Sastra
Redaktur Seni KOMPAS, Putu Fajar Arcana: Hanya Koran Indonesia yang Punya Halaman Sastra
Seminar tersebut rangkaian Festival Sastra Bengkulu yang digelar Imaji, dihadiri sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Fikar W Eda I Jakarta
SERAMBINEWS COM, JAKARTA - Hanya koran di Indonesia menyediakan halaman yang memuat karya sastra puisi, cerita pendek, atau kritik sastra.
Ini disampaikan Putu Fajar Arcana, Redaktur Seni KOMPAS dalam seminar "Sastra, Generasi Muda dan Tradisi" di Kampus FKIP Universitas Bengkulu, Sabtu (14/9/2019).
Seminar tersebut rangkaian Festival Sastra Bengkulu yang digelar Imaji, dihadiri sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia.
"Beberapa peneliti menyebutkan bahwa kehadiran sastra di koran adalah fenomena unik dan khas Indonesia. Koran-koran umum seperti The New York Times, cuma memuat reportase tentang sastra dan penulis," kata Putu yang akrab dipanggil Bli Can.
Ia menyebutkan, pada terbitan South China Morning Post (Hong Kong), hanya ada seksi khusus buat anak-anak berekspresi lewat puisi dan cerpen.
Baca: Harga Kakao Kering Naik di Putri Betung dalam Sebulan Terakhir
Baca: Bermain Imbang dengan PSLS Lhokseumawe, Persip Pase Gagal Masuk Enam Besar Liga 3
Baca: Kadhi Liar Dilaporkan ke Polisi, Karena Nikahkan Pasangan Masih Miliki Suami dan Istri di Aceh Barat
Majalah-majalah seperti The New Yorker, The Atlantic, The Sun Magazine, dan Granta adalah majalah-majalah segmented, yang memang diterbitkan secara khusus dengan menyasar publik pembaca terbatas.
"Seni dan sastra khususnya, dimuat di situ, karena memang diperuntukkan bagi publik seni dan sastra, dan bukan pembaca secara umum," kata Bli Can.
Fenomena sastra di koran (umum) ini sudah dimulai sejak koran-koran terbit di zaman Hindia Belanda, kira-kira pada akhir abad ke-19.
Waktu itu misalnya ada koran-koran berbahasa Belanda seperti Semarangsch Nieuws en Advertentieblad di Semarang tahun 1852.
Lalu terdapat pula Oospost yang berganti nama menjadi Soerabajaasch Handelsblad tahun 1853. Di Batavia terbit De Java Bode pada tahun yang sama.
Sementara koran-koran berbahasa Melayu terbit Jawa Bromartani (1855), Surat Khabar Melayu (1856), dan Selompret Melayu yang bertahan sampai tahun 1911. Koran-koran ini memuat cerpen dan cerita.
"Sampai sekarang kita ketahui, puluhan koran, terutama pada terbitan Sabtu dan Minggu memuat karya sastra, sebagai bagian dari sajian isi dalam merebut pembaca. Kompas Minggu, memuat cerpen sejak tahun 1967. Walau sempat terhenti selama beberapa tahun, Sejak tahun 1978 cerpen-cerpen di Kompas tidak pernah berhenti. Puisi kemudian menyusul menjadi sajian di hari Minggu, yang kemudian sejak awal Maret bermigrasi di hari Sabtu," ujarnya.
Puluhan koran di berbagai daerah sampai saat ini masih memuat tulisan berupa cerpen, puisi, kritik, dan bahkan cerita bersambung.
Tapi zaman kemudian berubah. Sastra saat ini banyak ditulis di media-media sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sastra-oke.jpg)