Jurnalisme Warga
Indahnya Sunset Pantai Kuala Raja Bireuen
BIREUEN merupakan salah satu kawasan yang sangat strategis karena berada di persimpangan dari Banda Aceh menuju Aceh Utara
OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen
BIREUEN merupakan salah satu kawasan yang sangat strategis karena berada di persimpangan dari Banda Aceh menuju Aceh Utara hingga Medan. Juga berada di persimpangan menuju kawasan Dataran Tinggi Gayo. Itu sebab Bireuen dijuluki “daerah segitiga emas ekonomi Aceh”.
Kabupaten yang mekar dari kabupaten induknya, Aceh Utara, ini juga merupakan daerah yang pertama kali di Aceh melaksanakan hukuman (uqubat) cambuk tahun 2005, saat pemerintahan provinsi dipimpin Azwar Abubakar dan daerah dipimpin Mustafa A Geulanggang dan Amiruddin Idris. Saat itu berbagai media meliputnya dan seluruh mata dunia tertuju ke Bireuen.
Jauh sebelumnya, Bireuen juga dikenal sebagai basis pertahanan dan perjuangan saat perebutan kemerdekaan dari penjajah. Presiden Soekarno pernah hadir ke Bireuen. Buktinya dapat kita lihat di salah satu kamar di Pendopo Bupati Bireuen, tertera nama Presiden Soekarno. Di kamar itulah Bung Karno pernah menginap.
Hari ini Bireuen dijuluki sebagai “Kota Juang”, bahkan di Bireuen ada nama kecamatan tempat Kota Bireuen berada, yaitu Kecamatan “Kota Juang”.
Beranjak dari semangat perjuangan, Bireuen terus berbenah diri, berbagai sektor penggerak ekonomi masyarakat menjadi perhatian pemerintah. Di antaranya wisata kuliner dan wisata pantai. Banyak pantai indah yang menjadi primadona di Bireuen. Yang paling dekat dengan Kota Bireuen adalah pantai Ujong Blang dan Kuala Raja.
Setelah menikmati meriahnya karnaval budaya anak-anak dalam rangka HUT Ke-74 RI di Bireuen, sorenya saya bawa rombongan wisatawan, yakni mahasiswa Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang ke pantai. Kedatangan mereka dalam rangka implementasi perjanjian kerja sama pertukaran mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen dan Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, Pertukaran mahasiswa ini sudah berlangsung tiga tahun. Ini angkatan ketiga.
Mahasiswa Jepang terdiri atas 16 orang dan satu orang profesor sebagai pendamping. Dengan menggunakan dua mobil, rombongan menuju arah utara Bireuen, yaitu Pantai Kuala Raja. Pantai ini terletak di bibir Selat Malaka, tepatnya Desa Kuala Raja, Kecamatan Kuala. Sepanjang perjalanan, saya dan rekan satu rombongan--didampingi mahasiswa Umuslim yang pernah kuliah di NGU Jepang sebagai penerjemah--bercerita tentang Bireuen dan wisata alam kepada tamu asing tersebut dengan mengendari mobil perlahan dan membuka jendela agar mereka dapat menikmati pemandangan dari dalam mobil. Belaian angin laut yang sepoi mengiringi perjalanan kami melewati perkampungan penduduk dan tambak masyarakat.
Anak-anak Jepang itu sepanjang perjalanan sampai memasuki arah laut bersorak gembira ketika melihat bangau putih (burung kuntul) terbang membentuk formasi, seakan melambaikan sayapnya kepada mereka yang baru pertama mengunjungi pantai eksotik itu.
Sampai di bibir Kuala Raja, semarak peringatan HUT K-74 Kemerdekaan Republik Indonesia masih terasa. Berbagai umbul-umbul dan bendera Merah Putih terus berkibar mengikuti embusan angin pantai yang melambai kencang.
Suasana semakin meriah ketika kami makin dekat ke bibir pantai. Mereka mulai riuh dan gembira seiring riuhnya suara ombak yang terus menerjang. Sambil bercakap dalam bahasa Jepang, mereka tampak sangat senang, bahkan ada yang terpesona melihat banyaknya kipas dan payung warna-warni menari-nari oleh embusan angin laut di pantai ini.
Pantai Kuala Raja memang memesona. Saat kami datang ombaknya tergolong tidak tinggi sehingga nyaman untuk mandi. Dikelilingi pepohonan cemara yang rimbun serta memiliki tempat bermain anak, lokasi ini cocok menjadi tempat wisata keluarga. Bagi pengunjung yang hobi memancing juga ada spot yang layak di pantai ini, sambil bersantai menikmati deburan ombak dan kicau burung camar.
Pengelola pantai juga sangat memanjakan pengunjung dengan menyediakan berbagai kuliner. Kita juga dapat order sesuai selera. Tempatnya tersedia alas lesehan atau kursi di tepi pantai. Kami memilih duduk lesehan sambil menikmati mi dan rujak Aceh plus air kelapa muda. Hmm, amboi segarnya.
Kebetulan salah seorang di antara rombongan kami ada yang membawa ayam untuk dibakar. Para tamu dari Jepang juga ikut membantu memanggang ayam setelah disembelih secara syar’i, kemudian kami nikmati bersama dalam suasana penuh keakraban.
Penampilan mahasiswa Jepang, baik kulit, wajah, dan pakaiannya memang sangat berbeda dengan wisatawan lokal sehingga mereka menjadi pusat perhatian. Banyak di antara wisatawan lokal yang mengajak mahasiswa-mahasiswi asal Jepang itu foto bersama atau hanya sekadar say hello.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-kepala-biro-umum-universitas-almuslim_20180419_101750.jpg)