Opini

Optimisme Aceh Carong

Pada Juni 1997, Kishore Mahbubani, ekonom dan diplomat Singapura hadir di International Conference On Thinking ke-7 di Singapura

Optimisme Aceh Carong
IST
Hanif Sofyan, Pegiat Aceh Baca Initiative Tanjung Selamat, Aceh Besar

Oleh Hanif Sofyan,  Pegiat Aceh Baca Initiative Tanjung Selamat, Aceh Besar

Pada Juni 1997, Kishore Mahbubani, ekonom dan diplomat Singapura hadir di International Conference On Thinking ke-7 di Singapura, dan mempresentasikan gagasannya yang kontroversial, "Bisakah Orang Asia Berpikir?". Kemudian ia juga menerbitkankan esai-nya dalam National Interest pada musim panas 1998. Tentu bukan tanpa dasar Mahbubani mengutarakan argumentasinya tersebut. Di luar dugaannya publikasi ilmiahnya ini tak merangsang orang Asia untuk bereaksi. Reaksi sebaliknya justru muncul dari kalangan Barat, asumsinya bisa jadi karena kemunculan gagasannya tak sesuai momentum atau tidak tepat dalam citarasa politik. Terutama jika orang Asia mempertanyakan pertanyaan mendasar tentang dirinya sendiri atau masa depannya. Argumentasi kritis Mahbubani lainnya, keyakinannya bahwa orang Asia inferior di hadapan Barat, ini bukan perkara kolonisasi fisik, tetapi kolonisasi mental.

Begitupun Joseph Stiglitz, ekonom Bank Dunia menangkap realitas perubahan di Asia dengan optimis dan menuangkannya dalam sebuah artikel di Asian Wall Street Journal. "Keajaiban Asia Timur adalah nyata. Transformasi ekonomi Asia Timur telah menjadi salah satu prestasi luar biasa dalam sejarah. Gelombang yang dramatis yang mencakup harapan hidup lebih lama, kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, dan jutaan orang lainnya telah mengentaskan dirinya dari kemiskinan, dan saat ini mengarah pada kehidupan penuh harapan.

Lantas dimana posisi Indonesia dan Aceh dalam konstelasi besar tersebut? Bagaimana kita memposisikan diri, menjadi bangsa yang tidak hanya membeo, namun juga menciptakan trend baru. Apakah dalam konteks institusi perguruan tinggi, kita akan terus bertahan hanya menjadi "mesin" pencetak sarjana un sich, tanpa membuat perubahan dan menciptakan trend yang bisa menggiring kebijakan untuk memakmurkan Aceh masa depan.

Apakah kita dibebani pertanyaan besar Mahbubani,"bisakah orang Asia berpikir?". Namun modalitas yang menarik, orang Asia berkecenderungan mempertahankan kepribadian Asia-nya, sekalipun belajar tentang Barat. Sehingga realitas yang muncul kemudian adalah sintesis atau sinkretis, berupa pola pikir yang holistik, tidak terkekang oleh batasan.

Basis argumentasi di atas penting dikaji lebih mendalam untuk membangun pondasi baru ketika melakukan sebuah perubahan, reformasi atau bahkan revolusi arah pembangunan pendidikan kita ke depan. Perubahan dan transformasi adalah sebuah keniscayaan bagi perguruan tinggi. Perguruan tinggi berada pada posisi yang dinamis di tengah masyarakat. Kini kita menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0. Revolusi industri adalah titik balik yang mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan manusia, yang ditandai dengan dominasi internet.

Sesungguhnya perubahan era baru itu telah diprediksi John Naisbitt dalam bukunya "8 Megatrend Asia Yang Mengubah Dunia". Salah satunya wujud perubahan trend dari industri padat karya menjadi teknologi canggih. Ketika ekonomi global terus berubah dari abad industri ke abad informasi, kunci produktivitas bukan lagi terletak pada murahnya ongkos tenaga kerja, melainkan pada pemanfaatan teknologi canggih sebaik-baiknya.

Dalam sejarah planet ini, internetlah eksperimen terbesar yang melibatkan anarki. Setiap menit, ratusan juta orang membuat dan menyerap konten digital yang tak terhitung banyaknya, dalam dunia daring (online) yang tidak terikat pada hukum bumi.

Dimana kita?

Kendati kebangkitan perguruan tinggi di Indonesia (termasuk Aceh) dipandang terlambat, namun berada dalam posisi yang relatif kuat memasuki abad informasi dengan berbagai keuntungan; Pertama, memiliki penduduk yang relatif muda (berkah demografi); Kedua, sebagai pendatang yang terlambat dalam pembangunan, Indonesia memiliki kesempatan emas memasang infrastruktur canggih versi terbaru.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved