Breaking News:

Sastra

Redaktur Seni KOMPAS, Putu Fajar Arcana: Hanya Koran Indonesia yang Punya Halaman Sastra

Seminar tersebut rangkaian Festival Sastra Bengkulu yang digelar Imaji, dihadiri sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia.

SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Redaktur Seni KOMPAS Putu Fajar Arcana menerima buku kumpulan puisi "Perjalanan" diterbitkan Festival Sastra Bengkulu dari Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, Jumat (13/9/2019) malam. 

Laporan Fikar W Eda I Jakarta

SERAMBINEWS COM, JAKARTA - Hanya koran di Indonesia menyediakan halaman yang memuat karya sastra puisi, cerita pendek, atau kritik sastra.

Ini disampaikan Putu Fajar Arcana, Redaktur Seni KOMPAS dalam seminar "Sastra, Generasi Muda dan Tradisi" di Kampus FKIP Universitas Bengkulu, Sabtu (14/9/2019).

Seminar tersebut rangkaian Festival Sastra Bengkulu yang digelar Imaji, dihadiri sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia.

"Beberapa peneliti menyebutkan bahwa kehadiran sastra di koran adalah fenomena unik dan khas Indonesia. Koran-koran umum seperti The New York Times, cuma memuat reportase tentang sastra dan penulis," kata Putu yang akrab dipanggil Bli Can.

Ia menyebutkan, pada terbitan South China Morning Post (Hong Kong), hanya ada seksi khusus buat anak-anak berekspresi lewat puisi dan cerpen.

Baca: Harga Kakao Kering Naik di Putri Betung dalam Sebulan Terakhir

Baca: Bermain Imbang dengan PSLS Lhokseumawe, Persip Pase Gagal Masuk Enam Besar Liga 3

Baca: Kadhi Liar Dilaporkan ke Polisi, Karena Nikahkan Pasangan Masih Miliki Suami dan Istri di Aceh Barat

Majalah-majalah seperti The New Yorker, The Atlantic, The Sun Magazine, dan Granta adalah majalah-majalah segmented, yang memang diterbitkan secara khusus dengan menyasar publik pembaca terbatas.

"Seni dan sastra khususnya, dimuat di situ, karena memang diperuntukkan bagi publik seni dan sastra, dan bukan pembaca secara umum," kata Bli Can.

Fenomena sastra di koran (umum) ini sudah dimulai sejak koran-koran terbit di zaman Hindia Belanda, kira-kira pada akhir abad ke-19.

Waktu itu misalnya ada koran-koran berbahasa Belanda seperti Semarangsch Nieuws en Advertentieblad di Semarang tahun 1852.

Halaman
12
Penulis: Fikar W Eda
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved