia, Berita Harian menyebut lebih 100 ribu orang (dari total 500 ribu) perantau Aceh di Malaysia bekerja di bidang usaha kedai runcit (toko kelontong).
“Sebagian besar dari 500.000 orang Aceh di negara ini memiliki kartu identitas (KTP Malaysia) sejak tinggal pada tahun 1985. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 persen atau 100 ribu orang adalah pemilik usaha atau menjadi pengusaha di sektor bisnis, sementara sisanya adalah para pekerja di sektor-sektor tersebut,” tulis Berita Harian dalam laporan eksklusif berjudul “Peniaga Aceh Bolot Sektor Runcit” edisi 21 Mei 2019.
Baca: Surat Kabar Malaysia Turunkan Liputan Eksklusif Peniaga Aceh Kuasai Sektor Runcit

Mendistribusikan Barang Murah
Informasi diperoleh Serambinews.com dari komunitas Aceh di Malaysia, keputusan Kerajaan Malaysia memanfaatkan jaringan kedai runcit Aceh untuk mendistribusikan barang-barang murah kepada penduduk, disampaikan oleh pihak Komisi Koperasi Malaysia/ Suruhanjaya Koperasi Malaysia (SKM), dalam pertemuan dengan pimpinan KMAM dan puluhan pebisnis asal Aceh, di Kuala Lumpur International Hotel (KLIH), Jalan Hj. Hussein 2, Kampung Baru, Kuala Lumpur, Sabtu (15/6/2019).
“Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa para pedagang runcit Aceh akan dimasukkan dalam koperasi yang dibina oleh Syarikat Petro Teguh Sdn Bhd. Jika tidak ada halangan, koperasi yang mewadahi kedai runcit Aceh di Malaysia ini akan diresmikan oleh Perdana Menteri Malaysia, Tun Mahathir Muhammad pada tanggal 30 Juni nanti,” kata Fathurrahman, komunitas Melayu Aceh melalui layanan WhatsApp kepada Serambinews.com, Selasa (18/6/2019).

Fatrurrahman mengatakan, Syarikat Petro Teguh selama ini dipercaya oleh Kerajaan Malaysia untuk mendistribusikan bahan bakar bersubsidi (solar murah) kepada nelayan di Malaysia.
“Rencana awal dari kerja sama ini adalah, Petro Teguh akan membeli ikan langsung dari para nelayan, kemudian didistribusikan kepada masyarakat melalui kedai-kedai runcit yang dikelola komunitas Aceh dan koperasi tempatan (lokal),” kata pria yang akrab disapa Fat Hon ini.
Fat Hon yang sudah merantau ke Malaysia sejak tahun 1989 ini menambahkan, dengan memanfaatkan jaringan kedai runcit Aceh ini, distribusi ikan akan lebih cepat sampai ke masyarakat, karena tidak perlu melewati kedai borong (pedagang grosir).
“Dengan demikian, harga ikan akan lebih murah, karena tidak melewati banyak agen, dan tentunya lebih segar. Inilah yang diharapkan dari kerja sama kedai runcit Aceh dengan Suruhanjaya Koperasi Malaysia,” ungkap Fat Hon.
Baca: Viral Mobil Meleleh Karena Cuaca Panas, Benarkah Gambar di Kuwait? Cek Fakta Sebenarnya
Baca: Anggota Keluarga Pemimpin Korut Kim Jong-un yang Terbunuh di Malaysia Adalah Agen CIA
Memperkokoh Ekonomi Melayu
Jafar Insya Reubee, komunitas Aceh lainnya menambahkan, langkah awal untuk mewujudkan rencana tersebut telah dilakukan dengan kegiatan halal bi halal sekaligus rapat pembentukan koperasi kedai runcit Aceh pada, Sabtu (15/6/2019).
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Komuniti Melayu Acheh Malaysia (KMAM) ini berlangsung di Kuala Lumpur International Hotel (KLIH), Jalan Hj. Hussein 2, Kampung Baru, Kuala Lumpur.
“Rapat ini dihadiri oleh pimpinan wilayah di seluruh Semenanjung Malaysia. Total ada sekitar 50 wilayah dan dalam satu wilayah ada ratusan cabang kedai runcit. Intinya yang hadir ada 50 biro, kira-kira 100 orang,” ujarnya.

Dijelaskan, dalam kegiatan ini, para pimpinan wilayah yang membawahi kedai runcit Aceh di seluruh Malaysia (Semenanjung), mendengarkan arahan pembentukan koperasi yang disampaikan oleh pihak Komisi Koperasi Malaysia/Suruhanjaya Koperasi Malaysia (SKM).
Di antara pihak yang memberikan sambutan dan arahan dalam kegiatan tersebut adalah, Ketua Eksekutif Dewan Koperasi Malaysia (SKM) Yang Berbahagia (YBhg) Datuk Nordin Salleh, dan Direktur Divisi Hukum & Registrasi SKM, Puan Siti Azlin Ahmad Dauta.
Selanjutnya, Direktur Pelaksana Petro Teguh (M) Sdn. Bhd, YBhg Dato 'Sri Azmin Mustam Abdul Kadir, dan Presiden Asosiasi Komunitas Melayu Acheh Malaysia, YBhg Datuk Haji Mansyur Usman.
Kegiatan diakhiri dengan jamuan makan Hari Raya, setelah sesi tanya jawab.
Jafar Insya juga mengirimkan resume dari hasil pertemuan tersebut kepada Serambinews.com.
Dalam pembicaraan melalui layanan WhatsApp, Fathurrahman dan Jafar Insya berharap para pedagang runcit Aceh di Malaysia agar bisa mendukung program kerja sama Kerajaan Malaysia dengan Komuniti Masyarakat Aceh Malaysia (KMAM), agar dapat memperkuat ekonomi negara Malaysia, sekaligus memperkokoh perekonomian masyarakat muslim di negara tersebut.
Baca: Kopi Kocok Abu Leb, Coffee Latte Ala Pidie
Fathurrahman dan Jafar Insya menyatakan optimis komunitas Aceh akan mendukung program besar yang digagas oleh Kerajaan Malaysia dan KMAM ini.
Hanya saja, kata mereka, ada satu kendala yang dihadapi, yaitu sebagian besar kedai runcit Aceh masih menggunakan pola tradisional, belum mengikuti pola pasar swalayan.
“Tapi Insya Allah nanti akan ada pembinaan dari pihak Suruhanjaya Koperasi maupun Petro Teguh,” ungkap Fahturrahman.
“Kami berharap pedagang runcit Aceh mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk menyongsong peristiwa bersejarah ini. Dengan mengikuti aturan Kerajaan, akan banyak kemudahan yang kita dapatkan,” timpal Jafar Insya.(*)