Inikah Sosok Pewakaf Baitul Asyi?

Terlepas berbagai misteri yang melingkupinya, jamaah Haji Aceh tahun ini sudah menerima dana wakaf sebesar 1.200 riyal atau Rp 4,8 juta

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/FERIZAL HASAN
Lukisan Habib Abdurrahman Bin Alwi Al-Habsyi (kiri) dan makamnya di Pulo Pisang, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Minggu (4/8/2019) 

Laporan Kamaruzzaman | Sigli

SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Sore itu suasana makam Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi tampak sepi.

Berbeda dengan hari-hari lain, tidak ada seorang pun peziarah saat dikunjungi wartawan pada Minggu (4/8/2019) sore itu.

Menurut warga sekitar, lazimnya makam tersebut banyak diziarahi pada hari Senin, Kamis, dan Jumat.

Kini, kompleks makam yang terletak di Pulo Pisang, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, itu sudah direnovasi.

Halaman kompleks sudah dipasang paving blok. Lantai makam bahkan sudah dipasang granit. Pintu gerbang pun sudah dibuat mentereng.

Baca: TNI dan Pelajar Bersihkan Makam Habib Bugak

Di pintu gerbang terdapat tulisan, "Habib Bugak Aceh". Lalu, ditempel pula sebuah lukisan sosok Habib Bugak.

Di bawahnya ada penjelasan tentang makam yang telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Benarkah ini sosok Habib bin Bugak pewakaf Baitul Asyi? Wallahu'aklam.

Terlepas berbagai misteri yang melingkupinya, jamaah Haji Aceh tahun ini sudah menerima dana wakaf sebesar 1.200 riyal atau Rp 4,8 juta.

Dana ini hasil pengelolaan harta wakaf Habib, yang antara lain berupa sejumlah hotel di kawasan Masjidil Haram, seperti Hotel Elaf Masyair, hotel bintang lima berjarak 250 meter dari masjidil haram.

Ada pula hotel Ramada, hotel bintang lima di wilayah Ajiyad Mushafi dengan kapasitas 1.800 kamar.

Pengelolaan wakaf ini sangat produktif. Namun, hingga kini masih menimbulkan kontroversi sosok dermawan yang mewakafkan hartanya sejak dua abad silam itu.

Menurut dokumen ikrar wakaf yang fotokopinya dimiliki Serambinews.com, Ikrar tersebut diucapkan Habib di hadapan Hakim Mahkamah Syar'iyah Mekkah pada waktu itu.

Baca: ‘Baitul Asyi’ Wakaf Habib Bugak di Mekkah

Kolase foto dua hotel di atas tanah wakaf Habib Bugak di Mekkah, Arab Saudi, lukisan Habib Bugak, dan surat wakaf
Kolase foto dua hotel di atas tanah wakaf Habib Bugak di Mekkah, Arab Saudi, lukisan Habib Bugak, dan surat wakaf (Kolase Serambinews.com/net)

Jika melihat surat ikrar, tertulis pewakafnya adalah Haji Habib bin Buja' Al Asyi Al Jawi pada 1224 Hijriah (1809 Masehi) atau tepatnya 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H.

Ikrar tersebut diucapkan Habib di hadapan Hakim Mahkamah Syar'iyah Mekkah.

Ada yang menafsirkan dermawan tersebut adalah Habib Abdurrahman Bin Alwi Al-Habsyi, yang kuburannya kini terdapat di Pulo Pisang, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen.

Namun, ada juga yang tak sependapat. Kelompok yang kedua ini berpendapat sang pewakaf bernama Habib, sedangkan sang ayah bernama Buja' atau Bugak, seperti tertulis dalam ikrar wakaf.

Ini artinya, tidak ada hubungan sang pewakaf, Habib bin buja', dengan Habib Abdurrahman bin Alwi.

Baca: Pahami Baik-baik, Begini Bunyi Ikrar Wakaf Habib Bugak Aceh di Mekah Ratusan Tahun Lalu

Habib bin Buja’ yang tercantum dalam ikrar wakaf dianggap nama yang sebenarnya, mengingat seorang pewakaf tidak boleh mencantumkan nama lakab atau panggilan.

Di sisi lain, Habib Abdurrahman bin Alwi Alhabsyi juga bukanlah sosok biasa.

Ulama ini punya karamah, bahkan dalam sejumlah manuskrip digambarkan kemampuannya menundukkan binatang seperti tikus yang memakan tanaman padi.

Banyak kelebihan lain Habib ini yang tak mungkin disebutkan satu per satu.

Nah, terlepas berbagai kontroversi, sang pewakaf diyakini tidak berniat mempublikasikan jati dirinya secara lengkap.

Boleh jadi akan berkurang pahala dari harta yang diwakafkan. Boleh jadi juga agar anak-cucu tidak merebut harta warisan.

Baca: Peneliti: Belum Ada Bukti Kuburan Habib Bugak di Pante Sidom

Elaf Al Mashaer dan Ramada, dua hotel yang berdiri di atas tanah wakaf ulama asal Aceh, Habib Bugak Al-Asyi, di dekat Masjidil Haram, Mekkah.
Elaf Al Mashaer dan Ramada, dua hotel yang berdiri di atas tanah wakaf ulama asal Aceh, Habib Bugak Al-Asyi, di dekat Masjidil Haram, Mekkah. (Kolase Serambinews.com/ist)

Bagaimana pun, jamaah haji Aceh patut berbahagia, sebagaimana disampaikan Nazir Wakaf Baitul Asyi, Syeikh Abdullatif Baltou, saat pembagian dana wakaf.

"Harta wakaf ini tak akan pernah terputus. Selamanya, selama masih di dunia sampai hari kiamat," kata Syeikh Baltou di Hotel Jamaah haji Aceh, kawasan Syisyah.

Sejak diwakafkan pada 1809 masehi, baitul asyi itu telah dijadikan tempat persinggahan warga Aceh yang naik haji dan belajar ilmu agama di Saudi.

Tgk Chik Di Tiro atau Tgk Muhammad Saman diperkirakan pernah menginap di rumah ini, sebelum perang Aceh meletus pada 1873.

Banyak pula ulama Aceh lain yang diperkirakan pernah tinggal di baitul asyi.

Baca: Peran Habib Bugak di Kerajaan Aceh

Seperti tertulis di surat ikrar yang kini sudah diterjemahkan oleh Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), wakaf ini diperuntukkan bagi jamaah haji asal Aceh yang tinggal di Mekkah Al-Musyafrrafah.

Jika orang-orang Aceh yang tinggal di Mekkah tidak ada lagi dan para jamaah haji dari Aceh tidak datang lagi, maka diwakafkan untuk para penuntut ilmu dari Jawi yang tinggal di Makkah Al-Musyarrafah.

Jika mereka golongan di atas semua tidak ada lagi, maka diwakafkan kepada para penuntut ilmu dari penduduk Mekkah yang bermazhab Syafii.

"Jika semua mereka sudah tidak ada lagi, maka diwakafkan untuk berbagai kepentingan masjidil haram," begitu bunyi ikrar wakaf yang disahkan oleh Qadhi Makkah Al-Musyarrafah, Syaikh 'Abdul Hafizh bin Darwisy Al-'Ujaimi pada 18 Rabiul Akhir 1224 Hijriah.

Sedangkan harta yang diwakafkan adalah, "Keseluruhan sebuah rumah besar yang berada di Mekkah Al-Musyarrafah di gang Al-Qusyasyiah, yang meliputi ruang-ruang bangunan di atas dan bawah."(*)

Baca: Danrem 011/LW Kunjungi Makam Habib Bugak

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved