Salam

Kita Prihatin, Air Warga Minum Tercemar E coli

Tim Dinas Kesehatan (Dinkes) Bener Meriah memastikan bahwa air alam yang dikonsumsi warga di Kampung Burni Pase, Kecamatan Permata

Kita Prihatin, Air Warga Minum Tercemar E coli
(www.cdc.gov)
Escherichia coli 

Tim Dinas Kesehatan (Dinkes) Bener Meriah memastikan bahwa air alam yang dikonsumsi warga di Kampung Burni Pase, Kecamatan Permata, mengandung bakteri Escherichia coli atau biasa disingkat E coli. Bakteri inilah yang menyebabkan puluhan balita di sana terkapar karena menderita diare. Bupati setempat sudah menetapkan kondisi ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). "Hasil uji laboratorium sampel air yang dikonsumsi masyarakat di sana ternyata positif mengandung E coli atau sudah tercemar," kata Iswahyudi, Kadis Kesehatan kabupaten itu.

Selama bertahun-tahun warga di gampong tersebut menggunakan air gunung untuk konsumsi dengan cara mengalirkan ke rumah-rumah menggunakan selang. Air itulah yang diduga sudah tercemar bakteri E coli mengingat sistem sanitasi warga di sana sangat buruk, terutama kebiasaan membuang air besar tidak di WC atau kakus yang standar.

Harian ini kemarin melaporkan, dalam sepekan lalu, setidaknya ada 16 balita dan dua dewasa warga Burni Pase mengalami diare. Di antara mereka harus diopname karena kondisinya melemah. Empat bayi di bawah lima tahun bahkan harus dirujuk untuk dirawat di RSUD Muyang Kute. Sedangkan jajaran Dinas Kesehatan setempat akan melakukan desinfektan air, yakni membunuh kuman atau bakteri patogen yang ada di dalam air.

Bakteri E coli ada beberapa jenis. Sebagian di antaranya bisa menyebabkan keracunan makanan dan infeksi yang cukup serius. Salah satunya adalah galur bakteri E coli 0157 sebagai jenis yang bisa membahayakan tubuh, seperti mengakibatkan diare bercampur darah, kram perut, dan muntah-muntah.

Para peneliti mengungkapkan, gejala infeksi bakteri E coli muncul tiga sampai empat hari setelah tubuh terkena bakteri. Namun rasa sakit akan muncul satu hari hingga satu minggu setelahnya. Beberapa gejala infeksi bakteri E coli adalah, pertama, perut kram. Kedua, diare dengan tingkat keparahan ringan hingga parah, bahkan berdarah. Ketiga, penderita kehilangan selera makan. Keempat, penderita mual dan muntah. Kelima, penderita mengalami demam dan kelelahan.

Selain itu, penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal mendapatkan data bahwa manusia yang mengonsumsi air tercemar E coli memiliki peningkatan resiko ginjal, fungsi jantung, dan tekanan darah tinggi. Penelitian dari Lawson Health Research Institute dan The University of Western Onta-rio juga menilai bahwa resiko tekanan darah tinggi, gangguan ginjal dan sistem kardiovaskular dapat terjadi dalam waktu delapan tahun sejak mengalami masalah pencernaan atau Gastroenteritis dari air yang terkontaminasi bakteri E coli.

Kembali ke insiden di Bener Mariah. Satu hal menarik yang kita lihat adalah hiruk pikuk pembangunan di salah satu kabupaten dataran tinggi Gayo itu alpa terhadap kebutuhan mendasar masyarakat, yakni sanitasi dan akses terhadap air bersih. Kualitas air alam yang dikonsumsi sebagian masyarakat Bener Meriah ternyata sudah tercemar bakteri E coli yang kemungkinan besar berasal dari kotoran manusia.

Padahal, ketersediaan air bersih merupakan hal mendasar bagi kehidupan setiap orang. Tetapi kelayakannya masih menjadi persoalan sampai saat ini. Selain problem pencemaran, masalah lainnya masih kerap kita hadapi, seperti distribusi air yang belum sistematis, mekanisme penyerapan air, hingga limbah akibat budaya hidup warga yang tidak benar.

Dalam kasus di Kampung Burni Pase, Bener Meriah, kita melihat banyak sekalai “pekerjaan rumah” mendasar pemerintah setempat. Untuk jangka pendek tentu sudah dilakukan penyemprotan disinfektan untuk membunuh bakteri-bakteri berbahaya di lingkungan warga.

Namun, untuk jangka panjang, pemerintah harus membiasakan warga hidup di lingkungan yang bersih. Untuk itu, pemerintah harus membangun jamban-jamban agar warga tidak lagi membuang air besar di sembarang tempat.

Pekerjaan pemerintah selanjutnya adalah memberi akses air bersih untuk dikonsumsi masyarakat. Pertama, menjaga agar sumber air alam yang menjadi air baku tidak tercemar. Kedua, membangun instalasi distribusi air bersih ke rumah-rumah warga agar mereka dapat mengonsumsi air yang tidak tercemar.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved