Jurnalisme Warga
Belajar ‘Public Speaking’ Saat Jadi Mahasiswa
Kampus menjadi wadah pembentuk karakter, pengasahan keterampilan, dan melatih keberanian untuk dapat tampil di hadapan banyak orang.
NATASHA RISKY, Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK) dan peserta Pelatihan Menulis Aksara USK1, melaporkan dari Banda Aceh
Selama ini, kampus sering kali dipandang sebagai ruang akademik. Ruang tempat mahasiswa untuk menggali informasi, belajar teori, memperkaya ilmu pengetahuan, dan menyelesaikan mata kuliah. Padahal, lebih dari sekadar itu. Fungsi kampus sejatinya juga sebagai tempat mahasiswa untuk berkembang dan meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya.
Kampus menjadi wadah pembentuk karakter, pengasahan keterampilan, dan melatih keberanian untuk dapat tampil di hadapan banyak orang.
Di zaman era 4.0, persaingan di semua sektor semakin kompetitif. Mahasiswa dituntut bukan hanya cerdas di atas kertas dengan indeks prestasi kumulatif (IPK), tetapi juga kecerdasan emosioal dan punya keterampilan nyata. Dunia kerja dan masyarakat menuntut mahasiswa memiliki sesuatu yang dapat diandalkan, salah satunya kemampuan berbicara yang baik di depan umum (public speaking). Mahasiswa harus punya keberanian menyampaikan ide atau gagasan dan tampil percaya diri di depan publik.
Di sinilah pentingnya peran kampus bukan hanya sebagai tempat belajar teori, melainkan juga sebagai tempat untuk mahasiswa membentuk ‘soft skills’. Menurut Mahasneh & Thabet (2015) dalam jurnal yang berjudul Mengembangkan Soft Skills Siswa Melalui Proses Pembelajaran, ‘soft skills’ didefinisikan sebagai keterampilan, kemampuan, dan sifat-sifat yang berhubungan dengan kepribadian, sikap perilaku daripada pengetahuan formal atau teknis. ‘Soft skills’ sebagai seperangkat kemampuan yang memengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain.
Ketika melangkah keluar dari gerbang kampus, mahasiswa akan berhadapan dengan dunia kerja yang sangat dinamis. Perusahaan, lembaga pemerintahan, maupun organisasi sosial tidak hanya menerima dan mencari lulusan dengan nilai akademik yang tinggi, melainkan juga mereka yang mampu berkomunikasi dengan baik, bekerja sama, dan tampil percaya diri.
Kenyataannya, banyak sekali mahasiswa yang masih terpaku dengan paradigma lama, yaitu di kampus hanya belajar, membuat tugas, dan mengejar nilai. Sayangnya, saat memasuki dunia kerja kebanyakan dari mereka tidak memenuhi kualifikasi.
Saat berhadapan dengan pewawancara kerja, banyak yang terbata-bata dan tidak mampu menjelaskan siapa dirinya. Ini terjadi karena kebanyakan dari mereka tidak mengasah kemampuan ‘soft skills’ saat masih berada di bangku kuliah. Di dunia kerja saat ini kemampuan ‘public speaking’ sering menjadi kunci utama diterimanya seseorang dalam lingkungan kerja.
Namun, banyak yang menyepelekannya. Mereka menggangap bahwa komunikasi hanya sekadar bicara. Mereka lupa bahwa bicara itu punya seni, tidak sembarangan dalam menyampaikan pesan, argumen, ataupun pendapat. Salah satu cara yang paling efektif bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berbicara adalah melalui organisasi dan kegiatan-kegiatan kampus.
Bagi sebagian mahasiswa, organisasi hanya dianggap kegiatan tambahan. Namun kenyataannya, organisasi ini adalah sekolah kedua yang menawarkan pengalaman secara nyata melatih diri bagaimana cara memimpin, bekerja sama, sekaligus melatih komunikasi. Pilihlah organisasi yang dapat mendukung perkembangan dirimu dan kamu bisa berkembang di organisasi itu.
Memilih organisasi juga sangat penting karena di situlah kita berkembang dan membentuk karakter diri kita. Jangan sampai kita salah masuk kedalam sebuah organisasi yang tidak sesuai dengan tujuan atau passion serta minat kita. Maka telitilah dalam memilih organisasi mana yang ingin kita masuk dan ‘benefit’ apa yang bisa kita dapatkan di dalamnya.
Jangan hanya masuk organisasi karena mengikuti teman atau sekedar gabung saja tanpa kontibusi, itu sama saja nol. Masuk ke dalam organisasi bukan hanya berkontribusi, tapi juga mengambil banyak pengalaman serta pembelajaran yang ada. Bukan hanya organisasi yang dapat melatih ‘softskill’, tetapi juga kegiatan-kegiatan yang ada di kampus seperti mengikuti ajang duta kampus, perlombaan debat, karya tulis ilmiah, dan lomba lainnya yang diadakan.
Lewat organisasi, mahasiswa terbiasa mengatur acara, memimpin rapat, bernegosiasi, hingga berdebat sehat. Setiap kesempatan berbicara di depan teman atau audiens adalah latihan mental yang sangat berharga.
Hal ini sangat berbeda dengan ujian tertulis. Pengalaman ini tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku. Latihan mental juga menjadi faktor utama bagi para mahasiswa untuk dapat melatih mental untuk masuk ke dunia kerja. Dunia kampus dan dunia kerja sangat berbeda. Oleh karena itu, perlu melatih mental mulai dari sekarang dengan bergabung organisasi.
Keterampilan berbicara di depan umum kini sudah menjadi kebutuhan dasar. Bukan hanya untuk suatu profesi tertentu, tetapi juga hampir di seluruh bidang amat sangat diperlukan. Banyak kantor dan lembaga pemerintahan serta perusahaan yang kekurangan orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
| Langkahan Pascabanjir: Kesaksian dari Tanah yang Dihantam Bah dan Kayu |
|
|---|
| TKA Aceh di Peringkat 31: Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita? |
|
|---|
| Kokurikuler sebagai Jalan Menuju Sekolah Aman Bencana di SMAN 1 Matangkuli |
|
|---|
| Pendidikan Aceh: Sinergi dan Optimis Pascabencana |
|
|---|
| ‘Makjun’ Warisan Leluhur Aceh Patut Mendapat Pengakuan WHO dan UNESCO |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Arlida-Putri.jpg)