Jurnalisme Warga

Melirik Pesona Kembang Tanjong

KEMBANG Tanjong, demikian nama salah satu kecamatan di Kabupaten Pidie yang memiliki luas wilayah 46.50 km2

Melirik Pesona Kembang Tanjong
IST
ZARKASYI YUSUF, Aparatur Sipil Negara (ASN) Bidang Pendidikan Madrasah pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, melaporkan dari Kembang Tanjong, Pidie Jaya

OLEH ZARKASYI YUSUF, Aparatur Sipil Negara (ASN) Bidang Pendidikan Madrasah pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, melaporkan dari Kembang Tanjong, Pidie Jaya

KEMBANG Tanjong, demikian nama salah satu kecamatan di Kabupaten Pidie yang memiliki luas wilayah 46.50 km2, berpenduduk 22.040 jiwa, terdiri atas enam kemukiman dan 45 gampong. (Kabupaten Pidie Dalam Angka 2018)

Kecamatan ini hanya berjarak 12 kilometer dari Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie. Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Kembang Tanjong pasti tahu destinasi kuliner yang ramai dikunjungi, terutama pada pagi hari. Satu di antaranya adalah Pasar Keude Ie Leubeu. Pasar ini adalah pasar pagi dengan jajanan kuliner seperti bu gurih (nasi gurih/nasi lemak), putu, adee ie leubeu, dan berbagai jenis kue basah lainnya.

Puncak keramaian pasar setiap pagi sekitar pukul 07.00 sampai 09.00 pagi, apalagi hari-hari tertentu seperti Lebaran dan musim liburan. Untuk para pemudik yang kampung halamannya di Kembang Tanjong atau kecamatan di sekitarnya, rasanya belum lengkap jika mereka mudik sebelum berkunjung ke Pasar Keude Ie Leube. Tidak hanya jajanan kuliner, pasar ini juga terkenal dengan ikan segarnya dengan harga lumayan terjangkau. Berkunjung ke sini tamsilannya bagaikan sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlewati. Artinya, sambil berburu ikan segar, pengunjung juga dapat mencicipi kuliner khas Keude Ie Leube.

Tidak hanya berburu wisata kuliner dan ikan segar, saat berkunjung ke Keude Ie Leube pun Anda dapat berziarah ke makam seorang ulama dan aulia Allah yang populer dengan nama Teungku Chik Di Pasi. Nama lengkapnya, Abdussamad bin Harun. Teungku Chik di Pasi sebenarnya bukan penduduk Kembang Tanjong. Beliau berdomisili di Gampong Waidoe, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, 11 kilometer lebih dari Ie Leubeu.

Berkunjung ke kediaman ulama merupakan salah tradisi yang berkembang dalam masyarakat Aceh, terutama untuk menjalin silaturahmi dan meminta pendapat atau bertanya tentang persoalan agama. Dulu, semasa hidup Tgk Abdussamad bin Harun, semua warga di kawasan Simpang Tiga menghendaki agar Teungku Chik di Pasi ketika meninggal dikebumikan di Simpang Tiga. Keinginan masyarakat ini bahkan menjadi sumber perdebatan, mengingat kampungnya di Waidoe. Akhirnya, Teungku Chik di Pasi memberikan solusi: beliau lemparkan tongkat, di mana pun tongkat itu jatuh di situlah beliau minta dikebumikan. Seizin Allah, tongkat itu jatuh di pinggir pantai Gampong Pasi Ie Leubeu. Di situlah akhirnya ulama berkarisma ini dimakamkan. Kisah di atas menjadi salah satu daya tarik Keude Ie Leubeu hingga kini.

Sekarang, mari kita lihat pasar Kembang Tanjong. Ikan segar tidak hanya tersedia di Pasar Keude Ie Leubeu, tapi juga tersedia banyak di Pasar Kembang Tanjong. Pasar ini beroperasi seusai shalat zuhur setiap hari. Berbagai jenis ikan segar dijual di sini. Ikan segar Pasar Kembang Tanjong menjadi incaran warga, tidak hanya warga Kembang Tanjong, tapi juga warga dari kecamatan lain dalam Kabupaten Pidie, misalnya dari Sigli, Simpang Tiga, Mutiara, dan Glumpang Tiga. Bahkan, ketika Ramadhan tiba Pasar Kembang Tanjong macet oleh pengunjung yang tidak saja berburu ikan segar, tapi juga mencari takjil untuk berbuka puasa.

Beberapa destinasi yang saya jelaskan di atas kini menjadi magnet yang membuat Kecamatan Kembang Tanjong menjadi menarik untuk dikunjungi. Namun, ada hal lain pula yang tidak kalah menarik, bahkan jika tidak segera dibenahi akan memudarkan pesona Kembang Tanjong, yakni kondisi parkir sembarangan di Pasar Kembang Tanjong, bahkan di atas jembatan sehingga menyebabkan kemacetan serta jalan yang dipenuhi tahi lembu. Ketika Anda melintasi jalan Sigli-Kembang Tanjong tepatnya di sebelah kiri kawasan Gampong Glumpang, ada sebuah balee (balai-balai) berkonstruksi kayu dan beratap seng. Balee ini dikenal dengan sebutan Balee Ek Leumoe. Ketika musim panen selesai, lembu tidak lagi dikandangkan oleh pemiliknya, melainkan dibiarkan lepas di sawah. Malam harinya, untuk menghangatkan tubuh lembu-lembu yang berkeliaran di sawah mencari aspal sebagai alas tidur. Akibatnya, pagi hari jalan Sigli-Kembang Tanjong pada beberapa titik tertentu dipenuhi tinja lembu. Kondisi ini menjadi salah satu hal yang akan mengurangi pesona Kembang Tanjong, memadamkan keinginan pengunjung untuk berkunjung, padahal beberapa destinasi wisata di sini tergolong menarik.

Melalui catatan singkat ini, saya sarankan agar lembu-lembu yang berkeliaran di jalanan itu segera ditertibkan. Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Pidie dan Camat Kembang Tanjong memberi sanksi yang tegas terhadap pemilik lembu yang tidak menyediakan kandang bagi hewan piaraannya.

Pemerintahan gampong juga diharapkan berkontribusi nyata dalam menuntaskan problema lembu yang berkeliaran di jalanan ini. Salah satu di antaranya adalah dengan membuat qanun atau reusam gampong yang memuat sanksi tegas bagi warga gampong yang tidak menjaga ternaknya.

Bagi pemilik ternak, ingatlah bahwa peliharaan Anda berupa lembu, kerbau, dan kambing menjadi amanah yang harus dijaga dengan baik, menjaga makanannya, kandang, dan kebutuhan lainnya. Sebab, hewan piaraan itu adalah karunia Allah yang menjadi rezeki bagi pemiliknya. Jangan biarkan ia bercampur dengan yang syubhat, apalagi dengan yang haram, salah satu bentuknya adalah ketika hewan piaraan kita menyantap makanan yang bukan milik kita dan si pemilik tanaman itu tidak merelakan tanamannya untuk disantap ternak orang lain.

Untuk itu, mari sama-sama kita jaga pesona Kembang Tanjong dengan kontribusi bersama, terutama dalam menertibkan ratusan lembu yang berkeliaran di jalan raya. Jangan sampai bau menyengat tahi lembu memadamkan wangi pesona Kembang Tanjong yang sudah mulai tercium oleh masyarakat Aceh. Semoga semua pihak yang berkepentingan serius menjaga Kembang Tanjong yang sudah menjadi destinasi wisata dan mampu kita pertahankan pesonanya sampai akhir zaman.

Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke Kembang Tanjong, silakan datang untuk mencicipi adee ie leubeu, melihat langsung hiruk pikuk Pasar Keude Ie Leube pada pagi hari, dan suara riuh pasar Kembang Tanjong pada sore hari. Satu hal lagi, Anda akan mendapatkan ikan segar dengan harga miring daripada belanja di pasar ikan yang lain. Penasaran? Datang dan buktikan sendiri!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved