Jurnalisme Warga

Jembatan Awe Geutah, si Kecil yang Tangguh

Jembatan adalah penghubung wilayah terpisah. Fungsinya beragam, mulai dari memperlancar arus transportasi dan mobilitas barang/orang

Editor: mufti
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Kutablang, Bireuen 

CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Kutablang, Bireuen

Jembatan adalah penghubung wilayah terpisah. Fungsinya beragam, mulai dari memperlancar arus transportasi dan mobilitas barang/orang, mempersingkat waktu tempuh, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi dengan membuka akses ke pasar dan pusat-pusat layanan, seperti pendidikan dan kesehatan.

Jembatan juga dapat menjadi penghubung interaksi sosial antarwarga, bahkan menjadi objek wisata yang menggerakkan ekonomi lokal.

Tanpa jembatan, daerah terpencil akan terisolasi dan sulit berkembang. Namun, ada kalanya bencana alam, terutama banjir bandang dan tsunami, dapat menyebabkan jembatan ambruk.

Sebagaimana diketahui, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 26 dan 27 November 2025 telah memorak-porandakan segala segi kehidupan, rumah, fasilitas umum, jalan, jembatan putus, dan permukiman warga rusak berat. Mereka  ada yang kehilangan rumah, lahan pertanian,  perkebunan, dan tambak tempat mencari rezeki.

Hari itu listrik padam dan jaringan telepon selular pun tidak berfungsi, walaupun tower telekomunikasi masih berdiri kokoh.

Wajah-wajah penuh ketegangan dan trauma menyelimuti hari-hari pascabencana. Pada saat itu  perangkat desa berkeliling membuat pengumuman agar segera meninggalkan rumah karena bendungan Pante Lhong di Kecamatan Peusangan sudah jebol sehingga air akan mengalir ke semua wilayah.

Saya dan suami bergegas meninggalkan rumah dan mencari tempat yang aman.

Banyak peristiwa yang terjadi. Ada keluarga yang hilang tanpa jejak, ada juga yang ditemukan sudah menjadi mayat. 

Cerita dari para pejalan kaki yang lewat di depan rumah adik ipar tempat kami mengungsi, mereka kehilangan rumah, sedangkan harta benda hanyut disapu banjir.

Pada hari kedua dan ketiga banyak  santri  dan ustaz dari beberapa pesantren wilayah barat yang berjalan kaki menuju arah timur. Perjalanan mereka sudah hampir dua hari dua malam. Mereka makan  dan minum dari belas kasih orang-orang di jalan.

Rumah tempat kami mengungsi berada di sisi jalan nasional Banda Aceh-Medan sehingga ramai pejalan kaki, mobil pribadi, bus, truk  dan berbagai kendaraan roda dua melintas dan parkir di sisi jalan.

Banjir bandang dan lumpur yang terjadi telah melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, terutama perekonomian Masyarakat. Salah satunya akibat putusnya Jembatan Kutablang sebagai penghubung jalan nasional Banda Aceh-Medan yang berada di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, menyebabkan pasokan logistik terhambat.

Pada hari Jumat yang lalu kami untuk pertama kali melakukan perjalanan menuju Kota Lhokseumawe untuk menjemput anak keponakan yang sekolah di SMA Modal Bangsa Arun. Kami bergerak  pada pukul 06.00 WIB, tiba di Gampong Lhok Nga hampir di ujung jembatan pukul 06.15 WIB menunggu antrean. Sudah hampir setengah jam menunggu, datanglah seorang petugas pengawas pembangunan jembatan menyampaikan informasi bahwa jembatan belum dapat digunakan, sebaiknya putar balik menuju Jembatan Awe Geutah. Jembatan ini rusak juga diterjang banjir bandang, tapi paling cepat disambung dengan jembatan bailey, sehingga segera dapat dilalui saat jembatan lain yang rusak belum bisa dilalui.

Kami kecewa karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Kami pun putar balik menuju Matangglupang Dua dengan jarak tempuh 15 menit, lalu mengambil jalur kiri melalui jalan kampus Universitas Almuslim menuju Keude Asan, melewati Gampong Kreung Beukah, daerah yang parah diterjang banjir bandang karena berada di sisi Krueng Pante Lhong.  Kemudian, kami  menuju  Gampong Teupin Reduep, Kecamatan Peusangan Selatan, di sisi jalannya dipenuhi tanah timbun yang berasal dari tanah lumpur yang dikeuok dan dipindahkan ke sisi jalan. Kemudian kami berbelok ke jalur kiri menuju Jembatan Awe Geutah.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved