Rabu, 29 April 2026

Berita Aceh Selatan

Proyek tak Sesuai Usulan, Masyarakat Sampaikan Protes melalui Formak

Pembangunan tanggul pengaman pantai di Gampong Lhok Pawoh, Kecamatan Sawang dan tanggul pengendalian banjir Krueng Keumumu, diprotes warga.

Penulis: Taufik Zass | Editor: Taufik Hidayat
For Serambinews.com
Ketua Formak, Ali Zamzami 

Laporan Taufik Zass | Aceh Selatan

SERAMBINEWS.COM, TAPAKTUAN - Pembangunan tanggul pengaman pantai di Gampong Lhok Pawoh, Kecamatan Sawang dan tanggul pengendalian banjir Krueng Keumumu, Kecamatan Labuhanhaji Timur, Kabupaten Aceh Selatan, menuai protes warga setempat.

"Pasalnya, penempatan bangunan fisik kedua proyek tersebut dinilai tidak sesuai usulan. Realisasinya belum menjawab persoalan yang terjadi," kata Ketua Forum Pemantau dan Kajian Kebijakan Aceh Selatan (Formak) Ali Zamzami, kepada Serambinews.com, Sabtu (3/8/2019).

Diungkapkannya, pembangunan tanggul pengendalian banjir sungai Krueng Keumumu Labuhanhaji Timur itu, dalam proposal yang diajukan, menginginkan tanggul dibangun pada kedua sisi sungai dan yang lebih diutamakan pada sisi sebelah timur.

Karena sisi ini yang paling sering jadi sasaran hantaman arus air karena berada pada titik tikungan sungai.

"Selama ini tebing sungai sebelah timur itu sudah banyak tergerus air, bahkan warga terpaksa memindahkan areal pemakaman yang berada persis di pinggir tebing sungai tersebut," ungkap Ali Zamzami.

Selain itu, juga banyak lahan warga yang telah ditelan erosi, dan yang sangat mencemaskan lagi, saat ini tebing pinggir sungai tersebut sudah sangat dekat dengan perumahan masyarakat.

"Bahkan Kantor Keucik dan Kantor Urusan Agama (KUA) hanya tinggal beberapa meter saja dengan sungai," papar Ali Zamzami.

Namun pada realisasinya, semua bangunan tanggul dikerjakan pada sisi barat sungai.

Kondisi tersebut memantik protes dari masyarakat terhadap pengerjaan proyek di bawah Dinas Pengairan Aceh senilai hampir Rp 5 miliar itu.

Demikian juga terkait pembangunan tanggul pengaman pantai di Gampong Lhok Pawoh Kecamatan Sawang, yang saat ini juga sedang dikerjakan dengan nilai Rp 3,4 miliar lebih.

“Proyek itu juga menuai protes warga, karena pembangunan tanggul tersebut tidak sampai ke pantai dibelakang rumah warga yang selama ini kena abrasi," papar Ali Zamzami.

Baca: Aurel Disuruh Makan Kulit Jeruk dan Push-up Tangan Dikepal Selama Latihan Jadi Anggota Paskibraka

Baca: 5 Fakta Terbaru Gempa Banten yang Berpotensi Tsunami, Tak Cuma Dirasakan di Satu Daerah

Baca: VIDEO - Aksi Solidaritas Terkait Kekerasan Pers, Polisi Diminta Usut Pembakaran Rumah Wartawan

Menurutnya, warga kecewa dan merasa pembangunan tersebut tidak mempertimbangkan nasib mereka yang sedang terancam oleh abrasi pantai.

Karena pembangunan tanggul sekitar 300 meter lebih itu tidak diprioritaskan untuk melindungi mereka, tapi malah diutamakan membangun di titik yang lebih aman dari ancaman gelombang dan abrasi.

"Padahal jika pengambil kebijakan sedikit saja lebih bijak ketika MC Nol proyek tersebut dengan menggeser titik nol sekitar 100 meter dari yang dipatok sekarang, rumah warga dapat terlindungi oleh tanggul pengaman tersebut," pungkas Ali Zamzami.(*)

Baca: BREAKING NEWS - Innalillahiwainnailaihirajiun, Sutradara Film Eumpang Breuh Ayah Doe Meninggal Dunia

Baca: Giok Aceh Dipasarkan ke Cina dan Hong Kong

Baca: VIDEO - Dilengkapi 32 Perintah Suara, Wuling Almaz Kini Memiliki 7 Seat

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved