Kupi Beungoh
SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Surat ini datang dari kegelapan. Bukan sekadar listrik yang padam, tetapi juga padamnya kepercayaan rakyat Aceh kepada PLN.
Oleh: Mustafa Husen Woyla SPdI
SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Kepada Yth.
Bapak Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto
Tembusan:
- DPR RI
- Gubernur Aceh
- DPRA Aceh
- General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh
Dengan hormat,
Surat ini datang dari kegelapan. Bukan sekadar listrik yang padam, tetapi juga padamnya kepercayaan rakyat Aceh kepada PLN. Lilin masih bisa menahan gelap ruang tamu, tetapi gelap informasi dan gelap tanggung jawab tidak ada obatnya.
Kami mendengar Bapak Presiden murka kepada BUMN yang merugi tetapi masih membagi-bagikan bonus kepada direksi dan komisaris. Jika itu serius, maka PLN Aceh harus menjadi prioritas pertama yang diaudit KPK dan Kejaksaan.
I. PLN: Janji Terang, Hasil Gelap
Ironi semakin pahit ketika PLN mengunggah poster Hari Hak untuk Tahu Sedunia, 28 September 2025 dengan slogan indah: “Kebermanfaatan Kualitas Informasi untuk Pembangunan Masyarakat yang Unggul dan Berdaya.”
Nyatanya, hak paling sederhana, informasi jelas soal listrik padam tidak pernah rakyat Aceh dapatkan. Rakyat diperlakukan seolah masih hidup di zaman primitif. Tidak jelas sampai kapan listrik normal.
Lebih jauh, tagline resmi PLN di Indonesia hanya mempermalukan diri sendiri, bahkan mirip iklan investasi bodong:
- Energi Kemerdekaan, Tambah Daya Tambah Merdeka ® Faktanya rakyat Aceh merdeka dalam gulita.
- Bangkit Lebih Terang ® Nyatanya rakyat bangkit mencari lilin dan minyak tanah.
- PLN Terus Terang dan Menerang ® Kalau betul terus terang, akui saja: sistem rapuh, cadangan tipis, manajemen kacau.
Janji PLN persis investasi bodong: manis di brosur, pahit di lapangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SURAT-TERBUKA-UNTUK-PRESIDEN-REPUBLIK-INDONESIA.jpg)