7 Fakta Ketegangan Amerika dan Iran, dari Penembakan Drone Hingga AS Diejek Keterbelakangan Mental

Tensi makin tinggi saat presiden AS Donald Trump memberikan sanksi bagi petinggi Garda Revolusi Iran.

Editor: Amirullah
via Sky News
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri), dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.(via Sky News) 

SERAMBINEWS.COM - Mata dunia dalam sepekan terakhir menyorot ketegangan Amerika Serikat (AS) versus Iran.

Tensi makin tinggi saat presiden AS Donald Trump memberikan sanksi bagi petinggi Garda Revolusi Iran.

Sanksi ini bahkan mendapat respon dari Rusia yang menilai tindakan AS amat gegabah perihal Iran.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut merupakan tujuh fakta menarik ketegangan antara Iran dan AS yang sudah membuat dunia begitu khawatir.

1. Berawal dari Drone yang Ditembak Jatuh

Ketegangan sepekan terakhir bermula ketika Garda Revolusi Iran mengklaim mereka menembak jatuh drone pengintai RQ-4A Global Hawk pada Rabu pekan lalu (19/6/2019).

Lokasi jatuhnya drone yang bisa terbang setinggi 60.000 kaki itu menjadi perdebatan dengan baik AS maupun Iran sama-sama mengklaim koordinat.

Teheran menyatakan, drone yang ditembak itu ditemukan sekitar enam kilometer dalam wilayah mereka. Sementara Pentagon menyatakan drone itu jatuh di perairan internasional.

Baca: Soal Pemenang Sengketa Pilpres 2019, Ini Pesan Aa Gym Kepada Seluruh Masyarakat Indonesia

Baca: Ternyata Amerika Serikat Tidak Ingin Berperang Dengan Iran, Ini Alasannya

Baca: 8 Fakta Menarik Ketegangan AS dan Iran, Dari Drone Ditembak Jatuh Hingga Trump Perintahkan Serangan

2. Trump Perintahkan Serangan Militer ke Iran

Setelah kabar drone yang dijatuhkan Iran itu menyebar, Trump dilaporkan langsung memerintahkan serangan militer sebagai balasan dengan jet tempur diterbangkan, dan kapal perang berada di lokasi.

Namun dalam pernyataan di Twitter, Trump mengatakan dia membatalkan serangan itu 10 menit sebelum dieksekusi karena mendapat laporan bakal ada 150 korban tewas.

Sebagai gantinya, dia dikabarkan memerintahkan serangan siber yang menyasar sistem rudal serta memata-matai jaringan pendukung.

Namun, Iran menyebut upaya itu gagal.

3. Trump Umumkan Sanksi kepada Iran

Pada Senin kemarin (24/6/2019), Trump mengumumkan paket sanksi kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei karena dianggap bertanggung jawab atas sikap "permusuhan".

Selain itu, presiden berusia 73 tahun itu juga memberikan sanksi kepada Menteri Luar Negeri Mohammed Javad Zarif serta komandan Garda Revolusi.

Trump awalnya menyatakan, sanksi tersebut dijatuhkan sebagai balasan setelah drone mereka ditembak jatuh.

Namun Trump meralat dan berujar sanksi muncul karena berbagai perkembangan yang ada.

Teheran kemudian merespons dengan melontarkan kecaman serta menyatakan Washington telah "menutup pintu diplomasi" karena menjatuhkan sanksi bagi petinggi mereka.

Baca: Klaim Kekuatan Militernya Terkuat di Dunia, Trump: Melawan Iran Tidak Akan Berlangsung Lama

Baca: Presiden Iran: Sanksi Amerika Serikat kepada Ayatollah Ali Khamenei Tidak Berguna

4. "Islam Melarang Kami Memproduksi Senjata Nuklir"

Trump selalu mengatakan, target utama mereka dalam memberikan tekanan dan sanksi kepada Iran supaya rival Israel itu tidak berhasil memperoleh senjata nuklir.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif kemudian merespon dengan menegaskan negara mereka tidak ingin mengembangkan nuklir untuk dijadikan senjata.

Zarif menjelaskan mereka tidak ingin mengembangkan senjata nuklir karena dilarang dalam Islam.

5. Pemimpin Tertinggi Iran Ogah Berunding dengan AS

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tampil di hadapan publik setelah dirinya disanksi oleh AS dan menyatakan negaranya tidak akan tunduk pada apa pun.

Dalam pidato di hadapan rakyat Teheran, pemimpin berusia 80 tahun itu menuturkan tekanan yang diberikan Washington kepada mereka tidak memberi pengaruh.

Dia menegaskan Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan itu. "Iran mencari martabat, kemerdekaan, dan kemajuan. Jadi tekanan dari musuh kejam ini tak berpengaruh," tutur dia.

6. Ejekan Presiden Iran kepada Trump

Presiden Iran Hassan Rouhani melontarkan kecaman serta ejekan kepada Presiden Trump setelah Gedung Putih mengumumkan sanksi kepada sejumlah pejabat seniornya.

Rouhani mengatakan, AS melakukan kebohongan ketika menawarkan perundingan.

Sebab di sisi lain, mereka juga menjatuhkan sanksi kepada Menlu Zarif.

Selain itu, Rouhani menyebut tekanan terbaru AS merupakan tindakan yang "keterlaluan serta bodoh".

"AS menderita keterbelakangan mental," ujarnya.

Baca: Dua Remaja Tewas Tersambar Petir saat Asik Main Game Mobile Legend di Bawah Pohon

Baca: Ponsel Meledak Saat Diisi Daya Baterai, CEO Perusahaan Startup Tewas

7. Trump Sebut Iran Bisa Lenyap jika Melakukan Serangan

Trump melalui serangkaian kicauannya menanggapi dengan berkata bahwa pernyataan Rouhani adalah penghinaan, dan menyebut Iran bakal lenyap jika berani menyerang kepentingan AS.

Selain itu, Trump mengklaim kekuatan militer AS terkuat di dunia berkat dana jumbo yang dihabiskan dalam dua tahun terakhir.

Dia mengaku tak ingin perang dengan Iran.

Namun jika akhirnya terjadi, presiden ke-45 dalam sejarah Negeri "Uncle Sam" itu yakin militernya bakal superior sehingga perang tak bakal berlangsung lama. (*)

Artikel ini telah tayang di gridhot.id dengan judul 7 Fakta Ketegangan Amerika dan Iran, Donald Trump Perintahkan Militer untuk Menyerang Setelah Diejek Punya Keterbelakangan Mental

Sumber: GridHot.id
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved