Kisah Inspiratif
Cut Ernita, dari Rimba hingga Pendapa
Cut Ernita SE (37) adalah satu dari sejumlah istri pejabat Aceh yang pernah menghadapi masa-masa sulit ketika konflik melanda
CUT Ernita SE (37) adalah satu dari sejumlah istri pejabat Aceh yang pernah menghadapi masa-masa sulit ketika konflik melanda.
Resiko hidup dia tempuh kala memutuskan menikah dengan Suaidi Yahya pada tahun 2000.
Kala itu, Suaidi Yahya merupakan Biro Penerangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Pase.
Sehingga bulan madu bagi mereka pun berlangsung dari satu hutan ke hutan lainnya, di Aceh Utara dan sekitarnya.
Seiring damai bersemi di Aceh, sejak tahun 2012 lalu, perjuangan Cut Ernita berubah dengan berbagai kesibukan sebagai istri wali kota.
Tidak lagi hanya sekedar menemani sang suami berjuang, Cut Ernita harus pandai membagi waktu, mengurus suami dan anak, sekaligus menjadi pembina kaum perempuan di kota yang pernah berjuluk “Petro Dollar” ini.
Cut Ernita, perempuan kelahiran 22 Juni 1982 di Ulee Blang Mane, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, telah melalui peran itu selama satu periode (2012-2017).
Kini ia sedang melanjutkan pengabdiannya pada periode kedua (2017-2021).
Baca: Wali Kota Minta Game PUBG Diblokir, Kirim Surat Resmi untuk Telkom
Baca: Viral Video Kakek Diikat Sarung dan Didorong Sejumlah Pemuda, Polisi Kejar Pelaku
Ditemui Serambi di Guest House Kota Lhokseumawe, Sabtu (10/8) malam, Cut Ernita bersama suaminya Suaidi Yahya sedang asyik bercanda ria dengan enam anak mereka.
Ernita memanjakan mereka dengan gerakan dan ucapan seorang ibu.
Ernita bercerita, dia berkenalan dengan sosok Suaidi Yahya pada tahun 1999. Karena rasa cinta, dia bersedia dinikahi putra Meunasah Mee Kandang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe tersebut.
Tentunya siap dengan segala resiko.
Pada Agustus 2000, keduanya sepakat menikah.
Meski masih dalam kondisi konflik dan Suaidi Yahya saat itu merupakan tokoh GAM Pase, mereka tetap menggelar pesta di rumah Cut Ernita.
"Namun pesta berlangsung cepat. Nikah, dipeusijuek, dan foto-foto dengan pakaian adat Aceh saja. Setelah itu Tgk Edi (Suaidi Yahya) langsung pergi lagi," katanya mengenang.
Mulai saat itu, Cut Ernita menemani hidup Suaidi Yahya.
Mereka pindah satu lokasi ke lokasi lainnya dalam upaya menghindari pengejaran pihak keamanan.
Namun dia tetap merasa bahagia bisa menemani sang suami.
Walau tak jarang dia harus dihantui rasa takut yang luar biasa kala tempat persembunyian mereka dikepung aparat keamanan.
Tapi semua ini bisa dilalui hingga lahirnya perdamaian antara RI dan GAM pada 15 Agustus 2005 lalu.
Baca: Kivlan Zen Gugat Wiranto, Dinilai Lakukan Perbuatan Melawan Hukum karena Hal Ini
Baca: Isak Tangis di Rumah Nelayan Hilang, Syarifuddin Tinggalkan Istri Tengah Hamil Lima Bulan
Setelah damai bersemi, kehidupan mereka pun mulai normal.
Mereka mengontrak sebuah rumah di pinggir jalan Medan-Banda Aceh, di kawasan Kandang, Lhokseumawe.
Suaminya kala itu menjadi anggota Aceh Monitoring Mission (AMM) perwakilan GAM untuk wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe.
Saat itu, dia berperan dengan maksimal selaku seorang istri, termasuk memasak, terutama masakan khas Aceh, mulai asam keueng hingga kuah pliek.
"Tapi Tgk Edi tidak pernah menentukan apa yang saya masak. Mau apapun yang saya masak, tetap dimakannya. Hingga sekarang, walau sudah menjadi istri wali kota, saya juga sesekali tetap memasak," katanya.
Status sebagai istri wali kota tak membuat Ernita sombong. Ia tetap ramah dengan siapa saja.
Begitu juga dia tetap bisa memprioritaskan waktunya untuk menjadi sosok ibu bagi anak-anaknya.
Hari-harinya sangat padat, karena selain sebagai istri dan ibu, Cut Ernita juga menjabat Ketua PKK Lhokseumawe, Ketua Dekranasda Lhokseumawe, Ibu PAUD Lhokseumawe, hingga menjadi pimpinan Sanggar Pocut Meurah Insen.
Namun berkat kepandaian dia membagi waktu, semua tugas dapat dilalui.
Bahkan ia sedang menempuh kuliah untuk meraih gelar MAP di Pascasarjana Universitas Malikusaaleh.
Dia juga membeberkan kalau sosok suaminya sangat wibawa dan bijaksana.
Tidak pernah membawa persoalan perkerjaan ke rumah.
"Tgk Edi tidak pernah menceritakan apapun tentang pekerjaan kepada saya. Tapi sebaliknya saya selalu menanyakan saran-saran beliau tentang pekerjaan saya dan selalu diberikan solusi yang bijaksana," katanya.
Kini masih ada sekitar tiga tahun lagi suaminya menjadi Wali Kota Lhokseumawe, sehingga dia mengharapkan seluruh masyarakat bisa memberi dukungan dalam upaya membangun Kota Lhokseumawe.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/cut-ernita-se.jpg)