Seni

Hotel Atjeh, Sejarah Perjalanan Kesenimanan Perupa Mahdi Abdullah

Mahdi Abdullah merasa heran, sebab kemudian Hotel Atjeh dirubuhkan dengan sengaja dan berencana membangun hotel baru.

Hotel Atjeh, Sejarah Perjalanan Kesenimanan Perupa Mahdi Abdullah
Hand-over dokumen pribadi
Mahdi Abdullah, perupa Aceh bermukim di Yogyakarta 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Hotel Atjeh telah menjadi sejarah perjalanan kesenimanan Mahdi Abdullah, perupa Aceh yang kini bermukim di Yogyakarta.

Dua kali Mahdi Abdullah menggelar pameran tunggal seni rupa di Hotel Atjeh pada 1990 dan 1995. Boleh jadi Mahdi Abdullah, satu-satunya perupa Aceh yang menggelar pameran di hotel tertua itu.

Hotel Atjeh menyimpan sejarah hebat perjalanan bangsa ini. Di sanalah Presiden Sokarno menumpahkan tangisan kepada Daud Beureueh, saat kunjungan pertengahan bulan Juni 1948.

Di hotel itu pula, Presiden pertama RI itu minta rakyat Aceh mengumpulkan bantuan untuk pembelian pesawat udara, yang kelak diberikan Seulawah RI 001 dan menjadi cikal bakal Garuda Indonesia.

"Hotel Atjeh ini menjadi sejarah kesenimananku bersama Ampon Man dan keluarga besarnya yang telah membantu memberi penginapan selama enam bulan untuk mempersiapakan acara membangun seni rupa Aceh dengan kawan-kawan seniman lain, seperti Fikar W Eda, Mas Kirbi, Yenk, Wiratmadinata, Azwar Abubakar dan tim konsultannya. Teurimonggaseh jaro 10 ateuh jeumala Man!" ujar Mahdi Abdullah, kepada pria yang dipanggilnya Ampon Man alias Lukman.

Memilih Hotel Atjeh sebagai tempat pameran sebagai bentuk pernyataan kemandirian, bahwa dirinya berkreasi tidak tergantung kepada fasilitas pemerintah.

"Aku ingin tunjukkan pada seniman-seniman lain bahwa berkesenian itu oleh seniman, bukan oleh pemerintah. Makanya aku selalu mencari tempat yang bisa dijadikan space seni untuk melaksanakan hajatan pameran ini," ujar Mahdi mengenai alasannya berpameran di Hotel Atjeh.

Kemandirian dan semangat ini terus ditularkan Mahdi pada periode berikutnya, dengan menggelar pameran di Episentrum Ulee Kareng, dan Kantor PAN Aceh.

Mahdi Abdullah merasa heran, sebab kemudian Hotel Atjeh dirubuhkan dengan sengaja dan berencana membangun hotel baru.

"Ini aneh, sengaja dirubuhkan, lalu dibuat tulisan haritage di sana. Saya tidak mengerti ini maksudnya apa dan ambisi siapa," kata Mahdi Abdullah.(*)

Baca: Menteri Keuangan Sri Mulyani Serahkan Penghargaan Juara Kesatu Kepada BPKS

Baca: 10 Tanda Tubuh Dipenuhi Racun, Bau Badan hingga Rambut Rontok, Kamu Mengalaminya?

Baca: Suami tak Pulang Setahun Lebih, Wanita Glumpang Tiga-Pidie Pasok Lajang ke Rumah

Baca: 18 Tahun Tragedi 9/11: AS Terus Mengulur Waktu untuk Mengadili Dalang Teror yang Sudah Tertangkap

Baca: Ini Nama dan Identitas Penambang Emas Ilegal Minning Ditangkap di Nagan Raya

Baca: 5 Potret Mochamad Rafiq, Sosok Cucu Habibie yang Jadi Pesepak Bola Nasional

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved