Jurnalisme Warga

Bahasa Singkil yang Mulai Kehilangan Makna

Subulussalam dan Singkil adalah dua daerah yang memiliki banyak persamaan dari segi bahasa adat dan budaya

Bahasa Singkil yang Mulai Kehilangan Makna
IST
MURIZUL QADHI, Anggota Yayasan Pemerhati Kebudayaan Suku Singkil (Yapkessi) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Singkil

Kemudian ada lagi kata “pa’en” (kemari). Sebenarnya orang Singkil dahulu untuk mengatakan kemari itu “mi henda” (kemari). Jadi, jika kita ulas lebih jauh banyak sekali kosakata bahasa Singkil yang mulai hilang dan jarang digunakan oleh penuturnya yang memang tak terlalu banyak dibandingkan dengan penutur bahasa Jamee, misalnya.

Ada yang mengatakan orang Singkil itu adalah Pakpak, karena kemiripan marga. Marga itu bisa saja sama, karena marga tak bisa menunjukkan identitas suku secara utuh. Contohnya, marga Munthe di Alas, mereka tak mau dikatakan orang Singkil atau Pakpak. Begitu juga marga Lingga di Subulusalam mereka ogah disebut orang Karo. Persamaan marga ini hanyalah karena kedudukan sebagai etnis serumpun.

Sejauh yang saya amati, makna Singkil kini memang mulai menyempit, hanya dipahami sekadar nama kecamatan dan ibu kota Kabupaten Aceh Singkil. Sejatinya, Singkil itu entitas kebudayaan suku bangsa, include di dalamnya adat, suku, bahasa, dan budaya yang disebut dengan Singkil.

Kebiasaan yang keliru ini ternyata bukan hanya terjadi di Singkil, tetapi sering juga kita dengar di tempat lain. Misalnya, ada orang yang menyebut bahasa Jakarta, padahal maksudnya bahasa Betawi. Ada juga yang menyebut bahasa Padang, padahal maksudnya bahasa Minangkabau.

Saya ingin memberikan sebuah amsal yang saya kutip dari buku H. A. Aslym Combih, MSi, PIA berjudul “Kajian Sejarah Suku Singkil”. Ada cerita bahwa dahulu seseorang dari Aceh yang hendak pergi ke Jakarta atau Bandung sering kali ketika ditanya: Hendak ke mana kamu? Dijawabnya, Hendak ke Jawa. Lalu saat berada di Bandung, ia dengar kebiasaan orang Sunda jika mau berangkat ke Solo, Semarang, atau Yogyakarta, si orang Sunda di Bandung itu menyatakan, “Hendak berangkat ke Jawa.” Ini membuat pelancong asal Aceh tadi terheran-heran. Nah, sebetulnya, Jawa itulah adalah suku dan nama Jawa dilabelkan menjadi nama sebuah pulau. Artinya, mereka mampu memisahkan dan memahami makna tersebut. Kekeliruan seperti ini banyak orang yang tak peduli, sehingga kekeliruan itu menjadi hal yang biasa. Padahal, contoh-contoh di atas dapat menimbulkan kerancuan di masa mendatang.

Saya merasa masih rendah pemahaman masyarakat tentang arti sebuah identitas terkait bahasa Kampong atau suku Kampong. Bahasa dan suku ini tidak terdaftar bila kita cari di Wikipedia. Yang ada justru bahasa Singkil dan suku Singkil. Penamaan tersebut tentunya sudah melalui pengkajian sejarah oleh tokoh dan para akademisi bahasa (linguis).

Namun, banyak generasi muda kita yang gagal paham mengenai hal ini. Ada beberapa faktor yang, menurut saya, penyebab hilangnya makna tentang Singkil ini. Yakni, karena hilangnya rasa kepercayaan diri tentang suku Singkil, lemahnya isme masyarakat terhadap adat budaya, dan kurangnya sosialisasi dari pemerintah maupun pegiat budaya suku Singkil. Terakhir, belum terealisasikannya wacana Pemko Subulussalam terkait muatan lokal bahasa Singkil di sekolah.

Memang kebanyakan yang kurang memahami makna Singkil ini ialah generasi muda, sedangkan para tetua yang berumur lanjut paham betul tentang identitas suku Singkil itu. Di Aceh Tenggara terdapat 18.000 orang yang berasal dari suku Singkil. Meski berada di tengah-tengah masyarakat suku Alas, Gayo, dan Karo, mereka begitu bangganya menggunakan bahasa Singkil. Oleh karena itu, mari kita belajar kembali tentang sejarah dan identitas bangsa kita, karena budaya adalah modal dan aset dalam pemajuan bangsa.

Tulisan ini mungkin banyak kekurangan ataupun ada yang tak sesuai, maka saya memohon saran untuk meluruskannya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved