Berita Aceh Utara

Ibu Rumah Tangga Selamatkan Kukang Berlumuran Darah, Tangan dan Kaki Kiri Putus, Begini Kondisinya

Bulunya yang lembut dan lebat kecoklatan sudah dibasahi darah segar yang dari kaki dan tangan yang tak utuh lagi

Ibu Rumah Tangga Selamatkan Kukang Berlumuran Darah, Tangan dan Kaki Kiri Putus, Begini Kondisinya
SERAMBINEWS.COM/JAFARUDDIN
Kukang yang diselamatkan seorang ibu rumah tangga kini sudah diamankan Resor II Aceh Utara Seksi Konservasi Wilayah Lhokseumawe BKSDA Aceh. Foto direkam, Selasa (27/8/2019). 

Laporan Jafaruddin | Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Seekor kukang jantan ditemukan berlumuran darah oleh seorang ibu rumah tangga (IRT) Ipah, warga kawasan Ujong Blang Kecamatan Banda Sakti Lhokseumawe.

Matanya mengerjap-ngerjap, menahan sakit pada bagian tangan dan kaki kirinya, sudah putus, diduga dimangsa binatang lain.

Bulunya yang lembut dan lebat kecoklatan sudah dibasahi darah segar yang dari kaki dan tangan yang tak utuh lagi.

Perempuan tersebut, tak tega melihat kondisi binatang pemakan serangga tersebut.

Karena itu, ia berusaha mencari dokter hewan di Lhokseumawe untuk mengobati hewan tersebut.

Tujunnya agar hidup dan bisa dilepaskan kembali oleh pihak yang berwenang ke alam bebas.

Baca: Sederet Fakta Ayah dan Anak Terbakar Dalam Mobil, Istri Muda Sewa Pembunuh Bayaran hingga Motifnya

Akhirnya setelah beberapa orang dihubungi, Ipah menemukan dokter hewan di kawasan Lhokseumawe yang siap mengobati satwa yang dilindungi tersebut.

Setelah sekitar dua pekan mendapat perawatan, kondisi binatang mungil tersebut mulai membaik.

Perempuan penyayang binatang tersebut akhirnya menyerahkan hewan dijuluki “pemalu’ itu ke Resor 11 Aceh Utara Seksi konservasi Wilayah 1 Lhokseumawe Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Ia menanggung semua biaya pengobatan hewan tersebut.

“Kondisinya sekarang sudah membaik jika dibandingkan sebelumnya, menurut cerita warga yang menemukannya,” ujar Kepala Resor II Aceh Utara Seksi Konservasi Wilayah Lhokseumawe M Hasan melalui stafnya, Nurdin kepada Serambinews.com, Selasa (27/8/2019).

Baca: Inikah Sosok Pewakaf Baitul Asyi?

Menurut Nurdin, luka pada bagian kaki dan tangan kiri kukang sudah mulai membaik.

Namun, proses penyembuhan, binatang tersebut akan dikembalikan ke alam liar.

Karena proses penyembuhan akan lebih cepat, dibandingkan dirawat manusia.

“Informasi yang kami terima wanita yang menemukan binatang tersebut adalah Ipah.

Wanita tersebut menanggung biaya pengobatan binatang itu. Karena itu kita sangat berterimakasih sudah menjaga satwa yang dilindungi ini,” ujar Nurdin.

Ketika diperlihatkan di sebuah warung kopi di Lhokseumawe, kondisi hewan mungil ini mulai bereaksi lagi ketika didekatkan hendak disentuh.

Bahkan, binatang tersebut menyembunyikan mukanya ketika banyak warga yang melototinya.

“Dalam waktu dekat akan kita kembalikan ke alam lagi, kita lihat nanti di dimana tempatnya,” pungkas Nurdin.

Baca: Ketua KPK Sebut Setiap Pemerintah Harus Terapkan Sistem Ini dalam Penganggaran

 Binatang yang dilindungi

Seperti dikutip dari Wikipedia, Kukang —kadang-kadang disebut pula malu-malu— adalah jenis primata yang gerakannya lambat.

Warna rambutnya beragam, dari kelabu keputihan, kecoklatan, hingga kehitam-hitaman.

Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari belakang hingga dahi, lalu bercabang ke dasar telinga dan mata.

Berat tubuhnya berkisar antara 0,375-0,9 kg, dan panjang tubuh hewan dewasa sekitar 19–30 cm.

Dari delapan spesies kukang yang masih ada, enam di antaranya dapat ditemukan di Indonesia, yakni di pulau-pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

Baca: Dihantam Avanza, Perawat Aceh Jaya Meninggal Dunia

Kukang (Nycticebus spp.) memiliki penampilan yang lucu dan menggemaskan sehingga banyak masyarakat umum yang gemar menjadikan primata ini sebagai hewan peliharaan.

Karenanya, semua jenis kukang ini telah terancam oleh kepunahan.

Kukang telah dilindungi oleh hukum Indonesia, sehingga memperdagangkannya tergolong melanggar hukum (ilegal) dan kriminal.

Kukang adalah primata bertubuh kecil, kekar, dan berekor sangat pendek.

Kepalanya bulat, moncongnya meruncing, dan matanya besar.

Rambut tubuhnya halus dan lebat. Pola warnanya berbeda-beda menurut spesies —sehingga digunakan pula untuk identifikasi, namun umumnya bervariasi dari cokelat kelabu pucat hingga warna tengguli.

Baca: 30 Anggota DPRK Aceh Tamiang Terpilih Dihadiahi Dua Mayam Pin Emas, Setara 5 Rp Juta

Sebuah garis cokelat berjalan dari ubun-ubun hingga tengah punggung atau pangkal ekor.

Biasanya terdapat lingkaran gelap yang mengelilingi kedua mata, diseling oleh jalur pucat atau putih yang membujur di antara kedua mata hingga ke dahinya.

Di malam hari, matanya memantulkan cahaya obor dengan jelas.

Kukang memanjat dan bergerak di antara ranting dan cabang pohon dengan perlahan-lahan dan hati-hati; hampir tidak pernah melompat.

Tangan dan kakinya hampir sama panjang; serta cukup panjang sehingga kukang dapat merentangkan tubuhnya dan berputar untuk meraih ranting yang bertetangga.

Tangan dan kaki itu telah mengalami adaptasi sedemikian rupa, sehingga mampu memegang erat rerantingan dalam jangka waktu cukup lama tanpa membuat kukang kelelahan.

Gigitan kukang dikenal berbisa; suatu kemampuan yang jarang terdapat di kalangan mamalia namun khas pada kelompok primata lorisid.

Baca: Mualem Minta Polda Aceh Selesaikan Secara Adil Kasus Pemukulan Azhari Cagee

Bisa tersebut didapat kukang dengan menjilati sejenis kelenjar di lengannya; bisa pada cairan kelenjar itu diaktifkan tatkala bercampur dengan ludah.

Gigitan berbisa itu berguna untuk membuat jera pemangsa, dan juga untuk melindungi bayinya dengan menyapukannya pada rambut tubuh anaknya.

Sekresi kelenjar lengannya terutama mengandung zat semacam alergen yang dihasilkan kucing, yang kemudian diperkuat dengan komposisi kimiawi yang didapat kukang dari makanannya di alam liar.

Pemangsa alami kukang yang tercatat, di antaranya, adalah ular, elang brontok, dan orangutan; meskipun diduga jenis-jenis kucing, musang, dan beruang madu juga turut memangsanya.

Perilaku sosial kukang tidak seberapa diketahui, akan tetapi hewan ini salah satunya berkomunikasi lewat bau yang ditinggalkannya di tempat-tempat tertentu.

Kukang jantan diketahui memiliki teritori yang dipertahankannya dengan ketat.

Binatang ini lambat bereproduksi; anaknya yang masih kecil kadang kala ditinggalkan di rerantingan atau didukung bergantian oleh kedua induknya.

Kukang bersifat omnivora; memangsa hewan-hewan kecil, buah-buahan, getah pepohonan, serta pelbagai nabat lainnya.(*)

Baca: Terima Kabar Dapat Rumah Bantuan, Janda Tiga Anak Ini Malah Menangis

Penulis: Jafaruddin
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved