Opini

Optimisme Aceh Carong

Pada Juni 1997, Kishore Mahbubani, ekonom dan diplomat Singapura hadir di International Conference On Thinking ke-7 di Singapura

Editor: bakri
IST
Hanif Sofyan, Pegiat Aceh Baca Initiative Tanjung Selamat, Aceh Besar 

Gelombang globalisasi yang melanda dunia berbeda dari segi intensitas dan cakupannya. Proses konvergensi yang kita saksikan akibat dari globalisasi dewasa ini praktis menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan (ekonomi, bisnis, budaya, politik, ideologi), termasuk menjamah tataran system, process, actors, dan events. Sehingga wujud strategi, kebijakan, kurikulum pendidikan perguruan tinggi menemukan tantangan yang tak lagi sederhana. Konteks Universitas Era Revolusi Generasi Keempat-enterpreneur university, mendorong tumbuhnya iklim berusaha mandiri dalam format industri kreatif berbasis digital, menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi mengatasi kemiskinan.

Kebutuhan paling urgen adalah ketersediaan basis data yang kuat, kelompok think thank, jejaring (network) dan cetak biru (blueprint) arah kebijakan pendidikan tinggi dalam kerangka jangka pendek, menengah dan panjang berbasis perubahan revolusi industri 4.0 yang mensyaratkan SDM yang bervisi enterpreneurship.

Dalam usianya yang telah dewasa, sejak kelahiran Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, dan kelahiran fakultas pertama di tahun 1959, ekspektasi masyarakat terhadap pendidikan Aceh menjadi semakin besar, terutama dengan gagasan besar Aceh Hebat dan Aceh Carong, Aceh Meuadab. Maka siap tidak siap, kawah candradimuka pendidikan Aceh tersebut harus mampu menanggung konsekuensi, hadir sebagai representasi kemajuan dan perubahan pendidikan dan Aceh Baru yang dinamis. Beranjak dari era Humboldtian menuju Fourth Generation University tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved