Jurnalisme Warga

Wisata Tangse-Geumpang Kini Makin Komplit

KABAR gembira bagi pencinta wisata alam. Sekarang di Kecamatan Tangse dan Geumpang sudah tersedia

Wisata Tangse-Geumpang Kini Makin Komplit
IST
RIAZUL IQBAL, Guru Sukma Bangsa Pidie, Anggota FLP Aceh, dan Pegiat FAMe Pidie, melaporkan dari Tangse, Pidie

OLEH RIAZUL IQBAL, Guru Sukma Bangsa Pidie, Anggota FLP Aceh, dan Pegiat FAMe Pidie, melaporkan dari Tangse, Pidie

KABAR gembira bagi pencinta wisata alam. Sekarang di Kecamatan Tangse dan Geumpang sudah tersedia berbagai pilihan paket untuk menikmati alam pegunungan paling indah di Kabupaten Pidie. Kalau dulu kita menikmati keindahan gunung, air terjun, dan sungai hanya memandang atau mandi saja, kini kita bisa terjun langsung memakai ban dan arung jeram di Sungai (Krueng) Geumpang, bahkan sudah bisa berkemah di lokasi wisatanya.

Wisata air
Sekarang untuk piknik ramah keluarga, sudah tersedia wahana water park untuk menikmati akhir pekan (weekend) bersama anak-anak. Wahana ini dilengkapi dua kolam renang dengan kedalaman bervariasi yang berhadapan langsung dengan Krueng Meriam, Tangse. Kita bisa mengajak keluarga untuk mandi di sini tanpa khawatir si buah hati terbawa arus.

Tempat terbaru yang bisa dikunjungi adalah Wahana Lestari. Di lahan sekitar 1 hektare ini kita bisa berkemah, arung jeram, dan menikmati kopi khas Tangse, kopi Liberika. Di tempat yang baru beberapa minggu dibuka ini, arung jeram sudah diatur secara profesional dan melibatkan warga Geumpang sebagai regu penyelamat (rescue) bagi pengguna jasa arung jeram. Tersedia pula dokumentasi kegiatan. Warga lokal juga dilatih untuk mengelola wisata potensial ini dengan baik oleh atlet arung jeram dari Pidie yang sudah ikut perlombaan nasional.

Selain dibuka untuk umum, atlet penakluk jeram juga sering berlatih di spot ini. Dengan merogoh kocek Rp 200.000-an per orang kita sudah bisa merasakan sensasi menaklukkan ganasnya Sungai Geumpang ini. Kita akan dibawa arus sungai sejauh 8-12 km, dengan medan jeram yang ringan sampai jeram level master yang sangat menantang. Tapi para wisatawan jangan takut kalau perahu karet terjungkal, karena regu penyelamat yang terlatih siap siaga di atas perahu bersama kita maupun di perahu tambahan khusus yang jalan bersama, sekaligus mendokumentasi petualangan wisatawan menyusuri sungai.

Dengan pengamanan lengkap seperti live jacket (pelampung) dan helm standar, kita akan aman walaupun terpelanting ke sungai. Saya sudah dua kali ikut arung jeram ini dan para pemandu tidak menginginkan kita ke luar dari boat sebelum waktunya. Waktu tempuhnya satu jam lebih, dengan pemandangan batu-batu sungai, pohon rimbun, dan hawa sungai yang dingin.

Wisata kuliner
Setelah puas berenang, kita bisa menikmati ikan keureuling, ikan langka dan lezat. Ikan yang hanya ada di sungai pegunungan ini sangat enak disantap, lengkap dengan kuah asam pedasnya. Banyak warung nasi yang menyediakan ikan yang dimasak khas ini dari Tangse sampai pegunungan Geumpang. Tekstur dagingnya yang lembut dan rasanya yang enak membuat ikan ini laris manis setiap hari di kota yang bernama lain “Kota Hujan” ini.

Kalau musim durian, dua kota ini merupakan tempat yang ramai dikunjungi. Geumpang menawarkan durian rimeh yang warna dagingnya menyerupai warna durian Musang King khas Malaysia, berbiji kecil dan dagingnya padat. Para pedagang durian merupakan warga asli di sini dan berjualan di depan rumah mereka. Biasanya durian ini hasil dari kebun mereka sendiri.

Tawar-menawar durian akan menjadi sangat menarik karena para pedagang musiman ini tidak menaruh label harga di dagangannya. Maka harus pandai-pandailah kita menawar kalau ingin harga yang termurah. Uniknya lagi, kita bisa menukar kalau durian yang kita makan sesudah kita beli ternyata berasa hambar. Para penjual dengan sukarela mau membelahkan duriannya dan menyuguhkan kepada tetamu yang membeli. Memang sejak dahulu kala orang Tangse merupakan tipikal orang yang ramah.

Baru beberapa tahun belakangan ini Tangse juga menggalakkan kopi khas mereka yang dulu pernah diminati, yaitu kopi liberika. Kalau ditilik dari sejarahnya, dulu di Tangse kopi ini disebut kopi Ateng. Alkisah, pada abad 19, kopi ini didatangkan dari Liberia untuk menggantikan kopi arabika yang terserang hama. Kopi langka ini sekarang ditanam lagi di Tangse dan kini bisa diminum di berbagai warung kopi yang tersebar di Pidie.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved