Karst Mata Ie ‘Sakit Parah’, Harus Dipulihkan Agar Mata Air Mengalir Sepanjang Tahun

Mata Ie sebagai sumber air bagi masyarakat di sebagian wilayah Aceh Besar kini mengalami kerusakan ekosistem serius

Karst Mata Ie ‘Sakit Parah’, Harus Dipulihkan Agar Mata Air Mengalir Sepanjang Tahun
Kolase Serambinews.com/EDDY FITRIADI
Aktivis karst yang juga ahli Speleologi (ilmu tentang gua) Aceh, Abdillah Imron Nasution, dan Kolam Mata ie yang merupakan objek wisata pemandian keluarga di Aceh Besar kering kerontang, Minggu (23/7/2017) 

BANDA ACEH - Mata Ie sebagai sumber air bagi masyarakat di sebagian wilayah Aceh Besar kini mengalami kerusakan ekosistem serius, yang mengakibatkan keringnya mata air tersebut. Kondisi kawasan karst yang tengah ‘sakit parah’ tersebut harus segera dipulihkan, agar mata air yang dulunya mengalir sepanjang tahun itu bisa kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.

Harapan itu disampaikan aktivis karst yang juga ahli Speleologi (ilmu tentang gua) Aceh, Abdillah Imron Nasution kepada Serambi, Sabtu (27/7). Dikatakan, kawasan karst berisi gua dan sistem air bawah tanah yang luas, yang berkembang dari batuan larut seperti batu kapur (gamping). “Untuk merehabilitasi lahan karst Mata Ie yang terdegradasi, pemulihan kawasan ini harus dipertimbangkan bersama dengan pengurangan aktivitas manusia di Mata Ie,” ujar Abdillah.

Dia menawarkan solusi berupa strategi terpadu dalam pemulihan kawasan Mata Ie yang berfokus pada tujuh aspek utama. Pertama, perlu dilakukan pencegahan agar vegetasi asli kawasan Mata Ie yang belum mengalami kerusakan tidak terganggu. “Untuk diketahui, bukan hanya kolam Mata Ie sebagai sumber air. Di kawasan ini juga ada mata air pintu air yang sejak tahun 2006 kering. Kawasan ini berhubungan dengan lahan karst Lhoknga, sehingga perlu upaya penyelamatan terpadu,” jelasnya.

Kedua, lanjut Abdillah, pengambilan batu dan kayu wajib dilarang di daerah-daerah yang mengalami degradasi parah. Selanjutnya, untuk penggunaan air diutamakan untuk kebutuhan primer masyarakat dengan mempertimbangkan daya dukung air Mata Ie hingga 20 tahun ke depan. “Keempat, peraturan, tanda peringatan, dan sanksi wajib dilaksanakan sesegera mungkin untuk mendorong kepatuhan,” katanya lagi.

Abdillah juga menyarankan agar lahan Mata Ie yang miring lebih dari 25 derajat itu dialihkan untuk kehutanan dengan penanaman pohon berbuah, yang ditanam di beberapa daerah yang terindikasi adanya sinkhole atau aliran air perguaan. “Lahan dengan kemiringan lebih dari 25 derajat diketahui sebagai daerah yang berpotensi merevitalisasi air,” sebut dia.

Keenam, lereng bukit dibuat bertingkat-tingkat untuk mempertahankan kelembaban dan memperluas water catchment area atau wilayah tangkapan air. “Ketujuh, water catchment alami dibangun dengan mempertimbangkan jaringan 12 sistem perguaan di Mata Ie, untuk mengumpulkan curah hujan dan menyediakan air tambahan,” timpalnya.

Abdillah Imron Nasution yang juga Direktur Karst Aceh itu menambahkan, Mata Ie yang dulunya mata air tipe yang mengalir sepanjang tahun (perineal) kini telah mengalami kerusakan total, sehingga berubah menjadi mata air yang tergantung hujan (intermitten). “Fungsi Mata Ie saat ini hanya sebagai penampung temporer,” ungkapnya.

Dijelaskan, wilayah pegunungan Mata Ie adalah kawasan karst yang jenis lanskapnya terbentuk di bawah kombinasi spesifik kondisi geologi, curah hujan, dan suhu. “Daerah karst selalu terancam hancur atau musnah oleh penurunan kualitas dan kuantitas air oleh karena ekploitasi yang merubah bentuk lahan,” demikian Abdillah.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved