Darwati: Sulit untuk Adil
Rencana Pemerintah Aceh untuk melegalkan poligami atau pernikahan lebih dari satu istri
Namun, politisi PPP ini tidak serta-merta setuju dengan rencana pria yang ingin berpoligami. Menurutnya, harus dilihat dulu apa alasan pria yang ingin melakukannya. “Jika memang keinginannya untuk mengangkat harkat dan martabat wanita yang lain, itu silakan. Misalnya ada wanita miskin, sakit, janda bersama anak yatim, itu ya silakan,” katanya.
Namun, belakangan, yang banyak terjadi, kata Syarifah, mayoritas lelaki ingin berpoligami karena ingin memenuhi hasrat semata, bukan karena ingin beribadah layaknya Rasulullah yang mengangkat harkat dan martabat istri-istrinya. “Belum lagi mereka beralasan, katanya sang istri tidak lagi menarik, tidak merawat diri. Ya, bagaimana cantik dan merawat diri jika sebulan uang yang dikasih 300 ribu, anak lima, kemudian dengan pekerjaan rumah yang menumpuk,” gugat Syarifah.
Seorang suami, kata Syarifah, seharusnya benar-benar memberi perhatian kepada istri dengan baik dan bekerja sama dalam membangun rumah tangga agar kokoh dan hidup dalam kasih sayang hingga akhir hayat. “Jangan selalu menyalahkan istri, sedangkan suami tidak mengambil peran misalnya untuk mempercantik sang istri,” timpalnya.
Dalam rencana penggodokan qanun tersebut, Syarifah tidak berkomentar setuju atau tidak. Namun, dia meminta dewan di level provinsi untuk melakukan riset terlebih dulu. Jika memang kebanyakan laki-laki untuk poligami untuk alasan yang tidak jelas, menurutnya, wajar istri tidak akan menerimanya.
“Tapi kalau untuk angkat harkat martabat ya tidak apa-apa, kalau memang itu tujuannya, kami ibu-ibu butuh pemahaman khusus, tidak serta-merta juga kita tolak, itu ibadah juga. Dan kalau memang ikut jejak Rasulullah ya silakan saja, berpoligamilah ala Rasulullah,” anjurnya.
Selanjutnya, kaum pria juga harus tahu kemampuan diri, mampu nafkah lahir dan batin, bukan hanya sekadar menikah lalu menimbulkan masalah baru dalam keluarga. “Harus tahu kemampuan diri. Kemudian wali nikah juga harus selektif, makanya kalau ada yang mau poligami harus ditanya tujuannya untuk apa,” demikian Syarifah Munira.
Jangan cederai
Solidaritas Pembela Keterwakilan Perempuan (SPKP) juga menanggapi usulan rancangan qanun yang mengatur masalah poligami. Juru Bicara SPKP, Arabiyani MH kepada Serambi, Sabtu (6/7) mengatakan persoalan itu harus didiskusikan secara mendalam dengan berbagai pihak, dimensi apa yang ingin dicapai dari penerapan qanun tersebut ke depan.
“Sehingga perempuan tidak dikorbankan oleh penafsiran-penafsiran yang tak melihat persoalan secara holistik. Saya mengajak DPRA agar tidak terburu-buru dengan qanun ini. Jangan hanya mengejar target penyelesaian qanun, tapi miskin substansi dan tidak aplikatif. Yang kita inginkan adalah keadilan kepada semua,” kata istri Kautsar, Anggota DPRA ini.
Karena itu, Arabiyani mengajak semua pihak agar tidak berprasangka (prejudice) dulu terhadap raqan ini. “Tapi bawa isi qanun ini ke dalam diskusi yang lebih mendalam dengan melibatkan berbagai prespektif. Jangan sampai qanun tersebut malah mencederai rasa keadilan yang justru dilarang oleh agama itu sendiri,” demikian Arabiyani. (dan/mas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/darwati-sulit-untuk-adil.jpg)